Jumat, 23 Juni 2017

Aliran Rasa Komunikasi Produktif Bunda Sayang batch #2

Rasanya campur aduk ketika awal dapet materi 'Komunikasi Produktif', bahagia karna diingatkan tuk bisa lebih harmonis romantis dengan pasangan, Sedih karna pa suami di awal tantangan masih di luar kota yang no signal jd objek komunikasi keluarga besar, seru ketika suami datang dan ternyata oh ternyata semua point nya bener2 bisa memproduktifkan komunikasi.

Walau tantangan 10 hari selesai, pa suami alhamdulillah masih di rumah hingga bada iedul fitri nanti. Gampang-gampang susah komunikasi sama suami, tapi lebih banyak serunya dan berakhir ketawa alhamdulillah.

Saya yang hanya beda setahun sama suami, jd temen ngobrol sekaligus temen diskusi. Tangis dalam rumah tangga?? Pasti ada, dan sangat wajar menurut saya karna ini jd kesempatan tuk introspeksi diri walau jadi tambah keliatanlah jiwa kekanak-kanakan saya.

Saya menyadari begitu 'rempong' nya teteh2 peserta lain yang udah punya anak hanya untuk sekedar menulis tantangan harian. Beliau2 yang begitu luar biasa mengisi hari tanpa adanya waktu kosong (kalo adapun pasti dipake ngerjain hal lain yg butuh tenang sambil nunggu anak tidur). Maka hal ini yg jd motivasi saya untuk bisa konsisten menjalankan tantangannya, karna saya sadar diri bahwa saya tidak se'rempong' dan sesibuk beliau2.

Ikhtiar konsisten walau dengan berbagai tantangan tapi menghasilkan hal yang manis walau hanya sekedar badge ini, senyuman saya langsung terlukis di wajah ini hehe..

Jazakumullah IIP, saya pun siap belajar lagi dan lagi untuk materi selanjutnya..

Ziyana
Bandung

#tantangan10hari
#aliranrasa
#bunsayiip

Jumat, 09 Juni 2017

Komunikasi Produktif Bunda Sayang level 1 hari#10

Alhamdulillah engga terasa udah menginjak hari ke 10 di game pertama kelas bunda sayang batch #2. Ada 5 indikator untuk berkomunikasi produktif, komunikasi efektif dengan pasangan yakni :

1. Point 2C (clear and Clarify)
Hal ini jadi point yang pas digunakan ketika bertemu dengan permasalahn kemarin, yang sempat saya tulis. Tanpa 2C ini, permasalahan yang kecil dalam rumah tangga akan semakin besar. So, menurut saya kaidah 2C ini penting banget peranannya. Dan alhamdulillah saya dan suami bekerja sama untuk meng- clear -kan masalahnya.

2. Choose the right time
Hal ini gak kalah pentingnya dengan point pertama, karna waktu berkairan dengan keadaan fikiran, fisik dan perasaan. Yang mana perasaan adalah kunci komunikasi. Saya dan suami mencoba selalu konsisten untuk memutup hari dengan bahagia, dan waktu diatas kasur adalah waktu yang tepat pilihan kami dalam berkomunikasi.

3. Kaidah 7-38-55
Hal ini alhamdulillah sudah kami praktekan, karna sungguh perkataan tidaklah seampuh action. Apalgi pelukan suami menurut saya adalah solusi segala permasalahan hehe..

4. Intensity of eye contact
Hal ini yang terkadang menjadi permasalahn bagi saya pribadi. Jikalah suami sedang saya ajak ngobrol dan beliau tidak melihat saya, maka saya pun terkadang merasa diacuhkan. Tapi tetap evaluasi, apa saya salah waktu atau memang beliau yang salah sikap. Tapi, menurut saya salah satu bentuk penghormatan dalam berkomunikasi adalah dengan pandangan mata.
Dan ini ga gampang hehe..

5. Kaidah : I'm responsible for communication result
Jika apa yang dilakukan suami atau saya berbeda dengan permohonan masing-masing, maka kami pun saling mengingatkan di kamar pribadi. Tapi, kalo sudah berlebihan terkadang sikap dingin pun jadi pecutan masing-masing hehe..
Dan kalo udah sampe sikap ini, maka rasa bersalah pun jadi gunung es..

Alhamdulillah apa yang dijadikan acuan, selama ini kami selalu mencoba tuk bisa lakukan walau belum bisa sempurna. Tapi konsistensi selalu kami coba tingkatkan. Jazakumullah IIP sudah diingatkan kembali. ^_^

Ziyana
Bandung

#level1
#hari10
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Kamis, 08 Juni 2017

Komunikasi Produktif Bunda Sayang level 1 hari #9

Ga terasa udah hari jumat lagi, diawali pagi yang dingin dan seru bersama pa suami.

