Selasa, 26 September 2017

Aliran Rasa Bunda Sayang level 4 Gaya belajar

Jujur, awal dapet tantangan ini sempet termenung karna objek anak yang belum ada membuat saya memutar otak menentukan objek.

Karna les yang saya  adakan hanya seminggu sekali pertemuan dengan setiap anaknya, maka kesemparan ssya bertemu dengannya oun hanya bisa untuk satu tantangan saja.

Jadilah tantangan kali ini didominasi untuk mengeksplor diri saya sendiri, menguak banyak kekurangan saya dalam memahami diri sendiri.

Jadi tersadarkan, saya harus berjuang untuk mengenal karakter serta gaya belajar anak saya nanti sedini mungkin agar kemudahan dalam menyerap ilmu ia dapatkan.

Belum lagi untuk membantu anak didik menemukan gaya belajarnya pun tak mudah, pertemuan sekali dua kali tidak bisa memastikan hasil dari pengamatan.

Sesungguhnya semua orang adalah guru, semua tempat adalah sekolah dan semua kejadian adalah ilmu. Dan untuk mengenal diri kita sendiri banyak kesempatan yang dimiliki.

Terima kasih sudah memfasilitasi dengan adanya tantangan ini..

#aliranrasa
#gayabelajar
#kelasbunsayiip

Sabtu, 23 September 2017

Gaya Belajar Bunda Sayang level 4 hari#17

Belajar itu tiada batas usia apalagi waktu, namun terkadang kesemangatan yang naik turun membuat ilmu yg kita pelajari gampang masuk atau bahkan sulit dicerna.

Alhamdulillah target khatam quran hari ini terlaksana, niat terus tuk bisa mengkaji alquran lebih dalam. Badan yang semakin segar membuat pergerakan semakin nyaman alhamdulillah.

Banyak belajar dari apa yang saya lihat atas komunikasi orang tua yang maa syaa allah tetap terjaga hingga usianya kepala 5 ini. Sungguh sedari kecil saya belum pernah lihat adanya ketidaksepakatan antar keduanya, maka hal ini juga yang saya pelajari.

Kini beliau berdua sebagai penfajar quran belum lagi beliau lanjut kuliah untuk memperdalam bahasa arab, maka tak terelakkan juga kebarokahan quran saya rasa ada di tengah-tengah keluarga.

Dan saya berniat dan berazam agar kelak keturunan saya khususnya yang sedang dalam kandungan, Allah bimbing untuk kenjadi Ahli Quran. Karna sumber ilmu di dunia ini adalah quran.

Dari quran saya belajar ketenangan hati dan pikiran, dari Al Quran juga saya belajar bahasa santun dan lemah lembut.

Alhamdulillah..

#kelasbunsayiip
#hari17
#gayabelajar

Jumat, 22 September 2017

Gaya Belajar Bunda Sayang level 4 hari#16

Dari anak mamah yang 4, ade nomor dua yang prestasi akademiknya paling menonjol diantara kita. Dengan kata lain bisa dikatakan bahwa ia juga sudah menemukan gaya belajarnya. Padahal yang saya liat, rizal ini tipe anak yang ga kuat lama berdiam dan duduk untuk belajar namun apa yg ia lihat dan ia dengar nempel dalam ingatannya sungguh kuat.

Setiap saya tanya sedari kecil, apa rahasianya?? Dia hanya menjawab memperhatikan guru di sekolah.

Berbeda dengan saya walau prestasi menonjol alhamdulillah, namun masih dibawah dia. Gaya belajar saya visual audia juga, namun seolah ingatan tidak sekuat dirinya kalo prosentase menghafal atau belajarnya tidak lebih banyak.

Berbeda juga dengan adik kedua saya, yang seolah belum menemukan gaya belajarnya sendiri. Dia harus sambil bermain, walau ga semua masuk.

Dan berbeda juga dengan nomor 4, lebih kalem walau hasilnya biasa saja.

Ah semua anak punya gaya belajar dengan prosentase masing2 dalam macamnya. Dan yang terpenting berusaha untuk terus mengembangkan diri dan niat belajar karna Allah..

Semangat..

#hari16
#kelasbunsayiip
#gayabelajar

Gaya belajar Bunda Sayang level4 hari#15

Belajar bareng mama tuk beresin rumah besar-besaran, ini juga untuk skalian persiapan 4 bulanan minggu depan.

Mamah yang kalo bersih2 itu maksimalis banget, dan saya banyak belajar dari beliau cara penataan segala sesuatunya. Bahkan sampai keresek bekas yang disusun ulang untuk dipake aampai atau lainnya.

Kita mulai bersih2 jam 1 siang, dengan beresin gudang ( ini dibantu bibi juga, saya hanya disutuh lihat sesekali klo cape istirahat). Penyusunan barang, penataan sampai pembersihan kompor. Semuanya ga terlalu leterlak, tp menurut saya itu inspirasi.

Kita baru beres jam 5 sore, karna ini skalian perombakan rumah saya juga. Dibantu bapa dan paman yang khusus mengurus taman dan garasi serta perihal aliran air. Rumah yang baru saya isi ini memang belum terlalu banyak barang, alhamdulillah mempermudah keadaan juga.

Orang lain yang bergerak dan kita yang merekam dengan ingatan, sepertinya akan lebih kuat juga ingatan hikmah dan pembelajarannya.

Semangat..

#gayabelajar
#hari15
#kelasbunsayiip

Rabu, 20 September 2017

Mengenal me time by elma fitria

Elma Fitria Parenting: *Apa yang kita cari dari Me Time ?*

Yang paling kita cari dari Me Time adalah kita bisa lepas dari hal-hal yang membuat kita penat dan lelah. Kita keluar dari _draining situation_ (situasi yang menguras tenaga, perasaan, pikiran). Jika kita berhasil melakukan ini saja, ini sudah cukup membuat kita merasa nyaman. Kita akan merasa tenang dan senang. Namun ini adalah kondisi minimal, ini baru separuh dari fungsi Me Time, yaitu *fungsi Relaksasi*.

Sebenarnya Me Time tidak cukup sampai disini saja. Ada bagian kedua dari Me Time *fungsi Aktualisasi Diri*. Kata yang paling tepat untuk mewakili ini adalah kata *Flourish (Mekar Berkembang)*. Bayangkan Bunda melakukan Me Time yang membuat Bunda indah mekar berkembang.

Inilah Me Time yang seutuhnya. Me Time yang tidak sekedar kita bisa bebas dengan dunia kita sendiri, namun waktu dimana kita menemukan dan menjadi *Diri Kita yang Sesungguhnya, Diri Kita yang Terbaik, Diri Kita yang Bahagia* .

Kalau Me Timenya sesuai dengan ME (diri sendiri) maka pribadi kita akan jadi lebih baik setelah Me Time. Tapi jika Me Time yang kita pilih sebenarnya tidak sesuai dengan ME, maka kita bisa terjebak hanya melakukan _*Lazy Time*_. Kita hanya mengisinya dengan sesuatu yang semata pengalihan dari rasa cape dan jenuh saja. Jika seperti ini, kita tidak akan juga berkembang, dan lambat laun akan merasa hidup tidak produktif, tidak bahagia, tidak berharga, dll.

*Jadi untuk dapat Me Time yang berkualitas, kita perlu mengenali lebih dalam lagi siapa sebenarnya diri kita (ME) dan apa yang diri kita butuhkan setiap hari. Dengan ini, kita memiliki tujuan menjadikan Me Time kita sebagai momen yang meningkatkan kualitas hidup dan kualitas pribadi kita*
[9/18, 4:21 PM] Elma Fitria Parenting: *Mengenali ME*

Setiap manusia unik dan punya ciri khas masing-masing dalam kepribadiannya, begitu pun para ibu. Ada yang pandai bergaul, ada yang senang merenung, ada yang senang menata, dll.

Jika kita memahami diri kita dengan baik, maka kita tahu bagaimana cara kita untuk bisa *Tenang, Senang, dan Berkembang*. Kita akan mengetahui bagaimana *cara Relaksasi* yang paling tepat untuk kita, yang darinya kita bisa merasa *Tenang dan Senang*. Kita kemudian jadi tahu juga apa yang bisa menjadikan diri kita *Berkembang*.
Elma Fitria Parenting: Pertama, kenalilah apa yang sebenarnya membuat kita merasa Tenang.

*Tiap orang punya sumber ketenangan yang berbeda-beda*

Ada yang merasa tenang ketika mendapatkan suasana yang nyaman untuk berpikir. Ada yang merasa tenang ketika punya waktu untuk ngobrol berdua dengan suami, atau hanya berduaan saja tanpa harus ngobrol. Ada yang merasa tenang, ketika untuk sehari itu, rumah bisa betul betul rapi. Ada yang merasa tenang ketika semua berjalan sesuai dengan apa yang direncanakan dan diinginkannya.

Jika Bunda adalah orang yang pemikir atau imajinatif, sangat mungkin ketenangan, terkait erat dengan kondisi pikiran. Jika Bunda adalah seorang yang peka dan perasa, maka ketenangan didapat hanya jika suasana dan interaksi dengan orang-orang terdekat benar benar dalam keadaan yang baik.
[9/20, 1:47 PM] ‪+62 856-9785-1000‬: 2⃣6⃣ Ziyana – BandungGrup : 1
Setelah saya kerjakan PR dr mba elma, ternyata saya lebih bisa mendapatkan ketenangan dengan bekerja indoor. Walau prosentasenya tidak begitu jauh dengan berfikir.
Kini saya sedang hamil 4 bulan, awal kehamilan saya kemarin di trisemester pertama qodarullah saya harus bedrest dan saya pun blm bisa banyak beraktivitas. Memang saya belum merasakan me time kemarin seperti apa, sekarang saya sudah merasa lebih segar dan ingin meluapkan nya ke me time saya (yg kini sudah lebih mengenal ME) apakah ini artinya saya memperbanyak aktivitas di dalam rumah?? Apakah itu berarti kita tidak usah menghiraukan prosentase di point yg lainnya??

Cemilan Rabu 3 September 2017

🍁Cemilan Rabu ke 3🍁
Materi ke 4, 20 September 2017

🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂🍂

*Mendampingi Anak Untuk Mencapai Tujuan*

Ibarat pertandingan lari antara kelinci dan kura-kura, ada anak yang termasuk si "pelari cepat" ( fast starter)  dalam berprestasi. Anak ini sangat hebat di kelas,  cepat menangkap pelajaran.  Namun ada anak yang (slow starter)  berprestasi.  Anak ini biasa-biasa saja,  tidak peduli atau iri terhadap prestasi anak lain. 

Tugas kita sebagai orang tua adalah membantu anak-anak ini belajar tanpa dihantui stres berkepanjangan supaya mampu mencapai "garis finish" kehidupannya dengan selamat dan sukses.

Ada orang yang dizaman sekolah biasa-biasa saja,  tetapi ternyata sukses sebagai dokter,  pengusaha. Sebaliknya ada lagi yang dianggap berprestasi di sekolah, ternyata "tenggelam" sebagai pecundang.  Oleh karena itu coba rileks dan biarkan anak berkembang sesuai jadwal yang ditentukan Sang Pencipta.

🔖 *Anak perlu bermain-main dan bersenang-senang*
Otak anak belum dapat dibebani oleh hal-hal berat.  Tak heran akibatnya jadi banyak anak mengalami stres. Berikan pembelajaran sesuai usia anak.

🔖 *Waspadai gairah belajar anak*
Waspadailah bila gairah belajar anak menurun,  sulit berkonsentrasi, sering sakit,  dan sebagainya,  ada kemungkinan ia mengalami depresi belajar.  Ini pertanda anda butuh pertolongan tenaga profesional. 

Agar kita sebagai orangtua bisa mendampingi belajar mereka :

♦Kenali gaya belajar anak
Gaya belajar seseorang ada tiga macam,  auditori,  visual, kinestetik.  Segera ketahui gaya belajar anak agar tidak salah dalam mengarahkannya

♦ Asahlah rasa ingin tahu anak
Semua anak secara alamiah mempunyai rasa ingin tahu.  Cara orang tua merespon pertanyaan-pertanyaan mereka akan menentukan,  apakah rasa ingin tahu ini akan berkembang atau mati. Untuk mengembangkan rasa ingin tahu anak :
1. Beri banyak pengalaman kepada anak yang membuatnya mengajukan pertanyaan dan mengeksplorasi dunia.

2. Biarkan anak mencari atau mencoba sesuatu, "apakah anak ingin tahu apa yang terjadi jika tepung dicampur air? , berikan tepung kepadanya untuk mencoba dan menemukan jawabannya".

