Kamis, 27 September 2018

SAYA INDONESIA, SAYA BERBATIK




Tema : Batik lebih baik

Kata `berbatik` kini sudah menjadi ruh warga indonesia terkhusus bagi para ibu rumah tangga. Bagaimana tidak?! Terbukti dengan pakaian sehari-hari para ibu rumah tangga seperti saya, benar-benar lekat dengan batik yang tidak lain berupa daster. Tidak hanya daster yang menemani keseharian bahkan pakaian resmi ber-fashionable  pun kini didominasi batik.

Yup, batik Indonesia kini sudah menjadi bagian yang mendarahdaging dengan budaya. Bahkan United Nations Educational, Scientific, and Culture Organization (UNESCO) menjadikan batik sebagai warisan budaya dunia pada tanggal 2 Oktober 2009 yang hingga kini diperingati sebagai Hari Batik.

Silaturahmi ke rumah orang tua di akhir bulan september ini, membuat saya bernostalgia akan nasehat mamah perihal batik dahulu kala. Keadaan saya yang sudah berkeluarga membuat kami jarang bertemu walau hanya dalam waktu beberapa hari karena kesibukan masing-masing. Namun, silaturahmi merupakan ajang penting dalam keluarga kami untuk terus menumbuhkan rasa sayang antar anggota keluarga. Seperti halnya akhir-akhir ini, kami sekeluarga bersiap menghadiri pernikahan sepupu dan berencana memakai batik.

“Kenapa harus batik?” pertanyaan tersebut sempat saya sampaikan kepada orang tua pada zaman saya duduk di bangku SD kelas 4 ketika itu. Entah mengapa seringkali saya melihat orang berbusanakan batik untuk menghadiri pernikahan. Dan mulai lah mamah memaparkan sejarah batik secara singkat kepada saya ketika itu, terutama Batik Cirebon dan tidak lain adalah BT Batik Trusmi.

Sekilas tentang Batik

Batik, siapa yang tidak mengenalnya? Berbagai kalangan sudah tahu bahkan banyak yang mengenal batik, karena pesona batik baik dari keindahan hingga keberagaman coraknya  mampu menghantarkan bumi pertiwi ke kancah internasional.

Secara etimologi, batik berasal dari dua kata “Amba” (menulis) dan “Titik”. Namun kata batik sendiri sebenarnya mengacu pada dua hal : Pertama, batik adalah teknik pewarnaan kain dengan menggunakan malam untuk mencegah pewarnaan sebagian dari kain. Kedua, batik adalah kain atau busana yang dibuat dengan teknik tersebut, termasuk penggunaan motif-motif tertentu yang memiliki kekhasan. (Wikipedia)

BT Batik Trusmi

 
Gambar 1. Logo Batik Trusmi
                                                  

Batik Trusmi Cirebon mulai ada sejak abad ke 14, suatu daerah dimana saat itu tumbuh banyak tumbuhan kemudian para warga menebang tumbuhan tersebut dan seketika tumbuh kembali sehingga tanah tersebut dinamakan Desa Trusmi yang berasal dari kata `Terus Bersemi`.

Asal mulanya Sultan Kraton menyuruh orang trusmi untuk membuat batik seperti batik miliknya hanya dengan melihat motifnya saja. Saat jatuh tempo, orang trusmi itu kemudian datang kembali dengan membawa batik yang telah dia buat. Ketika itu pula dia meminta kepada Sultan batik yang asli dan dia bungkus keduanya hingga pada akhirnya Sultan pun tidak bisa membedakan keduanya. (batik.or.id)

Kisah diatas benar-benar menjadi sejarah batik sekaligus tonggak kesuksesan BT Batik Trusmi yang kini banyak mendapat penghargaan, tak hanya itu desa Trusmi pun kini resmi menjadi salah satu tempat wisata Cirebon yang banyak dikunjungi masyarakat Indonesia dan Luar negeri.

Gambar 2. Store BT Batik Trusmi
                                                     

Saya Indonesia, saya berbatik

Jangan dikira batik hanya untuk orang yang tinggal di Indonesia saja, adik saya adalah salah satu orang Indonesia yang mendapat kesempatan belajar di Haramain yakni Madinah. Karena nasehat mamah yang selalu kami ingat, “Jangan lupa pakai batik untuk setiap acara formal ataupun non-formal”. Jadilah setiap kami anak-anaknya pasti beliau buatkan baju batik dan bisa dipakai dalam setiap aktivitas kami. Berikut adalah foto adik saya yang kini berada di Negara yang berbeda jarak dan waktu dari kami.

Gambar 3. Rizal Fadlillah Nurhida berbatik (adik saya)

Saya Indonesia, saya berbatik. Saya pun bangga menjadi salah seorang yang dengan tidak langsung turut melestarikan batik. `Saya berbatik` bukan hanya susunan 2 kata tanpa makna, namun `saya berbatik` telah menjadi bagian dalam keseharian dan kehidupan saya. Kini saya pun siap berpartisipasi menyambut Hari Batik Nasional, dengan memakai baju batik kesayangan dengan orang tersayang BTAlways batik

Gambar 4. Saya berbatik

Gambar 5. Orang tua saya pun berbatik

Dan contoh sederhananya bahwa saya turut serta meramaikan Hari Batik Nasional adalah dengan mengikuti lomba Blog yang diadakan oleh BT Batik Trusmi, yang info detailnya bisa kita dapatkan di link bawah ini :


Cintai Indonesia, cintai produk Indonesia dan cintai Batik Trusmi Indonesia, karena saya Indonesia, saya berbatik.



IBU PEMBAHARU #2 : Konferensi Perempuan Indonesia 2023

Definisi Ibu Pembaharu itu sendiri adalah sosok ibu yang mampu menemukan masalahnya dan mengubahnya menjadi sebuah tantangan hidu...