Diskusi saya dan suami adalah diatas kasur, ketika siap menutup hari maka meminta maaf adalah suatu yang menjadi bahasan utama kita setiap malam skaligus evaluasi harian.

Tadi malem derai air mata pun ta kunjung reda, awalnya hanya kata pancingan suami yang membuat emosi saya buncah dan curhat panjang lebar. Sungguh suatu yang wajar bagi seorang wanita, menahan sesuatu dan menenggelamkannya dalam hati (tapi ini berujung mengubah ekspresi wajah yang jadi kurung dan suami pasti tau).

Pagi ini pun diawali dengan saling maaf2an atas kesalahan masing-masing. Tak lupa untuk mengalihkan hal yang bisa membuat daya baper lagi hehe..

Suamipun meminta saya untuk membaca Al-Quran, karna beliau tau dengan saya membaca alquran maka saya akan merasa lebih tenang dan bisa mengontrol emosi. Padahal td malam itu emang hanya karna perasaan seorang wanita yang sensitif dan ingin dimengerti. Udah itu aja hehe..

Alhamdulillah point 2C pun sudah bisa diaplikasiin, clear an clarify dalam rumah tangga itu udah jadi kewajiban dan hak. Yuk lanjut baca quran lagi..

#level1
#hari9
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kelasbunsayiip

Rabu, 07 Juni 2017

Komunikasi Produktif Bunda Sayang level 1 hari #8

Bahagia terus rasanya kalo pa suami lagi jadwal off, kedewasaaan dan humorisnya beliau yang menjadi pencair suasana. Ga bisa dipungkiri bahwa kesalahpahaman atau bahkan perbedaan pendapat yang berhujung ke diskusi aga serius sering kali terjadi.

Saya yang umurnya lebih muda satu tahun pun terkadang masih kekanak-kanakan dan terlihat ingin di manja (karna dari dulu berharap pengen punya kakak laki-laki hahaha).

Saya sebagai wanita, memang kerasa lebih sensitif perasaannya. Jadi kalo ada permasalahan yang masuk hati dan aga susah menenangkannya, suatu yang wajar jadi masuk kamar menyendiri dan nangis.

Awal-awal menikah, suami pun bingung melihat istrinya nangis di pojokan. Ia hanya berusaha menenangkan dengan tidak mendekati saya. Malah saya demakin kejer nangis dan datang kebeliau sambil memukul pelan dadanya, tambah pusing lah beliau.

Sambil tangis mereda saya helaskan bahwa 'pelukan suami' adalah senjata ampuh untuk kegalauan seorang istri.

Diawal pernikahan, kami sama-sama saling mengerti dengan menyampaian verbal. Perlahan-lahan semuanya bisa berubah menjadi 'action'.

Kini, setiap raut muka saya menunjukkan ada sesuatu yang berat dalam pikiran saya maka suami langsung mendekat dan memandang lembut mata saya. Karna beliau sudah tau, dengan seperti itu saya akan cerita hal yang menjadi beban saya. Tak lama air mata menetes, dan saya sudah sulit berbicara maka beliau pun mengeluarkan senjata ampuhnya yakni pelukan hangat dan belaian tangan yang menenangkan saya.

Jadi saya nyatakan bahwa point 7-38-55 benar-benar ampuh adanya. ^_^

Selasa, 06 Juni 2017

Komunikasi Produktif Bunda Sayang level 1 hari #7

Belum sampai bandung, udah dapet kabar bahwa pa suami udah di Bandung. Ya Allah rasa-rasanya semua rasa campur aduk. Jadi emang bener adanya bahwa ikatan pernikahan itu 'mitsqon gholidza' jadi hubungan kita sama suami itu kayak sodara kembar.

Beliau yang tau betul bakalan kayak gimana ekspresi saya kalo bliau datang dan saya ga ada di bandung, segera menon-aktifkan hpnya sementara (karna saya bakalan banyak nanya dan merasa bersalah, padahl izin keluar kota juga udah dapet sih).

Sesampainya di stasiun jam 02.40 dini hari, karna komunikasi kita sempet terhenti (saya juga ikut me-non-aktifkan hp, sadar diri karna bakalan penasaran dan menghujani pa suami dengan banyak pertanyaan dan pernyataan).

Jam 22.45 baru saya aktifkan lagi hp dan deng.. deng.. deng.. ada missed call dari pa suami.