Tujuan sebenarnya sebagai orang tua adalah membantu membesarkan anak  menjadi dewasa yang *BAHAGIA* dan *PRODUKTIF*.
Memaksa anak menjadi sesuatu yang bukan mereka sebenarnya berarti merusak tujuan sebagai orangtua.

Salam Ibu Profesional.

Tim Fasil Bunda Sayang Batch 2

Sumber :
1. Buku " Mendampingi Anak Belajar" oleh Femi Olivia
2. Buku Membantu Anak punya Ingatan Super oleh Femi Olivia

Cemilan Rabu 2 September 2017

💮Cemilan Rabu ke 2, materi ke 4, 13 September 2017💮

🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁🍁

Keajaiban Gaya Belajar

Gaya belajar adalah cara manusia mulai berkonsentrasi, menyerap, memproses dan menampung informasi yang sulit. Hal yang perlu diingat adalah:

🍃 Kita semua punya gaya belajar yang sama uniknya dengan sidik jari.

🍃 Kita masing- masing menerima informasi, menyimpan pengetahuan dan mengambilnya kembali dengan cara yang berbeda- beda

Apabila orang dibiarkan belajar dengan gaya mereka sendiri dan menemukan lingkungan yang sesuai dengan kegiatan- kegiatan mereka maka tidak ada batasan untuk pencapaian manusia. Mereka biasanya menjadi sangat bergairah menyelesaikan tugas- tugas belajar dan menjadi benar- benar suka belajar seumur hidup. 

Hampir semua murid berprestasi rendah  adalah anak- anak yang gaya belajarnya tidak cocok dengan kebanyakan gaya mengajar di sekolah.

Banyak anak yang dikeluarkan dari sekolah itu menjadi tokoh termasyhur di dunia:

🏵 Winston Churchil mendapat nilai buruk dalam tugas- tugasnya di sekolah. Dia juga gagap kalau berbicara

🏵 Albert Einstein suka melamun dan gagal dalam pelajaran matematika di awal SMA.

🏵 Thomas Alva Edison dianggap gurunya "suka bingung" karena bertanya terlalu banyak.

🏵 Beethoven tidak bisa mengalikan dan membagi.

Semua orang- orang itu mempunyai persamaan yaitu mempunyai gaya belajar yang tidak cocok dengan gaya ketika mereka mendapat pengajaran. Untungnya masing- masing tampaknya punya dorongan untuk mencapai keberhasilannya sendiri atau dengan bantuan orang lain yang mengerti mereka.

Ada 4 indera yang paling mempengaruhi proses penyerapan informasi dan proses belajar yaitu : melihat, mendengar, menyentuh dan merasa.

Anak- anak untuk pertama kalinya mulai belajar dengan mengalaminya secara langsung secara kinestetik yang artinya butuh melibatkan seluruh tubuh/ indera. Modalitas kedua yang  berkembang adalah taktil, itulah sebabnya anak- anak kecil harus menyentuh semua yang menarik minatnya. Mereka belajar dengan cara menggarap dan berinteraksi dengan orang atau benda. Sekitar usia 8 tahun sebagian anak mulai mengembangkan preferensi visual yang kuat yang memungkinkan mereka menyerap informasi dengan cara mengamati dan melihat apa yang terjadi di sekitar. Melihat menjadi alat belajar yang sangat penting. Kira- kira usia 11 tahun banyak yang mulai lebih bersifat auditory artinya mereka mulai bisa belajar dengan baik terutama dengan mendengar. Akan tetapi mayoritas anak usia sekolah tetap bersifat kinestetik atau taktil selama bertahun- tahun di sekolah dasar.

Salam ibu profesional

Tim Buku Fasil Bunda Sayang bath 2

Sumber: Buku "The Power of Learning Style" oleh Barbara Prashing

Cemilan rabu 1 September 2017

🌟 *Cemilan Rabu* ke-1 🌟
        6 September 2017

🍀 *Semua Anak Itu Pintar!*🍀

_Apa yang membuat orang dikatakan "pintar"?_
_Apakah itu karena dia bisa belajar keterampilan baru dengan mudah atau bisa memunculkan ide-ide baru?_
_Apakah kecerdasan itu sesuatu yang sifatnya "warisan" atau sesuatu yang dapat kita kembangkan?_

🔍 *Mengamati Kecerdasan Anak dari Perilakunya Sehari-hari* 🔍
Kita bisa menemukan kecerdasan pada anak kita dengan mengamati karakteristik-karakteristik seperti berikut:

*1. Kemampuan Bahasa Lisan*
🖊 Kosakata yang canggih
🖊 Gaya bicaranya penuh warna
🖊 Kreatif jika disuruh mendongeng
🖊 Pintar melontarkan lelucon dan permainan kata-kata

Dengan mengamati karakteristik di atas kita bisa mencari kreativitas yang tidak biasa atau pengembangan bahasa yang lebih maju dalam percakapan anak kita sehari-hari.

*2. Kemampuan Pembelajaran*
🖊 Memiliki kemampuan mempelajari informasi baru dengan cepat
🖊 Memiliki pengetahuan yang luar biasa tentang berbagai topik
🖊 Memiliki kemampuan untuk menemukan hubungan di antara ide-ide yang beragam
🖊 Memiliki daya ingat (memori) yang baik

Selanjutnya kita bisa membuat catatan dari situasi di mana anak belajar dan memahami materi baru dengan lebih cepat daripada teman-temannya. Dalam hal ini, kita harus pandai-pandai menemukan analogi dan interkoneksi kreatif yang ditampilkan anak.

*3. Kemampuan Pemecahan Masalah*
🖊 Memiliki kemampuan untuk memecahkan masalah yang menantang
🖊 Fleksibel dalam menerapkan strategi yang telah dia pelajari sebelumnya dalam memecahkan masalah yang baru
🖊 Memiliki kemampuan untuk berimprovisasi dengan benda-benda dan mateeial yang ada di sekitarnya

Dengan memberikan tugas dan problem yang tidak biasa di mana anak tidak memeliki strategi yang siap pakai.

*4. Strategi Kognitif dan Metakognitif*
🖊 Menggunakan strategi pembelajaran yang canggih
🖊 Berkeinginan untuk bisa _memahami_ bukan _menghapal_
🖊 Mudah paham dan mengerti serta efektif dalam memerhatikan sesuatu

Kita bisa meminta anak untuk menjelaskan bagaimana mereka menciptakan cara untuk hal-hal yang ingin mereka pelajari atau yang ingin mereka mudah untuk mengingatnya.

*5. Memiliki Rasa Ingin Tahu*
🖊 Haus akan ilmu pengetahuan
🖊 Cenderung banyak mengajukan pertanyaan
🖊 Adanya motivasi intrinsik untuk menguasai materi pelajaran yang menantang

Bagaimana caranya kita mematik rasa keingintahuan anak-anak, salah satunya adalah dengan mencari tahu apa yang ingin anak-anak lakukan di waktu luang mereka. Dari situ kita bisa membantunya dengan melempar pertanyaan (5W+1H) sehingga dari situ anak-anak akan mulai mencari tahu sebanyak-banyaknya.

*6. Kemampuan Kepemimpinan dan Jiwa Sosial*
🖊 Memiliki kemampuan untuk membujuk dan memotivasi orang lain
🖊 Memiliki kepekaan yang luar biasa terhadap perasaan ada bahasa tubuh orang lain
🖊 Memiliki kemampuan untuk menengahi perbedaan pendapat dan membantu orang lain untuk bisa mencapai kesepakatan

Coba perhatikan bagaimana cara anak-anak kita berinteraksi dengan teman-teman mereka di lingkungan permainan, kelompok belajar, dan aktivitas lainnya. Apakah anak-anak kita sering tampil sebagai pemimpin ataukah seringnya menjadi _follower_ saja ataukah memiliki jiwa sosial yang tinggi terhadap siapapun ataukah lebih cuek dan cenderung tidak perduli dengan sekitarnya.

Salam Ibu Profesional 

/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2 /

📚 Sumber:

📔  Priyatna, Andri (2013). _Pahami Gaya Belajar Anak_. Jakarta, Kompas Gramedia.

Metode pembelajaran anak 2

*Usia 1-2 tahun*
Di usia setahun, seluruh kemampuan dan keterampilan kinestetiknya sudah terbentuk. Untuk itu, perlu diberikan pengembangan stimulasi dengan penambahan pada bentuk, media, tingkat kesulitan, dan lainnya. Cara yang mudah adalah banyak bermain bersama anak seperti berlari, melompat, melempar, menangkap, berguling, dan lain-lain. 

Anak akan lebih mudah belajar melempar daripada menangkap. Agar kemampuan anak menangkap bola atau benda bertambah, rajin-rajinlah orangtua bermain lempar-tangkap bola. Dengan cara ini pula kemampuan koordinasi mata dan tangan anak akan terlatih. Bila anak sudah mampu menangkap dan melempar, tingkat kesulitannya bisa ditambah. Contohnya, menambah jarak lempar-tangkap, mengganti bola yang lebih besar dengan yang kecil, serta arah lemparan semakin cepat. 

Teknik-teknik tersebut akan membantu menguatkan otot-otot lengan anak serta mengembangkan keterampilan motorik halus dan kasar, koordinasi mata-tangan, visual-spasial, kecepatan reaksi, dan kelenturan. Kesemuanya, menurut Bambang, merupakan respon dari sel-sel otak. 

Keterampilan motorik halus dan kasar berguna untuk kemampuan menulis, menggambar, melukis, dan keterampilan tangan lainnya. Anak juga bisa dilatih mengembangkan otot kaki, misalnya menendang bola, melompat dengan dua kaki, serta menaiki anak tangga (tentu dibantu orang dewasa). 

*Usia 3-4 tahun*
Di usia ini, keterampilan dan kemampuan anak sebenarnya tidak jauh berbeda dengan anak usia 1-2 tahun. Perbedaan yang nyata hanya pada kualitasnya. Anak usia 3-4 tahun berlari lebih cepat ketimbang anak usia 1-2 tahun, lemparannya lebih kencang, dan sudah mampu menangkap dengan baik. 

Kemampuan motorik kasar otot kaki anak, selain berjalan dan berlari cepat, antara lain mampu melompat dengan dua kaki, memanjat tali, menendang bola dengan kaki kanan dan kiri. Untuk motorik kasar otot lengan, anak mampu melempar bola ke berbagai arah, memanjat tali dengan tangan, mendorong kursi, dan lainnya. 

Kemampuan yang melibatkan motorik halus untuk koordinasi mata-tangan, yaitu mampu memantul-mantulkan bola beberapa kali, menangkap bola dengan diameter lebih kecil, melambungkan balon, keterampilan coretan semakin baik. 

Agar kemampuan dan keterampilan motorik halus serta kasar kian berkembang, anak bisa diberikan stimulasi kinestetik. Ia mencontohkan beberapa hal seperti berjalan atau berlari zigzag, berjalan dan berlari mundur untuk mengembangkan otak kanan, melompat dengan dua kaki ke berbagai arah, menendang bola dengan kaki kanan atau kiri ke berbagai arah, melempar bola ke berbagai arah dengan bola sedang sampai kecil, melempar bola ke sasaran seperti huruf, angka, atau gambar, menangkap bola dari berbagai arah, bermain bulutangkis, mencoret-coret berbagai bentuk geometri untuk mengembangkan otak kiri dan kanan, serta menggerakkan kedua tangan dan kaki dengan memukul drum mainan. 

*Usia 5-6 tahun* 
Pada usia 5-6 tahun, hampir seluruh gerak kinestetiknya dapat dilakukan dengan efisien dan efektif. Gerakannya pun sudah terkoordinasi dengan baik. Namun, seperti diungkapkan Bambang, anak kelompok usia ini lebih menyukai permainan yang tidak banyak melibatkan motorik kasar. Mereka lebih menyukai permainan yang menggunakan kemampuan berpikir seperti bermain puzzle, balok, bongkar pasang mobil, serta mulai tertarik pada games di komputer maupun play station. 

Metode pembelajaran anak

Metode Pembelajan

Jangan memusingkan hal-hal kecil....

Intinya yang penting adalah... selama itu *TIDAK BERTENTANGAN* dengan *Alquran* dan *Sunnah*, yaa...silakan diambil...
Ga masalah deh... kan itu cuma teori ya...
Buatan manusia juga... jadi yaa sangat bisa debatable...
Itu kan ilmu yang akan selalu berkembang...
Baiknya ga usah ngeribetin yang tidak prinsip... Nanti jadi keblinger hehehe...

Metodenya... Sesuaikan saja dengan metode yang *Long Lasting* seperti yang dipraktekin oleh Rasulullah Saw dan sahabat...

