Tema : Pelibatan
keluarga pada penyelenggaraan pendidikan di Era kekinian
Diskusi
adalah perantara penting yang menghubungkan pemikiran saya sebagai istri dan
Gatra sebagai suami. Walau kami berdua merupakan orang tua baru yang masih belajar
dan mencoba untuk menyusun tahapan pendidikan anak di keluarga, namun landasan
kami dalam aturan syariat islam tetap kami utamakan dan tak lupa kurikulum
serta aturan pemerintah pun kami gunakan untuk sosialisasi dengan masyarakat. Kami
tak mengelakkan bahwa peran keluarga dalam bermasyarakat adalah penting adanya,
karna keluarga merupakan masyarakat terkecil. Maka kami berdua berusaha untuk
mendidik anak kami yang baru berusia 4 bulan dan kami beri nama Farih
Abdurrahman Kusuma dengan sebaik-baik pendidikan.
Keadaan
pekerjaan suami yang membuat saya dan dirinya terpisah jarak untuk beberapa
minggu dalam setiap bulannya, menjadi fokus kami juga agar kami selalu bisa
berkomunikasi terutama dalam pengurusan anak yang hanya saya pegang sendiri
namun tak lupa peran suami pun menjadi pendukung utama saya. Oleh karena itu,
diskusi saya dan suami pun harus tetap terhubung walau dengan adanya jarak yang
memisahkan. Dengan keadaan seperti ini pula lah peran `gadget` dalam
keluarga saya memiliki peran penting adanya dan tak bisa kami pungkiri. Apalagi
dengan keadaan saya sebagai istri yang fokus berkegiatan di ranah domestik dan
menemani pertumbuhan sang buah hati sendiri di rumah, membuat saya haus akan
ilmu namun meminimalisir pergi keluar rumah. Maka tak ayal peran teknologi
multimedia pun lagi-lagi berperan penting bagi keluarga kami.
Suami
sebagai kepala keluarga selalu memberikan arahan kepada saya bagaimana
mendapatkan informasi yang saya butuhkan via PC atau laptop bahkan aplikasi
gadget, seolah mindset saya berkata `di zaman sekarang ini jika kita tidak bisa
menggunakan teknologi yang ada maka kita hanya akan menjadi pribadi yang tertinggal`.
Saya pribadi banyak dibimbing oleh suami dalam pemanfaatan multimedia
agar bijak menggunakannya dan secara tidak langsung suami
pun mendidik saya agar dapat menyalurkannya kepada anak-anak kelak.
Keluarga
besar saya memiliki basis pendidik, maka tak heran ayah saya selalu mendukung
saya agar bisa melanjutkan sekolah dan memiliki skill sebagai pendidik. Saya
selalu tertarik dan senang mengajar, walau saya baru berpengalaman mengajar
selama 6 tahun namun menurut saya itu belum cukup untuk bisa melatih diri saya
dan menebar kebermanfaatan ilmu. Maka ketika Allah anugerahkan buah hati
bagi saya dan suami, tekad saya untuk menjadi guru kehidupan anak pun semakin
besar. Saya tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan sebagai madrasah pendidikan
anak.
Selama
ini saya belajar banyak dari website, buku, serta komunitas-komunitas parenting
dalam hal pendidikan anak, tak lupa saya selalu sharing kepada suami akan semua
hal yang saya dapatkan. Dan bila saya berkesempatan untuk silaturahmi kepada
orang tua dan mertua khususnya, saya mencoba berbincang pada beliau mengenai
pendidikan anak yang dimana kami berbeda pendapat dan mengemukakan alasan
serta penyampaian akhir nya disesuaikan atas pengetahuan.
Saya
dan suami sepakat untuk menggunakan gadget diwaktu tertentu dan tidak di depan
anak, begitupun sang anak yang tidak kami kenalkan dahulu pada gadget hingga
waktu yang telah kami sepakati in syaa allah diusianya 7 tahun dan itupun hanya sekedar paparan tv dengan adanya pantauan
kami.
Saya
juga sangat terinspirasi dengan Azzam, serta cara orang tua mendidiknya agar
tumbuhlah bakatnya sesuai yang dia inginkan. Sebagaimana info di link berikut :
saya
dan suami berharap semoga dari keluarga kecil kami, yang kami coba mendidik
sekemampuan dan berlandaskan Al-quran dan sunnah dapat menginspirasi orang lain
dan menebar manfaat positif bagi masyarakat dengan tujuan kami yang satu yakni
Ridho Allah SWT.
#sahabatkeluarga