Apa boleh buat waktu udah menunjukan tengah malam, jadi saya infokan sebisanya.

Dan hal yang saya coba ga difikirin terjadi hehe..

Pa suami ternyata berencana menjemput dan saya udah di uber. Permohonan maaf pun langsung terlontar begitu lihat pa suami udah siap menjemput.

Belajar banyak deh, bahwa komunikasi sama pasangan itu haru bener2 tau sikon yang tepat. Dan kita berdua memaklumi dengan adanya sosial media memang harus banyak stok sabar dan pengertian.

Alhamdulillah, beliau dengan halus dan senyumnya yang merekah pun menghapus segala permasalahan. alhamdulillah, jazakumullah..

Dan sekarang kita di mobil untuk terus berkomunikasi produktif ^_^

#level1
#hari7
#komunikasiproduktif
#kelasbunsayiip
#tantangan10hari

Komunikasi Produktif Bunda Sayang level 1 hari #6

Hari ini waktunya pulang dan kembali ke bandung. Alhamdulillah kita semua bisa berkumpul bareng lagi walau dengan banyaknya halang rintang (haasssiikk).

Keriweuhan mulai datang pas apa dapat telp dari Bogor (panitia beasiswa tahfidz Turkinya alfa) yang mengabarkan alfa harus ada di Bogor besok jam 7 pagi. Kita pun langsung berdiskusi lagi, alfa yang baru sampai di Ponorogo langsung kelabakan harus gimana?!?!.

"Tenang de, kalo menurut teteh ada 2 pilihan kamu dengan konsekwensi yang bisa kamu terima juga. Jadi gini yang pertama..." saya coba mengeluarkan pendapat.

"Menurut aa juga gitu sih de." Rizal menambahkan.

Dalam diskusi kita yang apa adakan secara tidak langsung, selalu dikembalikan ke diri kita untuk mengeluarkan pendapatnya masing-masing.

Keputusan sudah di ambil dan tindakan harus langsung dilakuin, dan Alhamdulillah sekarang kita udah di stasiun dan siap menuju bandung.

#level1
#komunikasiproduktif
#hari6
#kuliahbunsayiip
#tantangan10hari

Minggu, 04 Juni 2017

Komunikasi Produktif Bunda Sayang level 1 hari #5

Alhamdulillah suasana di ponorogo masih bisa bersahabat, semakin mendekat ke perpulangan maka kita pun siap2 packing barang.

Kaget rasanya ketika tau bahwa perpulangan engga sesuai dengan jadwal yang kita rencanakan. Awal denger kabar bahwa perpulangan tanggal 5 juni, mamah dan apa pun langsung beli tiket pulang ke bandung tanggal 5 juni sore hari. Dan ternyata perpulangan baru akan dilakukan tanggal 5 juni jam 22.00, kita pun langsung berdiskusi panjang lebar perihal pembatalan tiket dan ubah jadwalnya.

"Ya gimana lagi, berarti mau ngga mau kita baru bisa pulang tanggal 6 juni sore hari." Jelas apa menenangkan walau keliatan gugup di muka.

"Oke kalo gitu kita harus langsung ke stasiun sekarang dan langsung ubah jadwal." Singkat saya.

Emosi dalam situasi seperti ini sangat memungkinkan tuk muncul, namun satu sama lain dari kita mencoba menenangkan dengan ambil rehat dan refreshing usai urusan di stasiun beres.

Kami pun menemui saudara-saudara kami di lintas kota terdekat. Jadi segala sesuatu disyukuri dan dinikmati aja. Enjoy your life..

#level1
#harike5

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Sabtu, 03 Juni 2017

Komunikasi Produktif Bunda Sayang level 1 hari #4

Sampai tempat tujuan tuk jemput ade bungsu, terlihat rasa bahagia dari wajah anak kecil itu. Rasa lelah perjalanan panjang pun ilang begitu aja.

Jam-jam awal pertemuan, kita yang udah lama ga ketemu kayak orang asing aja. Saya kira salwa emang berubah hehe..

Dia yang dulu sebelum masuk asrama cerewet tiada terkira tetiba jadi kalem2 gimana gitu..

Ternyata memang benar, seorang anak itu akan akrab dengan seseorang jika ia sudah merasa aman dengan orang tersebut. Dan hal ini masih berlaku untul salwa yang udah 10 tahun.

Setiap kebutuhannya saya coba ikuti, persiapan perpulangan tuk packing2 barang pun saya bantu. Dari situlah kami mulai akrab lagi.