Banyak sekali... Teori-teori Gaya belajar anak yang dicetuskan oleh berbagai para ahli...
Seperti... Teori... Sekuensial Konkret (SK), Sekuensial Abstrak (SA), Random Konkret (RK), Random Abstrak (RA).
Kemudian... Sama yang visual, kenestetik, audio visual

Apa bedanya memang...???
Sebenernya kan itu sama aja... cuma beda teori aja kan yaa...

Prinsipnya mah sama... Itu cuma istilah dari ahli-ahli aja yang beda. Beda teori beda ahlinya kan gitu tuh yaa...
Biasa daahh... gaya belagu para ilmuwan... 😁 menggunakan "bahasa planet" sendiri yaa... Tapi konsepnya sama aja ga jauh beda... yang dipake...ujung-ujungnya sammaaaa dan sederhana😂..

Nah kalo di bandingkan dengan teori jaman Rasulullah... konsep yang dipakai semua cara digunakan/dipake... kalo model Rasulullah Saw mah malah ga dipilah2 gitu...
Hanya saja...emang pas sudah terbaca *talent n minat* sahabat, *difokusin*

Kalo buat anak, cara mendidik Rasulullah Saw semua cara dipake...
Anak-anak diajak jalan, dilayani sepanjang jalan, diperlakukan seperti teman, terus dinasihati deehhh...
Nah, nasihatinnya langsung pake bahasa berbobot. Bahasa imani... Disambungkan langsung dengan kehidupan sehari2...
Terus Rasulullah seriiiiiing berkisah...bahkan ke para sahabat... Terus dialog...
Semua gaya belajar, dikombinasikan.

Ga kayak kita, yang suka ngikutin kata pakar barat
Yang audio, dikasihnya cuma audio aja..

Coba kita pikirkan, alquran itu kan disuruhnya dibaca... Membaca kekuasaan Allah di alam, disuruhnya mengamati, dilihat, menggunakan seluruh panca indera kita yang telah Allah berikan... Terus nasihat-nasihat tentang akhirat... disuruhnya didengerin...
Lanjut lagi terus kita disuruh keliling dunia buat tafakkur...
Kemudian... kita disuruh lari segera, lomba-lomba, kerjasama... Untuk urusan kebaikan dunia hingga akhirat kelak...
Daann satu hal... kita malah cuma disuruh *JALAN* untuk mencari rezeki Allah...

Coba perhatikan, semua perintah itu berlaku universal...

Berarti kan semua metode hrs dilakukan bersamaan... sesuai fitrah... sesuai kondisi...

Ngomonhin soal gaya belajar anak...
Pendapat saya... Jika seseorang di usia awal (0-7 thn) tidak dirangsang otaknya dengan fase *'mencari tahu'* secara motorik kongkrit (mengenal langsung benda, dihubungkan dengan buku yang dibacakan), maka wajar akan terjadi *'kemacetan berpikir'*. Karena sel-sel saraf neuronnya memang tidak terjalin dengan baik.

Jadi buat pembelajaran ke anak-anak hal ini bisa dipelajari di setiap fase usia, asal mau belajar tahapannya dari awal...

Contoh yang dikaitkan dengan gaya belajar anak...
Kasusnya... bagaimana sih membangun minat baca buat anak...

Di sini kita bisa mulai di lihat apa kecenderungan anak... visual kah... audio visual kah... atau audio...

Kalo visual, bisa mulai dicariin komik-komik... Beliin aja komik 33 pesan nabi, ada 3 buku karya vbi_djenggotten. Penerbit zaytuna. Kalo mo pesen, telpon: 021-78847081, 78847037.( di kebagusan psr minggu).

Bagus. Simpel, sahih, lucu. Ga terlalu tebel. Enak bacanya buat yang males baca.
Jadi, gambar komik sangat membantu otak untuk 'belajar membaca huruf'.

Bagi anak yang *audio*, kudu rajin dibacain/diceritain buku dengan intonasi menarik... Kudu cari momen enak buat dia dengerin...

Sedangkan anak *audiovisual*, sama... Cariin buku yang menarik, bisa full color dan banyak gambar... Intinya sih komposisi tulisan jangan terlalu dominan... Bikin matanya nolak ntuk baca... Bacain buku keras-keras dengan intonasi yang menarik.
Selain itu untuk audiovisual, bisa juga dimulai dengan nobar. Cari film keren yang bisa dibahas bareng.
Kalo dia suka kartun, ada film big hero 6 yang cukup keren buat dibahas bareng.

Prinsip kerja otak kan sebenarnya kayak komik.

Kalo anak baca satu tulisan, contoh 'ulat'. Yang terbayang di otaknya adalah gambar ulat yang dia tahu. Jika dia tidak tahu ulat seperti apa, ya jadinya kosong deh. Jika otaknya mencari2, dia akan bertanya bagaimana bentuk ulat. Di sinilah terjadi proses 'pembelajaran' (mencari tahu).

Nah adakalanya... Ketiga semua cara tersebut kita lakukan meski anak punya kecendurang gaya belajar...

Pokoknya, pinter-pinternya kita sebagai orangtua menghubungkan tema yang mau kita sampeikan dengan kondisi yamg sedang dibutuhkan oleh anak kita...
Pokoknya cari tema-tema yang berhubungan dengan kecenderungan anak kita... juga dengan tema-tema yang berhubungan dengan *kewajiban* anak kita kelak...

Butuh konsistensi ya...

Pada akhirnya, tingkat kecerdasan seseorang memang dilihat dari bagaimana interaksi dia terhadap buku atau (tulisan)

Balik laginke permasalah gaya belajar yang Rasulullah Saw ajarkan... Karna hanya inilah metode yang *Terbaik* dan tidak lekang sepanjang masa...

Rasulullah menegaskan, "Ilmu adalah warisan para nabi. Para nabi tidak mewariskan emas atau pun dirham, tetapi mewariskan ilmu. Barang siapa yang mengambilnya, maka ia telah mengambil bagian yang banyak." (H.R. Abû Dâwud, Sahih No. 3643). Oleh karena itu,"Menuntut ilmu itu wajib bagi setiap Muslim."(H.R Ibnu Mâjah, Sahih No. 224)

Intinya Metode Pembelajaran yang digunakan Rasulullah Saw adalah Ia belajar dari pasar, belajar dari teman-teman, belajar dari peristiwa, belajar dari perjalanan dagang dan belajar dari alam. Dengan bimbingan khusus Allah Swt melalui malaikat Jibril, Rasulullah dalam waktu cepat menjadi insan dan Nabi yang cerdas dan knowledgeable.

Intinya Rasulullah mengajarkan mulianya ilmu dan urgensi ilmu untuk mencapai kesuksesan dunia akhirat. Lebih dari itu ia pun memberikan teladan "holistic learning method",bahwa proses belajar-mengajar yang efektif memerlukan scanning & levelling, active interaction dan learning conditioning. Belajar baru membuahkan hasil jika ada story telling, analogy & case study, body language, self reflection, focus & point basis dan affirmation & repetition.

Cemilan rabu 3 agustus 2017

✨Cemilan Rabu ke-3✨
       23 Agustus 2017

🌺 6 Tahun Pertama yang Berarti🌺

💐Bunda yang berbahagia, sebuah pernyataan oleh Collin Rose seorang praktisi bidang Accelerated Learning sungguh mengejutkan. Dia mengatakan bahwa anak mulai usia nol sampai enam tahun mempelajari dan menguasai lebih banyak daripada orang dewasa yang bersekolah hingga mencapai gelar doktor.

💐Berdasarkan hasil penelitian Neuro Science atau ilmu yang meneliti tentang cara kerja otak manusia, ditemukan bahwa otak manusia mirip sebuah prosesor komputer, pada saat bayi baru lahir masih kosong dan belum terisi program kerja. Saat itu, sebagian besar kerja otak masih diatur oleh otak kecil yang masih primitif, yang hanya terbatas untuk mengatur fungsi- fungsi dasar kehidupan, seperti fungsi pernapasan, detak jantung, suhu tubuh, dan sejenisnya.

💐Namun demikian, secara alami Tuhan telah meng- Install atau meletakkan program (software) yang dikenal dengan the instinct of learning. Software itu merupakan naluri belajar alami yang biasanya ditunjukkan melalui rasa ingin tahu yang luar biasa terhadap berbagai hal.

💐Pada balita, the instinct of learning masih bekerja secara penuh atau in full capacity. Melalui rasa ingin  tahu yang luar biasa inilah otak anak akan terus diisi oleh hal - hal baru, yang diibaratkan sebagai program- program kehidupan. Dia selalu ingin tahu apa yang dipegang orang tuanya, apa yang dibaca, bagaimana membuka ini dan itu, sepanjang hari sejak terbangun dari tidurnya.

💐Sesungguhnya fase balita ini adalah fase paling kritis ketika otak harus diisi dengan program- program pembelajaran. Tuhan juga melengkapi di dalam otak anak kita sebuah energi yang besar, yakni energi untuk memaksa dan pantang menyerah untuk mendapatkan apa yang diinginkannya agar otak dapat terus terisi.

💐Energi inilah yang sering kali diterjemahkan oleh orang tua sebagai sikap keras kepala dan susah diatur. Sesungguhnya dia hanya menjalankan program yang sudah diletakkan Tuhan dalam dirinya untuk kebaikan perkembangan otaknya. Ini juga yg disebut oleh Collin Rose sebagai proses belajar yang sesungguhnya, yakni memenuhi rasa ingin tahu yang terus menerus sehingga pada akhirnya anak akan menguasai satu persatu apa yang dipelajarinya itu.

💐Namun sayangnya, menurut hasil penelitian The Instinct of Learning pada anak akan mengalami penurunan. 🌹Penurunan ini disebabkan oleh tiga hal besar :

🌷disebabkan oleh orangtua dan guru yang terlalu banyak melarang anak untuk memenuhi rasa ingin tahunya. Misal di sekolah dinyatakan dengan “jangan berisik “ dan “ duduk di tempat yang rapi “

🌷disebabkan oleh orangtua dan guru yang sering merendahkan harga diri anak, baik mentertawakan maupun melecehkan anak yang sedang berusaha mempelajari sesuatu. Misalnya “begitu saja kamu ga bisa “ atau “tampang seperti kamu sampai kapan juga tidak mungkin bisa “

🌷disebabkan oleh sistem sekolah yang hanya membatasi anak untuk mempelajari hal - hal yang diwajibkan oleh kurikulum dan bukan mempelajari hal- hal yang menarik minatnya.

💐Dari ketiga hal diatas, yang paling dahsyat menurunkan The Instinct of Learning atau kemampuan belajar alami anak adalah poin ketiga. Sekolah umumnya hanya berorientasi pada soal ujian dan kemampuan menjawab soal, bukan untuk mengembangkan kemampuan berpikir anak.

💐Ya, penurunan kemampuan belajar alami anak dimulai sejak usia 7 tahun, yakni sejak anak-anak mulai mengikuti pendidikan formal yang diselenggarakan institusi resmi pendidikan. Coba kita perhatikan, sejak anak sekolah dia hanya mau belajar jika ditugaskan gurunya. Dia hanya mempelajari hal- hal yang ada di buku wajibnya, tidak pernah lagi mempelajari hal- hal yang menarik minatnya dan sejak itu rasa ingin tahunya akan segala hal perlahan memudar.

💐Bunda yang berbahagia, coba ingat- ingat lagi pengalaman kita dulu bersekolah. Apakah kita lebih banyak membaca buku wajib atau lebih banyak membaca buku yang menarik keinginan kita? Jika dahulu bunda lebih banyak membaca dan mengerjakan sesuatu yang menarik minat bunda, beruntunglah bahwa The Instinct of Learning bunda masih terpelihara. Pada umumnya, orang- orang inilah yang cenderung lebih sukses dalam kehidupan nyata.

Salam ibu profesional

/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2 /

📚 “Ayah Edy Punya Cerita/Penulis, Ayah Edy ; Penyunting, Laura Ariestiyanty_Jakarta:Noura Books, 2013

Cemilan rabu 2 Agustus 2017

Cemilan Rabu ke-2
16 Agustus 2017

🌷 *Mengelola kecerdasan Emosional* 🌷

Kecerdasan emosional atau emotional quotient (EQ) adalah kemampuan seseorang untuk menerima, menilai, mengelola, serta mengontrol emosi dirinya dan orang lain di sekitarnya.

Menurut Howard Gardner (1983) terdapat lima pokok utama dari kecerdasan emosional seseorang, yakni mampu menyadari dan mengelola emosi diri sendiri, memiliki kepekaan terhadap emosi orang lain, mampu merespon dan bernegosiasi dengan orang lain secara emosional, serta dapat menggunakan emosi sebagai alat untuk memotivasi diri.

*Stimulasi EQ pada anak*
🦋 Kenalkan jenis emosi pada anak.
🦋 Minta anak untuk menggambarkan apa yang ia rasakan.
🦋 Minta anak menyampaikan apa yang diinginkan.
🦋 Hormati fase egosentris anak.
🦋 Beri teladan dari orangtua dalam pengelolaan emosi, terutama saat menghadapi anak.
🦋 Beri kesempatan dan motivasi untuk belajar hal baru.
🦋 Beri kesempatan anak untuk mandiri dan bertanggungjawab.
🦋 Memberi pujian atas pencapain anak.
🦋 Ajak anak bersosialisasi dengan lingkungan.
🦋 Libatkan anak dalam aktivitas.

*Tips Mengelola Emosi untuk Orang Dewasa*
🦋 Kenali perubahan emosi dan alarm tubuh.
🦋 Mengubah fokus pikiran negatif👉🏻positif
🦋 Berlibur sejenak dari aktivitas.
🦋 Berkata baik atau diam.
🦋 Ubah posisi menjadi lebih rendah. Berdiri👉🏻Duduk, Duduk👉🏻Berbaring
🦋 Atur nafas dan perhatikan postur tubuh. Dengan postur yang tepat Anda bisa mengubah emosi negatif menjadi emosi positif.

Salam, Ibu Profesional

/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2/

📚Sumber bacaan:
_Wikipedia, Kecerdasan Emosional._
_Diskusi fasilitator Bunda Sayang #2_
_Ideo, Watiek. Aku Cerdas Mengelola Emosi_
_Kuliah WhatsApp tentang Neuro-linguistic programming_

Cemilan Rabu 1 Agustus 2017

*Cemilan Rabu 1*
9 Agustus 2017

*Melatih Kecakapan Hidup untuk Kemandirian Anak*

Menurut *WHO* kecakapan hidup atau Life Skill meliputi:
1. Ketrampilan mengambil keputusan dan memecahkan masalah.
2. Ketrampilan berfikir kreatif dan berpikir kritis.
3. Ketrampilan berkomunikasi dan ketrampilan interpersonal
4. Sadar atas kemampuan dirinya dan memiliki emphati.
5. Ketrampilan mengelola stress.

Bila anak ditanamkan kecakapan hidup sejak dini akan ada *banyak manfaat* yang akan didapat oleh anak dan orangtua.
Diantaranya:
🐈 Menjadi lebih mandiri dan mampu belajar memecahkan masalah.
🐈 Meningkatkan rasa percaya diri,berkomunikasi dg baik,dan memperkuat hub orangtua dan anak.
🐈 Mengajarkan kegagalan dan keberhasilan,serta tidak mudah menyerah.
🐈 Anak akan belajar memaknai hidup.
🐈 Anak belajar menghargai diri sendiri dan merawat barang2 miliknya.

9 Panduan dalam mengajarkan Life Skill

1. Usia Anak
2. Memberikan kesempatan bereksplorasi pd anak seluas2nya,dan tanamkan rasa percaya diri.
3. Ajarkan dengan cara yg menyenangkan.
4. Apabila gagal,ajarkan untuk terus mencoba agar terbentuk sifat tidak mudah menyerah.
5. Biarkan menciba hal2 baru selama tidak berbahaya.
6. Biarkan anak melakukan tugasnya sendiri.
7. Beri pujian ketika berhasil
8. Hindari mematahkan semangat anak.
9. Jangan membandingkan Anak.

Disadur dari *Artikel Melatih Kecakapan Umum, karangan Hilman Hilmansyah dari Tabloid Nova No 1436/XXVIII,Agustus 2015*

Watie Bahruddin

Review kemandirian materi#2

Review Tantangan 10 Hari Kelas Bunda Sayang #2 Materi #2

MELATIH KEMANDIRIAN ANAK

Bunda, terima kasih sudah menyelesaikan tantangan 10 hari tentang “MELATIH KEMANDIRIAN ANAK”.

Pekan ini kita akan review berbagai pola kemandirian yang telah Bunda lakukan bersama dengan anak-anak di rumah.

Yang pertama, kami akan mengapresiasi bunda semua  yang sudah komitmen melakukan tantangan 10 hari ini :

🌟 Selamat untuk para Bunda, yang berhasil menyelesaikan tantangan 10 hari ini sampai dengan tanggal 29 Maret 2017, dengan berbagai kondisi, ada yang konsisten setiap hari, lompat-lompat, maupun dirapel.

Bunda berhak memperoleh badge *YES,  I CAN* 🎉👏🏻

🎥 Dan  Bunda-Bunda yang berhasil konsisten menjalankan tantangan 10 hari secara berturut-turut sampai akhir, baik praktek maupun mempostingnya setiap hari tanpa jeda,

Bunda berhak menyematkan badge

🎖You’re EXCELLENT

Sekali lagi KONSISTENSI masih diperlukan di tahap bunda sayang ini, karena Konsistensi adalah sebuah usaha untuk terus menerus melakukan sesuatu sampai  tercapai tujuan akhir.

Sikap/sifat yang gigih dan rajin ini akan menjadikan seseorang yang biasa-biasa menjadi luar biasa.

KEMANDIRIAN erat sekali kaitannya dengan KONSISTENSI, seberapa konsisten kita melatih anak-anak untuk mandiri, akan berpengaruh pada  seberapa besar tingkat keberhasilan kita melatih anak-anak untuk menghadapi kehidupannya kelak tanpa bergantung pada orang lain.

Anak mandiri adalah anak yang mampu berpikir dan berbuat untuk dirinya sendiri.

Seorang anak yang mandiri biasanya aktif, kreatif, berkompeten di bidangnya, tidak tergantung pada orang lain dan tampak spontan. Inilah beberapa  life skill yang perlu dimiliki oleh anak.

Ketika hari ini bunda bersusah payah melatih kemandirian anak-anak kita, maka

*_Jangan pernah menyerah, walau kadang kita merasa lelah_*

Hasilnya akan bunda lihat dalam beberapa tahun mendatang, tidak seketika. Sehingga hal inlah kadang yang menggoda keteguhan kita untuk bersungguh –sungguh mendidik kemandirian anak kita.

Karena kalau kita berhenti melatih kemandirian anak akan muncul perilaku negatif yang dapat menjauhkan anak dari kemandirian di usia selanjutnya.

Gejala-gejala tersebut seperti contoh di bawah ini:
a. Ketergantungan disiplin kepada kontrol luar, bukan karena kesadarannya sendiri. Perilaku ini akan mengarah kepada perilaku  tidak konsisten.

b. Sikap tidak peduli terhadap lingkungan sekitarnya, anak mandiri bukanlah anak yang lepas dari keluarganya melainkan anak yang tetap memiliki ikatan batin dengan keluarganya tetapi tidak bergantung pada keluarganya.

c.Sikap hidup kompromistik tanpa pemahaman dan kompromistik dengan mengorbankan prinsip. Gejala masyarakat sekarang yang meyakini segala sesuatunya dapat diatur adalah bentuk ketidakjujuran berfikir dan bertindak serta kemandirian yang masih rendah.

Kalau melihat gejala-gejala di atas, menyelesaikan tugas kemandirian anak  sekarang, sifatnya menjadi wajib dalam membangun peradaban dunia ini. Karena merekalah nanti yang disebut generasi penerus pembangun peradaban.

Berikut beberapa indikator yang bisa bunda lihat untuk melihat tingkat keberhasilan anak-anak kita secara global.

🍄 Ciri khas kemandirian anak :
a. Anak mandiri mempunyai kecenderungan memecahkan masalah daripada berkutat dalam kekhawatiran.

b. Anak mandiri tidak takut dalam mengambil resiko karena sudah mempertimbangkan hasil sebelum berbuat.

c. Anak percaya terhadap penilaian sendiri, sehingga tidak sedikit-sedikit bertanya atau minta bantuan.

d. Anak memiliki  kontrol yang lebih baik terhadap kehidupannya

Menurut Masrun dkk dalam bukunya jurnal kemandirian anak, membagi kemandirian dalam lima komponen sbb :

a. MERDEKA, anak bertindak atas kehendak sendiri, bukan karena orang lain dan tidak bergantung orang lain

b. PROGRESIF, berusaha mengejar prestasi, tekun, terencana dalam mewujudkan harapannya.

c. INISIATIF , mampu berpikir dan bertindak secara original, kreatif dan penuh inisiatif

d. TERKENDALI DARI DALAM,  individu yang mampu mengatasi masalah yang dihadapi, mampu mengendalikan tindakannya serta mampu mempengaruhi lingkungan .

e. KEMANTAPAN DIRI, memiliki harga diri dan kepercayaan diri, percaya terhadap kemampuan sendiri, menerima dirinya dan memperoleh kepuasan dari usahanya.

Kemandirian-kemandirian tersebut di atas akan sangat penting kita persiapkan hari ini, karena anak-anak kita nanti akan memasuki pendidikan abad 21, yang memerlukan ketrampilan kemandirian yang  lebih untuk mencapainya.

Sumber Bacaan :
Masrun dkk, Jurnal Kemandirian Anak, diakses melalui www.lib.ug.co.id,

Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Melatih Kemandirian Anak, Gaza Media,2016

Trilling dan Fadel, 21st century skills, 2009

-- 

Bunsay cemilan Rabu 3 Juli 2017

🍓🍉🍒🍐🍇🍍
Cemilan Rabu 3

🍒MENDIDIK KEMANDIRIAN EMOSI🍒

Seorang lelaki duduk beristirahat dibawah pohon. Matanya menatap seksama kepompong kecil yang tergantung di cabang pohon tempatnya berteduh. Kepompong itu bergerak-gerak, nampaknya ada yang berusaha keluar dari dalam kepompong itu. Sungguh kesempatan langka, pikir si lelaki. dan iapun memperhatikan dengan lebih seksama. Cukup lama juga, kepompong itu terus bergerak-gerak, hingga akhirnya sedikit tersobek di salah satu sisinya. sobekan itu masih sangat kecil, belum cukup untuk pintu keluar bagi si penghuni kepompong. Maka iapun masih terus mengeluarkan tenaga, yang menyebabkan kepompongnya terus berguncang.

Lama kelamaan, si lelaki merasa jatuh kasihan, begitu banyak tenaga sudah dikeluarkannya, belum juga si penghuni berhasil keluar. Dilihatnya kepompong itu lebih dekat. Rupanya sobekannya masih juga terlalu kecil. Akhirnya diambilnya inisiatif untuk menolong si penghuni itu untuk bisa segera keluar. Segera diguntingnya kepompong tersebut sehingga terbuka lebar sisinya, agar si calon kupu-kupu bisa segera keluar.

Tapi sungguh diluar dugaan, yang keluar dari kepompong itu bukanlah kupu-kupu cantik, tetapi kupu-kupu dengan bentuk aneh. Kepala dan perutnya besar, sementara sayapnya lemah tak bisa terentang. Kupu-kupu cacat itu langsung terjatuh ke tanah, dan hanya bisa menggelepar-gelepar tak berdaya.

Ternyata tindakan si lelaki untuk menolong dengan menggunting kepompong itu yang justru menyebabkan cacatnya kupu-kupu itu. Sesungguhnya susah payahnya si kupu-kupu keluar dari kepompong, termasuk proses akhir pertumbuhan bandannya. Melalui kerja kerasnya mengguncang kepompong sampai tersobek itulah yang justru akan mengecilkan kepala dan badannya hingga ke ukuran yang pas. Sementara otot sayapnya menjadi kuat sehingga cukup kuat untuk mengepakkan sayapnya.

Tetapi campur tangan seseorang mengeluarkannya terlalu cepat, maka proses pertumbuhan terakhir itu tak sempat dilewatinya. Yang terlahir adalah kupu-kupu berkepala dan badan yang bengkak, dengan sayap yang loyo tak berkekuatan.

🍒CAMPUR TANGAN YANG MERUSAK🍒

Seperti kupu-kupu itu pulalah nasib anak-anak kita, jika orang tua terlalu banyak ikut campur tangan dalam pembentukan kemandirian emosi mereka. Ketika anak sudah sampai pada tahap pengendalian diri maka hampir seluruh upaya mereka lakukan sendiri. Orang tua hanya berperan sebagai fasilitator saja.

Saat anak berupaya mengendalikan emosi kemarahan, kesedihan atau kekecewaan yang menyerang dirinya, maka ayah ibu hanya bisa memotivasi saja, sementara si anaklah yang harus memutuskan sendiri, apakah ia akan lakukan atau tidak. Jika orang tua memberikan campur tangan dan bantuan untuk menyelesaikan masalah anak, maka anak tidak akan memperoleh pembelajaran hidup.