"Teteh awa ga mau jalan2, awa pengen istirahat aja." Pinta salwa yang seolah merasa lelah dan disamping itu ia juga menjaga shaumnya.

"Loh kita kan lagi kumpul keluarga disini, ayo kita jalan2" jelas saya yang mewakili keluarga yang akan membawanya jalan2 keliling kota ponorogo.

Dan kita tak mengira respon salwa ternyata tidak mau, padahal kita sudah persiapkan segalanya (nyewa mobil, sudah checklist tempat tujuan dan lainnya).

Tapi kitalah yang lebih dewasa dari salwa yang harus mengerti, maka keluarga pun diskusi dan hasilnya kita memaklumi salwa tidak ikut serta. Karna mamah berbeda kota, maka niat kami pun tuk menengok mamah disana dan salwa tetap di asramanya.

#level1

#day4

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Jumat, 02 Juni 2017

Komunikasi Produktif Bunda Sayang level #1 hari ke-3

Pemandangan dari dalam kereta menemani saya dan keluarga di perjalanan menuju Ponorogo Jawa Timur. 14 jam kami tempuh untuk bisa bertemu dengan Salwa (anak bungsu mamah dan apa).

Sudah lama tidak pernah merasakan suasana perjalanan via kereta api, tapi perjalanan yang panjang ini jadi pengalaman yang luar biasa banyak hikmah alhamdulillah.

Jadwal keberangkatan dari bandung jam 18.10 dan sampai madiun jam 5.00 ini berarti jam Buka puasa, sholat maghrib, sholat isya dan sholat shubuh kami laksanakan di kereta. Percobaan memilih kereta kelas ekonomi tidak menjadi penyesalan, karna bisa dibilang pelayanan dan fasilitas yang nyaman pun kami dapatkan.

Berjam-jam di dalam kereta tidaklah luput dari perbincangan yang panjang dari apa, rizal (anak kedua) dan saya. Mamah tidak bisa ikut kami menjemput, karna beliau dapat amanah untuk mengajar di Pondok Modern Gontor Putri 3 dengan tanggal yang sama dengan penjemputan kami.

"Kita harus banyak-banyak bersyukur teh, untuk segala nikmat yang Allah kasih ke keluarga kita." Apa mengawali diskusi.

"Iya pa, teteh juga mau ngucapin makasih banyak ke mamah sama apa. Sekarang2 teteh sering mencari dan mendapat teori tentang parenting, dan banyak banget hal2 yang ternyata apa sama mamah udah lakuin ke teteh sebelum teteh tau teori ini." Balas saya dengan penjelasan yang panjang.

"Iya njal juga ngerasa gitu." Sahut Rizal.

Waktu pun tidak terasa bergulir dan akhirnya mengantarkan kami sampai di Stasiun Madiun, stasiun tujuan kami. Di Gerbang pun sudah siap supir menjemput yang akan mengantarkan kami menuju tempat tujuan.

Semangat shaum Ramadhan..

#level1

#day3

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Kamis, 01 Juni 2017

Komunikasi Produktif Bunda Sayang Level 1 hari #2

Beralih dari fokus les privat, saya dan keluarga bersiap untuk pergi ke Jawa Timur. Saya merupakan anak pertama dari 4 bersaudara, adik bungsu saya kelas 4 SD dan mengenyam pendidikannya di pondok pesantren Al-Muqoddasah Ponorogo Jawa Timur.

Ini adalah kali pertama saya melakukan perjalanan jauh bersama keluarga setelah menikah. Hari ini bertepatan suami sedang bekerja di luar kota dan 'menitipkan' saya kepada orang tua saya dan juga orang tuanya. Sudah menjadi kewajiban saya untuk mewakili suami untuk menengok orang tua kami bergantian. Maka saya pun menjadwalkan dalam satu minggu 4 hari di rumah mamah (kandung) dan 3 hari di rumah mama (mertua).

Tanggal 10 ramadhan bertepatan jadwal libur adik saya yang bungsu, dan keluarga besar pun bersiap menjemputnya. Tiket kereta sudah siap, namun Qodarullah De Alfa (adik ke 2) berhalangan untuk menjemput salwa (adik bungsu). Maka solusi alternatifnya saya menggantikan dengan izin suami pastinya. Diskusi yang panjang lebar pun saya dan suami lakukan via Whatsapp untuk memastikan bahwa beliau tidak di Bandung selama saya perjalanan ke Jawa Timur.

Penggantian data pun dilakukan oleh apa (panggilan untuk bapa), persiapan hal-hal yang harus dibawa diingatkan oleh mamah. Sungguh kasih sayang orang tua tidaklah akan pudar walau kita sudah menikah, dan saya merasakan hal itu.

"Teh, KTP teteh mana? Karna tuk penggantian pengguna tiket harus dari sekarang." Jelas mamah.

"KTP teteh berupa lembaran kertas mah, soalnya E-KTP belum tersedia. Dan teteh belum bisa ngurus penggantiannya sekarang." Jawab saya yang ragu untuk mengurus penggantian data.

"Iya gapapa teh, biar apa yang ngurus beres ngajar nanti. Teteh tenang aja, teteh mau ikut jemput biar tiketnya ga mubadzir aja udah alhamdulillah hehe." Canda mamah dengan bijaknya.

Aaahh sungguh melihat orang tua yang bahagia itu tidak bisa terbeli dengan materi, anaknya berkumpul saja sudah menjadi kebahagiaan yang tak terkira.

Mengkomunikasikan persiapan perjalanan dari pergi hingga pulang lagi, tak ayal dari banyaknya diskusi antara kami. Alhamdulillah persiapan sudah maksimal, kami mohon doanya semoga perjalanan kami bermanfaat barokah.. ^_^

#level1

#day2

#tantangan10hari

#komunikasiproduktif

#kuliahbunsayiip

Komunikasi Produktif Bunda sayang level 1 hari #1

Bismillah, kelas yang ditunggu-tunggu pasca kelas matrikulasi akhirnya datang juga. Komunikasi Produktif jadi fokus kami diawal pembelajaran, dan ini hikmah hari ini:

Saya adalah seorang istri yang menjadi objek sekaligus subjek LDR, karna terpisah jarak dan waktu dengan suami yang sedang bekerja maka objek dalam komunikasi saya di hari pertama game ini adalah anak2 didik saya di les privat yang saya adakan.

Awal januari saya memulai les, dan kini alhamdulillah saya sedang mendidik dan belajar bersama dengan 2 orang anak kelas 8 sebut saja nama mereka iki dan kakak, 2 orang kelas 6 mereka adalah adik dan sakhi, serta 1 orang kelas 5 namanya naufal.

Ujian Nasional telah terlewati dengan fokus saya mengajar anak kelas 6 kala itu. Dan kini fokus saya kepada materi anak2 yg akan UKK. Saya memiliki pengalaman mengajar 5 tahun, saya pun bs sedikit lebih mengenal cara belajar serta karakter anak didik.

Yang saya lihat, iki adalah salah seorang anak didik yg hanya bs belajar jika suasana hening. Berbeda dengan sakhi dan adik yg gaya belajarnya dengan dibarengi keramaian berupa bersuara atau nyanyi. Dengan hal ini, saya berusaha untuk memisah kelas diantara mereka agar masing-masing belajar dengan nyaman dan bisa fokus.

Namun yg terjadi hari ini diluar perkiraan saya. Sakhi dan afik yang bersemangat ingin ujian (padahal UN sudah seminggu yg lalu dan sebenarnya tidak ada traget materi sekarang, tapi semangat mereka belajar matematika tidak bisa saya stop).

Akhirnya saya berusaha menenangkan dan belajar bersama iki dengan kelas yg terpisah. Saya soundingkan hal2 positif bahwa dia bisa belajar dengan keadaan seperti sekarang (karna harus bersampingan dengan anak yg belajar dengan keramaian).

"Teteh akan datang kesini nanti, teteh mau fokus sama iki yg akan UKK besok. Semoga kalian paham ya, kan teteh juga sudah fojus sama kalian seminggu yg lalu untuk UN." ujar saya berusaha memahamkan adik dan sakhi yg terlalu responsif dengan keadaan.

"Iya sih teh, tapi kan masa kita ga ditengokin?" Sakhi pun mengutarakan keinginannya.

Wal hasil, 10 menit sekali saya singgahi kelas mereka hanya sekedar mengabsen diri bahwa saya sudah melihat mereka.

Karna sungguh seorang anak berhak untuk selalu diberi respon positif dan perhatian, walau saya bukanlah orang tua yg melahirkan mereka. Tapi mereka tetaplah anak2 yg selaku menggugu dan meniru.

Semangat belajar dan terus gelajar.

Ziyana

#level1
#day1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

IBU PEMBAHARU #2 : Konferensi Perempuan Indonesia 2023

Definisi Ibu Pembaharu itu sendiri adalah sosok ibu yang mampu menemukan masalahnya dan mengubahnya menjadi sebuah tantangan hidu...