Ketika dua orang anak bertengkar, bukanlah tugas orang tua untuk melerai dan memutuskan siapa yang bersalah dan harus minta maaf. tetapi semestinya anak-anak itu sendirilah yang menyelesaikannya. Yang bisa dilakukan orang tua adalah memotivasi kedua anak yang sedang berseteru untuk berempati satu sama lainnya, sehingga perseretuan bisa diakhiri. Masing-masing bisa menghormati hasil fikiran temannya serta saling menghormati.

Bisa saja orang tua memaksa salah satu pihak yang dianggapnya salah untuk mengaku  salah dan minta maaf, tetapi bukannya menyelesaikan masalah, justru akan memperburuk masalah. Bukannya empati yang timbul dihati anak tapi justru rasa iri, merasa dipojokkan , pilih kasih  yang menimbulkan rasa dendam.

Disinilah orang tua belajar tega untuk tidak buru-buru menolong anak yang sedang berjuang menempuh ujian kehidupan. sehingga orang tua tidak terlibat dalam campur tangan yang merugikan. Sepintas nampaknya menolong anak keluar dari kesulitan yang dihadapi, akan tetapi justru menggagalkan pengembangan kemandirian emosi anak.

Salam ibu profesional
/Tim Fasilitator Bunsay 2/

Sumber Inspirasi
    Istadi, Irawati. Melipat Gandakan Kecerdasan Emosi Anak. Bekasi. Pustaka Inti:2006

Bunsay cemilan rabu 2 juli 2017

🍓🍇 Cemilan Rabu #2 🍇🍓

CIRI ANAK MANDIRI DAN TAHAPAN PERKEMBANGAN KEMANDIRIAN

Kemandirian anak usia dini berbeda dengan kemandirian remaja ataupun orang dewasa. Jika pengertian mandiri untuk remaja dan orang dewasa adalah kemampuan seseorang untuk bertanggung jawab atas apa yang dilakukan tanpa membebani orang lain, sedangkan untuk anak usia dini adalah kemampuan yang disesuaikan dengan tugas perkembangan.

Adapun tugas-tugas perkembangan untuk anak usia dini antara lain belajar berjalan, belajar makan, berlatih berbicara, koordinasi tubuh, kontak perasaan dengan lingkungan, pembentukan pengertian, dan belajar moral.

Empat ciri kemandirian anak yang perlu diketahui:
1. Anak dapat melakukan segala aktivitasnya secara sendiri meskipun tetap dengan pengawasan orang dewasa.
2. Anak dapat membuat keputusan dan pilihan sesuai dengan pandangan, pandangan itu sendiri diperolehnya dari melihat perilaku atau perbuatan orang-orang di sekitarnya.
3. Anak mampu bersosialisasi dengan orang lain tanpa perlu ditemani orang tua.
4. Anak bisa mengontrol emosinya bahkan dapat berempati terhadap orang lain.

Lima tahapan perkembangan kemandirian anak yaitu:
1. Anak mampu mengatur kehidupan dan diri anak sendiri, misalnya: makan, ke kamar mandi, mencuci, membersihkan diri, dan memakai pakaian sendiri.
2. Anak bisa melaksanakan ide-ide anak sendiri dan menentukan arah permainan.
3. Anak bisa mengurus hal-hal yang ada dalam rumah dan bertanggung jawab terhadap sejumlah pekerjaan domestik, mengatur bagaimana menyenangkan dan menghibur diri sendiri dalam alur yang diperbolehkan, dan mengelola uang saku sendiri.
4. Anak bisa mengatur diri sendiri di luar rumah, misalnya di sekolah, menyelesaikan pekerjaan rumah, menyiapkan segala keperluan kehidupan sosial di luar rumah.
5. Anak mampu untuk mengurus orang lain baik di dalam rumah maupun di luar rumah, misalnya menjaga adiknya ketika orang tua sedang mengerjakan sesuatu yang lain.

Dalam mendidik anak mandiri ini dibutuhkan kesabaran dan pengetahuan yang cukup.  Jangan lupa bahwa anak bukanlah miniatur orang dewasa.  Oleh karena itu anak tidak boleh dituntut menjadi orang dewasa sebelum waktunya.

Salam Ibu Profesional,
/Tim Fasilitator Bunda Sayang/

📚 Sumber bacaan :
http://www.al-maghribicendekia.com/2013/09/ciri-anak-mandiri-dan-tahapan

Mba tami 'menjadi ibu'

MENJADI IBU
❤Jayaning Hartami

Menjadi seorang ibu mungkin adalah komitmen jangka panjang paling epik yang pernah dibuat seorang perempuan dalam hidupnya.

Bayangin aja,

Waktu 24 jam yang tadinya bebaaaas mau kita atur sedemikian rupa untuk bisa ngelakuin banyak hal, setelah jadi Ibu? Sok aja coba kalo bisa 😅

Karena setelah jadi ibu, anak menjelma jadi pusat gravitasi dalam hidup kita.

Mulai dari bangun pagi, sampai tidur lagi. Semua adalah soal mengurus keperluan bocah bocah aktif ini.

Bocah yang gak paham ibuknya pengen selonjoran barang 5 menit. Bocah yang ga mau tau, kalo ibuknya kepingin sebentaaaaar aja bisa liat perabotan rumah rapih ala ala scandinavian biar bisa ikutan pamer di instagram pake hestek #myhomedecor. Mwahahaha..

Belum lagi soal bahwa mengasuh anak bukan sekedar ngasih makan, beliin baju, dan ngawasin main di taman.

Tapi soal mendidik. Soal menanamkan value dan segala perilaku baik lainnya. Tentang memberikan yang terbaik dari apa yang kita punya.

Maka dimulailah segala istilah baru itu hadir ke hidup kita. Mulai dari ASIX, ASIP, MPASI, homeschooling, unschooling, weaning, toilet training, dan -ing -ing lainnya yang kalo disebut berasa keren banget dah di lidah 😂

Seriously, pernah gak merasa takjub bahwa kita orang, -para mamah muda ini- mampu melakukan banyak hal yang gak terbayang sebelumnya?

Mungkin kita dulunya adalah aktivis kampus. Paling cepet turun pas ada jarkom soal aksi mahasiswa. Berani jadi border, dan ikut neriakin mars perjuangan kampus. Biasa terlihat tegas, galak, dan "sangar"

Tapi setelah jadi Ibu?

Siapa yang sangka bahwa ternyata kita berubah menjadi makhluk ga tegaan? Yang bisa bernada lembut saat menemani anak mengeja a-ba-ta. Yang pas malem diem diem nangis ketika melepas si dua tahunnya disapih. Lah ini mah curhat namanya, Tam 😂

Mungkin kita dulunya adalah si cerdas prestatif kebanggaan semua orang. Jangankan jadi ibu, bakal kawin cepet aja orang orang gak nyangka. Terbayang dulunya perempuan semodel ini, pastilah akan sibuk menuntut ilmu dan kompetisi disana sini. Lanjut sekolah sampai ke luar negeri. Membelakangkan persoalan menemukan jodoh dan membangun rumah tangga..

Tapi disinilah kita. Berada diantara bocah yang energinya melonjak lonjak senantiasa. Duduk membacakan buku sembari menjawab celetukan pertanyaan yang serba ingin tahu. Dimanakah perempuan yang dahulu prestatif itu? Ia masih ada disini. Meski kompetitifnya gak lagi tentang menjuarai lomba, tetapi tentang mendidik dan mengantar anak anaknya menuju syurga..

Mungkin kita dulu adalah wanita karir yang punya banyaaaak sekali waktu luang selepas jam kerja usai. Untuk sekedar surfing internet, nonton film terbaru, bebas pergi ikut kajian ini itu, atau menghabiskan akhir pekan dengan kongkow bersama kawan.

Setelah jadi ibu?

Pulang tenggo adalah hal yang sangaaat kita tunggu tunggu. Berdesakkan di kereta, di bus kota.., tapi hati begitu berbunga mengingat beberapa puluh menit lagi akan bertemu bocah yang bau asemnya ngangenin jiwa. Gak ada lagi rasa perlu nyobain cafe ini itu. Karena selain bikin nyampe rumah jadi lebih lama, mending juga duitnya buat beli buku buku yang lagi diskon di Emaknya Qila. Eh kan aah, keceplosan ngiklan lagi sayaaa.. 😅

Mungkin suatu hari kau merasa lelah sekali melakukan semua rutinitasmu sebagai ibu dan istri, lalu tiba tiba saja merindukan masa masa single dahulu.

Rindu untuk bisa aktif disana sini, tanpa harus repot digelayuti bocah sepanjang hari..

Rindu bisa duduk manis menyimak kajian sampai akhir materi, tanpa diinterupsi rengekan anak yang merasa bosan dan minta pulang..

Rindu tampil di depan. Mempresentasikan laporan kerja tahunan. Dengan blazer rapih, apresiasi, dan tepukan tangan. Sementara di hadapan bocah 2 tahun, jangankan tepuk tangan, udah sungguh sungguh nyiapin masakan aja nih ya, ehhh dilepeh gak karuan 😂

Rindu menghabiskan waktu luang dengan melakukan hobi yang dimiliki. Karna sekarang.., HAH? Apa itu waktu luang?? Huahahaha.. orang orang sih ngeliat kita seharian di rumah. Dia kagak tau aja kesibukan kita ngalah-ngalahin Nia Ramadhani yang liburan ke luar negeri tiap 3 bulan sekali. Kkkkkk...

Terkadang rindu kita sederhana.

Rindu bisa makan tanpa rengekan. Rindu bisa duduk sebentar, tanpa mendengar anak bertengkar. Rindu menjadi "egois" dan cukup memikirkan kepentingan sendiri..

Tapi setiap kali melihat wajah mungil di rumah kita. Mendengar suara tawa dan tangisnya. Melihatnya tumbuh dari bayi yang gak bisa apa apa, menjadi anak yang bisa diajak bicara, bercanda, dan sibuk mempertanyakan banyak hal pada ibunya.

Kita pun sadar bahwa bahagia kita sudah berubah maknanya.

Liat anak tertatih jalan tanpa pegangan, hati kita bisa bahagia luar biasa. Mendengar anak tetiba nyeletuk, "Ma-Ma!", bangganya gak kira kira. Mengantar anak masuk sekolah untuk pertama kalinya? Ah, Mak.. coba ngaku hayo, situ nganternya sambil diem diem ngapus air mata kan? Sama. Saya juga. Huahahaha..

Lihat, Bu.

Bahagia gak lagi kita letakkan pada diri sendiri. Tapi pada mereka, anak anak tercinta.

Lalu diantara rengekan bocah, berantakannya rumah, kubangan susu tumpah, dan kelelahan parah.. kau sadari bahwa label duniawi tak lagi menarik hati.

Bahagiamu sudah ada di sini. Di rumahmu sendiri.

Bunsay cemilan rabu 1 Juli 2017

☘☘ *Cemilan Rabu 1*☘☘
12 Juli 2017

*KEMANDIRIAN*

Kemandirian atau bergantung pada diri sendiri adalah konsep yang harus diperhatikan untuk ditanamkan pada jiwa anak.
Banyak anak yang menjadi kurang mandiri pada era sekarang ini. Hal ini nampak jelas dirumah-rumah karena mereka sering kali bergantung pada pembantu. Begitu juga dalam mengerjakan tugas - tugas dan belajar. Sikap tersebut membuat nilai kemandirian pada anak berkurang.
Dengan demikian, pada orangtua dan pendidik harus melatih anak agar belajar percaya diri serta dapat mandiri dalam perkara ibadah dan kehidupan.

Berikut beberapa hal yang dapat membantu untuk menanamkan nilai kemandirian pada diri anak.

*1.* *_Membiasakan Anak untuk Mengerjakan Urusan Rumah Sendiri_*

Misalnya, merapikan kamar, belajar dan mengerjakan tugas dengan tetap memberikan perhatian untuk membantunya pada saat tertentu.

*2.*  *_Membiasakan  Anak untuk Membeli Sesuatu dari Toko (Warung) dan Memberi Mereka Tugas Kecil_*

Misalnya  memberikan mereka catatan belanja dan membiarkan mereka belanja sendiri, lakukan berkali-kali sampai akhirnya mereka terlatih.

*3.* *_Pemilihan Baju_*

Memberikan kesempatan kepada anak untuk memilih bajunya sendiri. Saat tidak cocok kita bisa bertanya dan mengarahkannya saja.

*4.* *_Kemandirian Iman_*

Kemandirian Iman maksudnya adalah kita mengajari anak untuk menjaga ibadahnya sendiri. Ini juga tidak berarti membiarkannya, dan kita tetap harus mengawasi dengan tepat dan dan mengingatkannya  untuk beribadah.

*5.* *_Mengajarinya Perencanaan Sederhana_*

Misal membuat jadwal yang harus anak kerjakan setiap harinya dengan sederhana saja. Hal ini akan membantunya merencanakan aktivitasnya dengan baik, dengan demikian anak bisa belajar cara mengatur waktunya dan menjaganya agar efektif.

*6.* *_Mengambil Manfaat dari Rekreasi dan Perjalanan dalam Menanamkan Konsep  Kemandirian_*

Misal menjadikannya penanggung jawab dalam hal merapikan kamar atau mengelola sejumlah uang. Hal ini akan membantunya mandiri dalam mencari cara untuk menyelesaikan sesuatu yang dituntut darinya.

*7.* *_Kerjasama_*

Agar dalam kemandirian tidak menimbulkan hal-hal yang kurang baik seperti individualisme, sombong, dan rasa tidak memerlukan orang lain, perlu ditanamkan konsep bekerja sama dengan orang lain dalam bentuk yang baik.

Itulah beberapa cara yang dapat membantu kita menanamkan konsep kemandirian dan bergantung pada diri sendiri di jiwa anak. Jika konsep ini dilakukan dengan baik,  akan lahir generasi positif dengan izin Allah ta'ala.semoga bermanfaat... 🙏�

Salam Ibu Profesional
/Tim Fasilitator Bunda Sayang /

Sumber
Dr.  Yaser Nashr, _Mencetak Anak Berkarakter Positif, Unggul, Kreatif dan Berakhlak Mulia_

Bunsay Kembali ke fitrah

*KEMBALI KE FITRAH*

_Oleh : Septi Peni Wulandani_

" _Tetaplah pada fitrah Allah yang telah menciptakan manusia atas fitrah itu. Tiada perubahan atas fitrah Allah_ "

Fitrah pada dasarnya tidak bisa berubah atau rusak, yang ada adalah terpendam, tersamar, tersimpangkan dari sisi penggunanya yaitu kita manusia.

Setiap kita lahir dalam keadaan beriman, bersaksi bahwa Allah sebagai RabbNya. Tidak ada yang tidak cinta Tuhannya, tetapi mengapa kadang DIA kalah dengan segala seduatu yang dipertuhankan manusia di muka bumi ini.

Setiap manusia secara fitrah lahir sebagai pembelajar sejati. Tidak ada yang tidak suka belajar, kecuali fitrahnya disimpangkan. Setiap dari kita lahir unik, masing-masing membawa potensi produktif untuk menjalankan misi spesifik hidupnya, tetapi mengapa sekarang kita takut untuk berbeda dari yang lain. Setiap perempuan  memiliki fitrah keibuan dan setiap laki-laki memiliki fitrah keayahan, tetapi mengapa masih ada saja yang tidak menjalankan peran tersebut dengan sebaik-baik peran.

Allah selalu memberikan jalan untuk mengembalikan fitrah kita sepanjang hidup kita.

Ramadhan adalah bulan Pendidikan, yang mengembalikan semua proses kehidupan dari rutinitas kepada kesadaran.

Syawal adalah bulan peningkatan, agar kita bisa mengembalikan kehidupan ini sesuai fitrahnya . Setahap demi setahap kita diberikan waktu untuk bisa konsisten dan komitmen di bulan-bulan berikutnya untuk tetap berjalan pada fitrah kita. Ada beberapa tahapan yang perlu kita lakukan mulai bulan syawal ini sampai Ramadhan tahun berikutnya :

1⃣Banyaklah mensucikan diri (tazkiyatunnafs) yaitu menguatkan tekad dan janji janji hanya kepada Allah,

2⃣Memperbanyak mendekat kepadaNya,

3⃣Menjalankan kehidupan ini dengan penuh keyakinan dan prinsip keimanan.

4⃣Senantiasa melakukan muhasabah ( mengevaluasi diri)

5⃣Bersungguh sunguh berusaha mengembalikan semua aspek fitrah ini (mujahadah).

Insya Allah Ramadhan yang akan datang kita bisa dipertemukan kembali dengan derajat kemuliaan yang lebih tinggi, sehingga kita layak naik kelas di program pendidikan fitrah berikutnya.

🙏Taqabbalallahu minna wa minkum

_Mohon maaf lahir dan batin_

Selamat kembali ke fitrah,

Salam Ibu Profesional,

Dokumentasi bulan ke1 bunsay

Ohiya, ini ada dokumentasi keberjalanan kelas selama sebulan ini . Barangkali ada yg perlu, mungkin ada yg kelewat belum dibintangin, atau belum sempat scroll, atau ingin simpan saja hehe 🙂
Punten belum di short link nya, bitlink nya error terus drtdi eheu 😔
Mangga 😁

https://drive.google.com/folderview?id=0BzPr7pem2b28RjdQalJTdmtIaG8

Review komunikasi produktif

*_Review Tantangan 10 Hari_*
_Materi Bunda Sayang #1 :_
_Institut Ibu Profesional_
*KOMUNIKASI PRODUKTIF*

Pertama, Kami ucapkan selamat kepada teman-teman yang telah melampaui tantangan 10 hari dalam berkomunikasi produktif, dinamika yang terpancar dalam tantangan 10 hari ini sungguh beragam. Mulai dari memperbincangkan hal teknis sampai dengan tantangan nyata komunikasi kita dengan diri sendiri, dengan pasangan dan dengan anak-anak. Mungkin beberapa diantara kita tidak menyadari pola komunikasi yang terjadi selama ini, tetapi setelah mengamati dan menuliskannya selama 10 hari berturut-turut dengan sadar, baru kita paham dimana titik permasalahan inti dari pola komunikasi keluarga kita.

*KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI*

Dari “TANTANGAN 10 HARI” sebenarnya kita bisa melihat pola komunikasi dengan diri kita sendiri, bagaimana kita memaknai satu kalimat di atas.

Limit yang kita tentukan bersama di tantangan ini adalah 10 hari, maka kita bisa melihat masuk kategori tahap manakah diri kita :

*a. Tahap Anomi* : Apabila diri kita belum memperlihatkan tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, belum mulai menulis tantangan 10 hari satupun, karena mungkin belum memahami makna dari sebuah konsistensi.

*b.Tahap Heteronomi* : Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, tapi belum konsisten. Kadang menuliskannya, kadang juga tidak. Hal ini karena dipicu oleh pemahaman dan mendapatkan penguatan dari lingkungan terdekat yang membentuk opini dan persepsi sendiri.

*c. Tahap Sosionomi* : Apabila diri kita sudah mulai memperlihatkan adanya tanda-tanda awal perilaku yang dinyatakan dalam indikator, dan sudah mulai konsisten. Menjalankan tantangan tepat 10 hari. Hal ini karena dipicu sebuah kesadaran dan mendapat penguatan dari lingkungan terdekat.

*d. Tahap Autonomi* : Apabila diri kita terus menerus memperlihatkan perilaku yang dinyatakan dalam indikator secara konsisten, tidak  hanya berhenti pada tantangan 10 hari, anda terus melanjutkannya meski tidak ada yang menyuruh, tidak ada yang menilai. Berkomunikasi produktif sudah menjadi budaya dalam kehidupan anda.
“10 Hari” adalah Limit terendah kita, hal tersebut hanyalah sebuah tetapan untuk mempermudah tercapainya sebuah tujuan.

Maka komunikasi kita dengan diri sendiri harus bisa terus mengupgrade limit tersebut. Dari sekarang kita harus paham benar bahwa limit kita adalah unlimited. Tidak ada yang mampu membatasi kita kecuali diri kita sendiri. Dengan konsep tersebut maka tidak ada yang tidak mungkin. Tentukan limit anda setinggi mungkin untuk diraih dan selalu diperbarui. Kuncinya adalah komunikasi produktif dengan diri sendiri.

_The greater danger of most of us is not that our aim is too high and we miss it, but it is too low and we reach it_ – Bahaya besar bukan karena kita mempunyai target tapi tak mampu mencapainya. Akan jauh lebih berbahaya jika kita mempunyai target yang terlalu rendah dan kita berhasil mencapainya – Michael angelo

Bunsay cemilan rabu 3

💡Cemilan Rabu 3💡
14 Juni 2017

_Ratna dan Galih bersiap untuk pergi ke resepsi pernikahan sahabat Ratna. Ratna telah membeli gaun baru dan ingin tampil sempurna. Dia memegang dua pasang sepatu, yang pertama berwarna biru, dan yang kedua berwarna keemasan. Kemudian Ratna mengajukan pertanyaan pada Galih, pertanyaan yang paling ditakuti para pria, “Sayang, sepatu yang mana yang cocok untuk gaun ini?”_

_Rasa dingin menjalari punggung Galih. Ia tahu ia dalam kesulitan. “Ahh … umm … yang mana saja yang kamu suka, sayang,” jawabnya dengan tergagap._

_“Ayolah, mas,” desak istrinya dengan tidak sabar. “Yang mana yang lebih bagus … Yang biru atau yang keemasan?_

_“Keemasan!” sahut Galih gugup._

_“Emangnya apa yang salah dengan sepatu biru ini?” tanya Ratna. “Kamu memang ngga suka kan aku beli sepatu ini, Mas!”_

_Bahu Galih melorot. “Kalau kami ngga terima pendapatku, jangan bertanya dong!” katanya. Galih pikir istrinya bertanya untuk menyelesaikan “masalah”, tetapi ketika ia memberikan jawaban, istrinya sama sekali tidak berterima kasih._

🔅🔅🔅🔅🔅

Apakah Bunda pernah mengalami hal serupa di atas? 😊

Jika YA, sampaikan tips ini pada suami Bunda ya. Bantulah suami memahami kebutuhan dan keinginan Bunda dengan cara yang positif.

💡 *TIPS MENGATASI SEPATU BIRU ATAU MERAH* 👠

Apa yang harus dilakukan pria jika mendapatkan pertanyaan “sepatu biru atau merah”?

❎ Tidak “terjebak” memilih
✅ Balik bertanya ➡ “Kamu sudah memilihkan, sayang?”
✅ Puji apapun pilihan akhir wanita

*OTAK DAN BICARA*

Dr. Tonmoy Sharma, kepala pengajar psikofarmakologi di Institut Psikiatri, London, pada tahun 1999 melakukan scan otak MRI. Hasilnya, pria memiliki sedikit titik penting dalam otak untuk fungsi bicara, yaitu seluruh belahan otak kiri aktif, namun MRI tidak dapat menemukan banyak pusat bicara.

Sedangkan pada wanita, keterampilan berbicara berada dibelahan otak kiri depan, dan masih ditambah di area yang lebih kecil dibelahan kanan.

Karena memiliki area berbicara di kedua belahan, selain membuat wanita pandai berkomunikasi, hal ini membuat wanita menikmati berbicara dan banyak melakukannya. Hal ini memungkinkan wanita dapat mengerjakan pekerjaan lain sambil terus bicara ( _multi tasking_ ).

*WANITA BUTUH BICARA*

Otak pria terbagi-bagi dan memiliki kemampuan untuk memisahkan dan menyimpan informasi. Pada akhir hari yang penuh masalah, otak pria yang _mono-tracking_ dapat menyimpan semua masalah tersebut.

Berbeda dengan otak wanita, masalah wanita terus berputar di dalam kepalanya. Satu-satunya cara wanita melepaskan masalah dari kepalanya adalah membicarakan masalah tersebut untuk mengungkapkannya. Karena itu, saat seorang wanita bicara diakhir harinya, tujuannya adalah untuk melepaskan ganjalan hatinya, bukan untuk mendapatkan kesimpulan atau solusi.

*BERPIKIR*

Apa yang dilakukan oleh pria jika mendapatkan tantangan?

Jawaban populer : _“Serahkan padaku”_ atau _“Akan Aku pikirkan”_.

Pria berpikir dalam diam, curhat tanpa suara dengan diri sendiri, dengan wajah nyaris tanpa ekspresi.

*Kelemahan :*
Wanita salah sangka menganggap pria tersebut pendiam, murung dan tidak ingin bersamanya.

Apa yang dilakukan wanita ketika berpikir?

Berpikir keras-keras = berbicara secara acak sekaligus mendaftar segala kemungkinan dan pilihan solusi.

*Kelemahan :*
Pria salah paham menganggap wanita “memberinya” sederet masalah dan mengharapkan solusi. Hal ini membuat pria cemas, marah, atau mencoba memberikan solusi. dalam dunia kerja, pria menilai wanita yang berpikir keras-keras sebagai wanita yang tidak disiplin dan tidak cerdas.

🔅🔅🔅🔅🔅

Dalam sehari, wanita memiliki 21.000 kata yang harus dikeluarkannya. Bandingkan dengan pria yang hanya memiliki ⅓-nya yaitu 7.000 kata. Perbedaan ini menjadi jelas dipenghujung hari ketika pria dan wanita bertemu setelah aktivitas harian masing-masing. Pria yang telah menghabiskan 7.000 katanya di tempat kerja tidak berkeinginan berbicara lagi. Sementara wanita tergantung aktifitasnya hari itu. Jika ia menghabiskan hari dengan berbicara dengan orang lain, mungkin ia telah menggunakan jatah katanya hari tersebut dan hanya sedikit berkeinginan berbicara lagi dengan pria pasangannya (berbicara bagi wanita adalah membangun hubungan). Jika wanita itu di rumah saja bersama anak-anaknya yang masih kecil-kecil, wanita itu akan beruntung jika dia sudah menggunakan 2.000 - 3.000 katanya. Ia masih memiliki sekitar 15.000 kata lagi yang bisa diucapkannya!

Proses wanita berbicara pada pasangan di penghujung hari dengan sisa kata yang ada sering disalah artikan oleh pasangannya sebagai cerewet dan omelan. Hal ini karena pria yang telah kehabisan kata tersebut menginginkan kedamaian dan ketenangan. Masalah muncul ketika wanita mulai kesal karena merasa tidak ditanggapi dan diabaikan.

*Ketika pria tidak berkata apa-apa (diam), serta merta wanita merasa dirinya tidak dicintai.*

Tujuan wanita berbicara adalah bicara.

Tetapi, menurut pria, ketika wanita menceritakan masalahnya tanpa henti maka itu adalah sebuah kode permohonan untuk mendapatkan solusi. Dengan otak analitisnya, pria akan memotong pembicaraan pasangannya dan memberikan solusi.

Kabar baik bagi pria :

*Ketika seorang wanita berbicara untuk mengeluarkan kata-kata yang belum sempat diucapkannya hari itu, dia tidak ingin disela dengan solusi untuk masalahnya. WANITA HANYA INGIN DIDENGARKAN.*

Ketika seorang wanita telah selesai berbicara dia akan merasa lega dan bahagia. Wanita akan menilai pasangannya sebagai pasangan yang hebat karena mau menyimak.

Dengan membicarakan masalah sehari-hari, wanita modern mengatasi rasa tertekannya. Mereka menilai percakapan yang terjalin antara mereka sebagai sebuah hubungan dan dukungan.

74% wanita bekerja dan 98% wanita yang tidak bekerja, menyebutkan kegagalan terbesar pasangan mereka adalah mereka enggan berbicara, terutama di penghujung hari sepulang dari aktivitas.

Generasi wanita sebelumnya tidak pernah mengalami ini karena mereka selalu mempunyai begitu banyak anak dan wanita-wanita lainnya yang dapat diajak bicara dan saling mendukung. Sekarang, para ibu yang tinggal di rumah sepertinya tampak kesepian karena ketiadaan teman bicara. Akan tetapi, dengan kemampuan otak yang luar biasa, wanita dapat belajar keterampilan baru yang dibutuhkan untuk bertahan.

*MEMBUAT PRIA MENDENGARKAN/MENYIMAK*

✅Tentukan waktu
✅Tegaskan bahwa Anda butuh/tidak butuh solusi

_“Sayang, Aku ingin ngobrol denganmu tentang pengalamanku hari ini. Setelah makan malam ya. Aku tidak perlu solusi darimu, Aku hanya ingin Kamu mendengarkanku.”_

Kebanyakan pria akan memenuhi permintaan seperti ini karena jelas waktunya dan tujuannya ➡ sesuai dengan otak pria.

Sebaliknya, jika Anda membutuhkan solusi/masukan, perhatikan :

✅Choose the right time
✅Penuhi kebutuhannya
✅Tegaskan kebutuhan Anda akan solusi

_“Sayang, Aku ingin ngobrol denganmu tentang perkembangan belajar Arya. Setelah Arya tidur ya. Aku butuh masukanmu sayang.”_

*WANITA DAN SUARA*
Penelitian menunjukkan, dalam dunia kerja, seorang wanita yang bersuara lebih dalam dianggap lebih cerdas, berwibawa dan dapat dipercaya. Untuk mendapatkan suara yang lebih dalam, Anda dapat berlatih merendahkan dagu, berbicara lebih lambat dan monoton.

Di lapangan, untuk mendapatkan kewibawaan, banyak wanita yang menaikkan suaranya, padahal hal tersebut justru memberi kesan agresif dan kontraproduktif.

/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2/

📚 Sumber Bacaan :
Why Men Don't Listen and Women Can't Read Maps Mengungkap Perbedaan Pikiran Pria dan Wanita Agar Sukses Membina Hubungan,
Allan + Barbara Pease

Bunsay cemilan rabu 1

🎀 *Cemilan Rabu #1* 🎀
31 Mei 2017

*Komunikasi Produktif, Komunikasi Efektif*

Seberapa pentingnya komunikasi? Dari komunikasi, orang dewasa dan anak-anak belajar tentang agama, values, dan sebagainya. Komunikasi juga menentukan konsep diri anak/ _self concept_ yang nantinya akan menentukan harga diri/ _self value_ dan percaya diri/ _self confidence_ anak. Inilah mengapa materi Komunikasi Produktif menjadi awal dari segala materi.

Kunci dalam komunikasi ialah *perasaan*.  Jika ingin nasehat atau pesan kita diterima oleh orang lain terutama anak kita, yang diperlukan ialah memahami perasaannya terlebih dahulu. Karena pada dasarnya, manusia memiliki lima kebutuhan dasar dalam komunikasi yaitu agar perasaannya Di dengar, Di kenali, Di terima, Di mengerti, dan Di hargai (5D) yang merupakan kunci komunikasi.

Kadang secara tidak sengaja kita salah berbicara kepada anak untuk mendapatkan hasil instan (misal: agar anak cepat diam dari tangisnya). Kesalahan Komunikasi ini menimbulkan dampak yang disebut dengan *Verbal Abuse*, meski terjadi secara tidak sengaja tetapi hal ini dapat merusak jiwa anak dan efeknya baru terlihat dalam jangka panjang.

Berikut akibat kesalahan komunikasi pada anak:
♻ Melemahkan konsep diri
♻ Membuat anak diam, melawan, tidak perduli, sulit diajak kerjasama
♻ Menjatuhkan harga dan kepercayaan diri anak
♻ Kemampuan berfikir menjadi rendah
♻ Tidak terbiasa memilih dan mengambil keputusan bagi diri sendiri
♻ Iri
♻ Menjadi generasi yang BLAST (teori Mark Kaselmen) merupakan singkatan dari Boring-Lonely-Angry/Afraid-Stress-Tired yang akhirnya mengakibatkan beberapa penyimpangan sosial.

Selain kata-kata, yang harus diperhatikan dalam berkomunikasi ialah bahasa tubuh. *“Action is louder than words”*

Lalu bagaimana cara berkomunikasi yang baik, benar dan menyenangkan pada anak ? (Langkah-langkah berikut ini pada dasarnya bisa digunakan kepada siapa saja lawan bicara kita)

*1. Jangan bicara tergesa-gesa*
Siapa yang tidak pernah merasa bahwa waktu “sempit” atau “sedikit”? Tapi bicara tergesa-gesa akan membuat pesan yang kita sampaikan gagal diterima otak anak. Hindari bicara tergesa-gesa,  apalagi sambil marah-marah dengan muka garang tanpa senyum. Bahkan jika bisa, cobalah tersenyum. Senyum dapat mengaktifkan hormon seretonin yang membuat kita merasa senang. Ingat, jika perasaan senang, otak bisa menyerap lebih banyak!

*2. Ingat: Setiap pribadi unik*
Hargai setiap pribadi lawan bicara kita. Allah telah menciptakan setiap manusia unik dan berbeda-beda (lihat QS 3:6), maka jangan samakan dirinya dengan kita apalagi orang lain.

*3. Kenali diri sendiri dan anak*
Kebanyakan orang yang belum mengenal diri masih terpaku dengan rutinitas.
Masih ingat aktifitas dinamis? Orang yang telah banyak mengelola aktifitas dinamis bisa jadi telah lebih dulu mengenal siapa dirinya (be do have). Sehingga mereka cenderung mudah memanage diri, waktu dan kondisi di sekitar mereka.
Karena itu, ambillah waktu untuk mengenali diri sendiri dan anak atau siapapun orang terdekat kita. Dengan lebih mengenal anak, akan lebih mudah kita berkomunikasi dengannya. Sisihkan waktu tertentu untuk bisa berduaan hanya dengan anak/pasangan.

*4. Pahami perbedaan _needs_ dan _wants_*
Setiap pribadi unik, begitu juga dengan kebutuhan (needs) dan kemauan (wants) -nya. Bedakan kebutuhan dan kemauan kita dengan anak. Misalnya, anak mau bermain terus, namun ia butuh mandi atau makan. Coba pahami kemauannya, selami dunianya, baru kemudian beritahu anak apa yang sesungguhnya menjadi kebutuhannya.

*5. Pahami “Masalah Siapa?”*
Siapa yang sebenarnya memiliki masalah? Saya atau anda? Kadang, kita mencampurkan masalah kita dengan orang lain, atau masalah orang lain dengan kita. Sebelum berkomunikasi, analisa siapakah yang bermasalah? Apakah perlu dibantu atau tidak? Misal ketika anak dihadapkan pada suatu masalah, ini adalah kesempatan anak untuk berpikir, memilih, dan mengambil keputusan (BMM). Jika anak dibimbing untuk membuat pilihan dan mengambil keputusan, ia akan tumbuh menjadi anak yang mandiri dan bertanggung jawab.

*6. Baca bahasa tubuh*
Bahasa tubuh lebih nyaring dari kata-kata. Dalam komunikasi 55% berisi bahasa tubuh, 38% nada suara dan sisanya hanya 7% yang ditentukan oleh kata-kata. Karena itu, bahasa tubuh tidak pernah bohong. Baca bahasa tubuh anak untuk mengerti apa yang ia rasakan.

*7. Dengarkan Perasaan*
Kunci komunikasi ialah perasaan. Maka cobalah dengar perasaannya dengan menebak apa yang sedang ia rasakan dari bahasa tubuhnya. Misalnya, “Adik sedang kesal/marah/jengkel ya?”, “Adik sedih ya karna mainannya hilang?”. Dengan menerima perasaan anak, anak mau membuka diri, mengeluarkan emosi dan masalahnya. Dengan mengetahui apa masalahnya, kita dapat membantu anak untuk menyelesaikan masalah tersebut.

*8. Mendengarkan dengan aktif*
Jadilah cermin ketika anak bercerita tentang masalahnya. Tunggu dan eksplore perasaannya hingga tuntas, dan berikan respons yang sesuai seperti, “Oooh.. Begitu ya?” “Terus?” “Kamu kesal sekali ya?”. Sediakan ruang bagi emosinya. Jika emosinya sudah mengalir, maka korteks otaknya siap bekerja. Selanjutnya, anak akan lebih mudah menerima informasi dan pesan dari kita.

*9. Hindari 12 gaya populer (parenthogenic)*

Tanpa kita sadari, secara turun temurun 12 gaya komunikasi ini sering kita gunakan dalam percakapan sehari-hari. Ketika anak sedang atau tidak bermasalah pun, jika kita sering meresponnya dengan menggunakan 12 gaya populer ini, anak akan merasa TIDAK percaya dengan emosi atau perasaannya sendiri.

Berikut ialah contoh-contoh 12 gaya populer:
1⃣Memerintah,
contoh: “Mama tidak mau dengar alasan kamu, sekarang masuk kamar dan bereskan kamarmu!”

2⃣Menyalahkan,
contoh: Ketika anak tidak bisa mengerjakan soal PRnya, ayah berkata, “Tuh kan. Itulah akibatnya kalau kamu tidak mendengarkan Ayah dan malas belajar”

3⃣Meremehkan,
contoh: “Masak pakai sepatu sendiri saja tidak bisa, bisanya apa dong Kak?”

4⃣Membandingkan,
contoh: “Kok kamu diminta naik ke panggung saja tidak mau sih Kak, tuh lihat Andi saja mau”

5⃣Memberi cap,
contoh:”Dasar anak bodoh, disuruh beli ini saja salah!”

6⃣Mengancam,
contoh: “Kalau kamu tidak mau makan lagi, kamu tidak akan dapat uang jajan selama seminggu!”

7⃣Menasehati,
contoh: “Makanya, kalau mau makan cuci tangannya dulu, nak… Tangan kan kotor banyak kumannya…”

8⃣Membohongi,
contoh: “Disuntik tidak sakit kok nak, seperti digigit semut aja kok”

9⃣Menghibur,
contoh: Ketika adik menemukan bahwa es krim nya dimakan oleh kakaknya tanpa sepengetahuannya, bunda berkata, “Sudah ya sayang, besok bunda belikan lagi es krimnya, lebih enak dari yang dimakan kakak tadi”

🔟Mengeritik,
contoh: “Lihat tuh! Masak mengepel masih kotor dimana-mana begitu. Mengepelnya yang benar dong!”

1⃣1⃣Menyindir,
contoh: “Hmmm… Pintar ya? Sudah mandi, sekarang main tanah dan pasir lagi”

1⃣2⃣Menganalisa,
contoh: “Kalau begitu, yang mengambil bukumu bukan temanmu, mungkin kamu tinggalkan di tempat lain…”

Aha! makin banyak yang harus kita perbaiki ya, ayo lanjutkan tantangan 10 hari teman-teman, dengan kualitas komunikasi yang semakin bagus.

*10. Gunakan “Pesan Saya”*
Jika kita yang memiliki masalah terhadap anak, gunakanlah “pesan saya” atau “i-message” yaitu dengan:

“Ayah/Ibu merasa …. (isi perasaan kita) Kalau kamu …. (isi perilaku anak) Karena… (isi konsekuensi terhadap diri sendiri/orangtua/orang lain”

Contoh: “Ayah merasa marah kalau kamu tidak mendengarkan ayah bicara karena itu membuat ayah merasa tidak berharga“.

“Pesan saya” memisahkan antara masalah dengan diri anak. Bedakan dengan “pesan kamu”. Pesan kamu menggunakan kamu (yaitu anak) sebagai subjek masalah misalnya, “Kamu tidak pernah mendengarkan ayah!“. Dalam “pesan kamu”, anak tidak bisa membedakan mana masalahnya dan mana dirinya. Hal tersebut jika terus menerus dapat melemahkan konsep diri anak.

/Tim Fasilitator Bunda Sayang 2/

Sumber Informasi:
_Catatan Seminar Elly Risman, artikel_
_Cemilan Rabu Bunda Sayang Batch #1_

Bunsay Komunikasi Produktif

📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚

*KOMUNIKASI PRODUKTIF*

Institut Ibu Profesional

_Resume Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1_
29 Mei 2017
*Fasilitator : Mbak Any*


Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif,  agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan,  baik kepada diri sendiri,  kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.


KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI
Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.

Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.

Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir  dan cara kita berpikir

Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.

Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda

Kata  masalah gantilah dengan tantangan

Kata Susah gantilah dengan Menarik

Kata Aku tidak tahu gantilah Ayo kita cari tahu

Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.

Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.

Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya

Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.

Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.


KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN
Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.

Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.

Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan kita.

FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.

FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.

FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.

Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.

Komunikasi dilakukan untuk MEMBAGIKAN yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.

Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA

Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu,  pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.

Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.

Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi

Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.

Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.

Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa --sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali-- maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.

Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.

Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.

Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:

1. Kaidah 2C: Clear and Clarify
Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.
Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.

2. Choose the Right Time
Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.

3. Kaidah 7-38-55
Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.
Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).
Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?
Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.




4. Intensity of Eye Contact
Pepatah mengatakan mata adalah jendela hati.
Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.

5. Kaidah: I'm responsible for my communication results
Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.
Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.

Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.


KOMUNIKASI DENGAN ANAK
Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.

Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy

Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.

Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.

Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.
Bagaimana Caranya ?

a. Keep Information Short & Simple (KISS)
Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.
✅Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya”  ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)

b. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah
Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh
⛔Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)
✅Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)
Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.

c.  Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”
✅Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”

d.  Fokus ke depan, bukan masa lalu
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”
✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”

e. Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”
Otak kita akan bekerja sesuai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.

f. Fokus pada solusi bukan pada masalah
⛔Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”
✅Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.



g. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan
Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.
⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:
“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”
✅Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”
“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”

h. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman
⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”
✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.

I. Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi
⛔Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?
✅Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya  bahagia sekali di sekolah,  boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”

j. Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati
⛔Kalimat tidak produktif :
"Masa sih cuma jalan segitu aja capek?"
✅kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?

k. Ganti perintah dengan pilihan
⛔kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”
✅Kalimat produktif :
“Kak 30 menit  lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi,  baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat?”


Salam Ibu Profesional,

/Tim Bunda Sayang IIP/

Sumber bacaan:
Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000
Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015
Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014
Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari

📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚

Link youtube : https://youtu.be/qr9j0Xz9oUU

*Sesi Tanya Jawab :*

🙋🏻1⃣ Teh Yola
Pertanyaan:
1.bagaimana caranya menjalin komunikasi produktif dengan pasangan agar tidak berkesan menggurui  
2.bagaimana cara merubah pola komunikasi kita pribadi yang sudah melekat puluhan tahun? Saya sadari intonasi suara yg tegas malah terkesan memaksakan bagi yg mendengar
3. Bagaimana menjalin komunikasi dengan anak yg beranjak abg? Baru sepenggal bicara sudah dipotong😂
Jawaban:
a.  Pertama kita harus belajar memahami FoR dan Foe pasangan kita dulu dan samakan agar menjadi FoR dan FoE kita, kemudian mulai gunakan dan latih kaidah 2C, choose the right time, 7-38-55,dll
Insya Allah pola komunikasi kita akan mulai terasah 
b.  Memang tidak mudah mb mengubah apa yang sudah menjadi kebiasaan kita, namun pelan2 akan bisa kalau kita mulai melatih dengan kaidah2 diatas setahap demi setahap, dan sebelum kita bisa berkomunikasi yg baik dengan pasangan dan anak bukankah kita harus bisa berkomunikasi dengan diri sendiri  dulu. 
Saya ingat Bu Septi pernah bilang seperti ini.."sudah fitrahnya kalau perempuan akan mengalami PMS dan biasanya hormon2 akan berubah termasuk emosi, tapi sebelum saya masuk masa Pms biasanya saya bicara dan perintahkan ke hormon2 saya "hai hormon berubahlah secara baik, sehingga tidak mengganggu fisik dan emosi saya"   
Dan hormonpun patuh
dan alhasil beliau bilang tidak pernah merasakan perubahan emosi saat sedang Pms sejak kuliah..."
Intonasi suara kita yg memiliki prosentase 38% keberhasilan komunikasi ada yg salah. Kemudian lihat apakah bahasa tubuh kita juga menunjukkan pemahaman yg sama?
Misal intonasi tinggi, bahasa tubuh mb memberikan makna penolakan, maka lengkaplah sudah dg warna suara yg tinggi.
Untuk itu lihat kembali bahasa tubuh. Kl oke masuk ke intonasi suara, kalau terlalu tinggi, maka perlu kita kasih jeda untuk setiap kalimat bahkan setiap kata, jangan nyerocos.
Setelah itu lihat warna suara kita, kalau termasuk yg tinggi, maka ketika berbicara dekatkan dagu kita ke leher.
c. Anak yang beranjak Abg memang harus extra semuanya mb.. karena diusia ini dia mulai bisa memberontak dan mulai lebih suka main dengan temannya ketimbang keluarganya. 
Yang pertama kita harus punya lebih banyak waktu untuk dia, jadilah teman dan sahabatnya. 
Anak remaja itu sangat senang punya teman dan sahabat.
Maka gaya komunikasi kita dg anak-anak ya gaya remaja. 
Pahami istilah-istilah mereka, dan pakai bahasa mereka.
Saat mereka bete, kita ajak hang out berduaan saja yuk dll. 
Lama-lama mereka terbuka karena kita jadi teman. 
Untuk selalu memotong pembicaraan, tegaskan bahwa "sebentar ibu belum selesai, atau dengarkan dia terlebih dahulu.. terus kalau sudah selesai, bilang sekarang waktunya Ibu yg bicara jadi tolong dengarkan sampai Ibu benar2 selesai" ✅

🙋🏻2⃣ Teh Tenny
Pertanyaan :
Anak usia 3th, awal2 berhasil toilet training, usia 3 kurang 2bln, dia udah ga ngompol kalo malem, klo malem mau pipis pun suka bangun minta ke kamar mandi, nah skg udah 3th pas, dia malah ngompol trus pas malem, kdang siang pun dia suka tiba2 pipis di celana dan suka nahan2 pipis..padahal udah diajak ke kamar mandi, pas ditanya knp pipis di celana, katanya ngikutin temennya. Mulai dari situ dia selalu ngompol klo malem. Apakah boleh saya kasih hukuman klo dia ngompol trus? Trus klo keinginan dia lg ga diikutin, dia suka ngancem pgn pipis atau pgn pup..padahal ngga, dan ancaman itu dimulai sejak dia suka ngompol. Mohon pencerahan dan sarannya 🙏🏻
Jawaban :
Kita sebagai ibu memang sangat diuji kesabarannya, dan harus benar2 sabar dalam mengikuti perkembangannya. 
Disini tantangan kita untuk bisa melatihnya berfikir mb.. dan tentu saja kita harus pelan2 dengan komunikasi yg sudah dicontohkan dalam kaidah2 diatas
Contoh "Nak, dulu kamu kalau pipis itu ke kamar mandi, Ibu bangga sekali sama kamu.. 
nah sekarang kalau kamu ikut2an pipis dicelana seperti temanmu bagus tidak..? terus keren tidak, enak tidak..?" na disitu biasanya anak mulai berfikir atas kesalahan yang sudah dilakukan.. mulai dengan menyentuhnya, memeluknya.. 
"Ibu ingin kamu kalau mau pipis/pup di kamar mandi ya.., karena Ibu tahu adik itu bisa dan adik itu keren"
Kita bisa menasehatinya dengan membandingkan dengan dia yang dulu, yang salah adalah dengan membandingkan dengan anak lain. ✅

🙋🏻3⃣ Teh Witri
Pertanyaan :
- Bagaimana kita mengendalikan emosi saat akan berbicara? terkadang saya merasa sudah tenang dan siap untuk berbicara, tapi pada waktunya belum juga akan memulai kata, air mata terkadang mendahului,  jadinya nangis duluan dan pesan yang akan disampaikan kurang tersampaikan sepenuhnya.
- Mengenai kalimat produktif yg paling akhir, setiap mandi saya persis melakukan kata2nya seperti itu, dan anak saya  (30m) pun menyetujuinya, tapi kenapa ya ketika waktu yang disepakati telah selesai, anak saya masih tetap ingin mandi. Kalimat produktif yg bagaimana untuk langkah selanjutnya jika kesepakatan tidak dipatuhi?
Haturnuhun
Jawaban :
a.  Ambil nafas panjang dulu mb sebelum bicara, atau kalau sebagai muslim saat kita sedang emosi ambillah air wudhu stelah itu baru kita mulai bicara dan InsyaAllah lebih terkendali emosinya.Kalau tidak bisa menahan airmata kita dan kita dan akhirnya tidak tuntas, minta waktu untuk menangis dulu...kalau sudah reda dan tenang baru mulai bicara lagi. 
b. 
Untuk kesepakatan yang tidak dipatuhi berarti erat kaitannya dengan mental ya mb bukan dg komunikasi. Berarti kita perlu melatih komitmennya
misal.. 
"Nak, kita bulan ini akan belajar menjalankan satu hal saja ya...apa yang kita bicarakan dan kita sepakati pasti akan kita jalankan... oke..? "
misal " kita belajar mandi cepat, 10 menit selesai ya... " 
latih terus, sampai dia benar2 menjalankannya dengan sukarela✅

🙋🏻4⃣ Teh Ziyana
Pertanyaan :
1. Kesadaran dr komunikasi produktif harus diawali dr apa?? (Perlukah belajar susunan kata sesuai kaidah, atau melihat situasi kondisi atau lainnya)
2. Untuk berkomunikasi dengan pasangan bisa diperjelaskan maksud dr 'nalar'? Adakah batasan 'nalar'??
Jawaban :
Teh Zie.. 
1. Kesadaran bisa  diawali dengan mengubah struktur berfikir kita mb, seperti yang ada di materi 
*Kosakata kita adalah output dari struktur berfikir dan cara kita berfikir*
jadi mulailah belajar untuk berfikir positif, karena jika kita berfikir positif maka kata2 yang akan keluar juga positif
2. Nalar kalau dari arti katanya adalah berfikir sehat, matang dan penuh pertimbangan
Jadi maksud dari "nalar"  itu  jika kita mengedepankan nalar berarti kita berfikir panjang dan dipertimbangkan baik buruknya terlebih dahulu, dan otomatis kalau kita seperti itu maka kita sudah meminimalisir emosi
untuk batasannya saya kira tidak ada mb ✅

*Teh Rifa*  :mau memperjelas mba any, mksudnya mempertimbangkan baik buruk perkataannya kah?

*Mbak Any* :iya mb.. maksudnya apa yg  akan kita bicarakan itu akan berdampak baik atau burukkah..? kurlebnya seperti itu😊

IBU PEMBAHARU #2 : Konferensi Perempuan Indonesia 2023

Definisi Ibu Pembaharu itu sendiri adalah sosok ibu yang mampu menemukan masalahnya dan mengubahnya menjadi sebuah tantangan hidu...