Sabtu, 27 Mei 2017

ROMANTISME PERNIKAHAN

Tidak mudah bagi kami untuk menghadiri setiap undangan pernikahan yang datang. Jikalah suami ada di rumah, alhamdulillah akan kami usahakan datang. Namun, bila suami sedang di luar kota saya selalu ajukan dulu permohonan izin kepadanya. Semua hal kita diskusikan baik dan buruknya, jika beliau berkenan maka saya usahakan datang ditemani adik kandung saya atau adik ipar.
Pernah suatu ketika kami mendapat 2 undangan pernikahan dalam satu waktu. Yang mana rata-rata resepsi pernikahan dimulai dari jam 11.00-14.00 WIB, ketika waktu ini pun kami ingin mengutamakan shalat dhuhur berjamaah di masjid. Pada akhirnya kami baru bisa berangkat setelah dhuhur dengan mendahulukan undangan di tempat yang lebih dekat menurut kami.
Tempat pertama yang akan kami hadiri bertempat di Islamic centre Bandung yang ternyata kami membutuhkan waktu agak lama dikarenakan macet yang sudah biasa terjadi di akhir pekan. Setelah kami datang disana, kami pun bergegas menyalami pengantin dan bertemu dengan rekan sebentar saja. Lalu kami memohon pamit untuk bisa menghadiri undangan pernikahan di tempat kedua yang lumayan jauh tempatnya dari sana. Kami membutuhkan waktu satu jam kurang sampai sana, apalah dikata niat suami saya sudah kuat untuk tetap hadir disana dan saya pun mendukungnya.
Kami sampai di tempat kedua dengan keadaan semua sudah dirapikan, alhamdulillah kami masih bisa bertemu dengan pengantin yang sudah berganti pakaian untuk pulang. Ini adalah pengalaman yang luar biasa bagi saya dan suami. Bukan untuk keterlambatan kami, namun untuk segala persiapan, kejadian dan percakapan kami yang menghangatkan suasana.
Bagi saya menghadiri pernikahan orang lain merupakan charger bagi saya untuk berumah tangga. Ketika kami bersiap dengan pakaian yang sudah menjadi diskusi kami. “mas, saya pakai baju ini apakah sudah pantas?? Kerudung seperti ini bagaimana??”pertanyaan yang selalu saya lontarkan kepada suami sebelum saya keluar rumah.
“iya de, baju nya sudah pas. Tapi, bagaimana jika kerudungnya seperti ini... untuk bedak dan ininya...” suami menyampaikan masukannya dan alhamdulillah saya suka dengan hal itu.
Sungguh suami adalah pakaian bagi istrinya, dan istri adalah pakaian bagi suaminya. Hal ini sangat benar adanya, bayangkan ketika suami kita dipuji penampilannya maka hal itu akan menjadi point kebahagiaan bagi kita sendiri sebagai istri.
Ketika kami diperjalanan menuju tempat, kami mengenalkan pengantin kepada pasangan kami. “mas, yang nikah ini namanya azka dan dia adalah teman saya ketika sekolah. Kita berkali-kali kumpul bareng di bandung, tapi sudah sekitar 4 tahun belum pernah ketemu lagi.”jelas saya tentang pengantin wanita yang resepsinya akan kami hadiri. Begitu juga suami saya yang akan menceritakan temannya yang merupakan pengantin.
Sesampainya kami di tempat resepsi, kami kenalkan pasangan kami pada teman yang hadir disana maka bertambahlah keluarga. Santapan di resepsi pun siap kami santap setelah berkeliling melihat macam-macam makanan yang tersedia. Dari sini bertambahlah pengetahuan saya mengenai apa yang disuka dan tidak disukai suami, begitu pula sebaliknya.
Dan yang amat saya resapi adalah nasehat dari ulama atau tokoh masyarakat ketika akad penikahan. Tidak setiap undangan pernikahan kami sempat mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan hal ini.
“mas, bismillah kita siap mengarungi rumah tangga hingga menggapai ridhoNya ya mas.”ucap saya spontan setelah mendengar nasehat ustadz di suatu akad pernikahan.
“bismillahirrohmanirrahim de.”sahutnya disertai senyum sumpil.

























firman-Nya:
{الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ}
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka

(QS an-Nisaa’: 34).


GARUT I`M IN LOVE

2 bulan berlalu kejadian yang menjadi hikmah besar bagi saya dalam mempersiapkan kehamilan. Dan segala puji syukur saya panjatkan kepada Allah SWT Yang Maha Esa, Dialah yang memberikan saya pasangan hidup yang pengertian, bijaksana dan banyak lagi yang tidak mungkin saya ungkapkan disini. Rasa syukur saya pun tidak bisa diungkapkan dengan apa-apa lagi selain taat kepadanya. Saya selalu berusaha menikmati setiap proses berjalannya rumah tangga yang barokah ini.
Tugas utama saya adalh menanti dan mendoakan suami. Namun, hal itupun tak lepas dari segala usaha saya untuk melakukan beberapa kegiatan yang bisa menunjang saya berada dalam penantian yang bermanfaat.
Suatu ketika dalam pembicaraan kami ditelp “de, apa ade butuh refreshing??” pertanyaan suami saya ini benar-benar membuat saya kaget sekaligus bahagia, karena baru saja beberapa hari yang lalu saya meminta kepada Allah agar kami selalu dipersatukan dalam cintaNya dengan permintaan yang lebih khusyuk dan sungguh-sungguh.
“iya mas, boleh. Yuk kita refreshing.” Balas saya semangat. Ini mungkin bisa dibilang honeymoon kami yang kesekian kalinya, karena bagi saya setiap pertemuan dengan suami adalah honeymoon dimanapun kami berada. Suasana yang berbeda bisa jadi pilihan akhir kami dengan melihat kecocokan jadwal suami.
“coba ade pilih aja tempat yang bagus, nanti kita diskusikan.”balas suami dengan suara yang saya yakin beliau dalam keadaan sibuk. Sudah menjadi kebiasaan dan prinsip kami bahsa segala sesuatu haruslah didiskusikan bahkan tidak boleh ada ketertutupan karena kepercayaan hanya ada dalam kejujuran.
“Oke mas, nanti ade kabari lagi ya. Hati-hati dan fokus lah disana dulu. Ade dan keluarga alhamdulillah sehat. Sukses lancar barokah disana ya mas.”pesanku pada suami yang sedang nan jauh disana.
“iya de, sama-sama ya jaga kesehatan juga disana. Wassalam”tutupnya singkat. Saya akui suami berada di tempat yang jauh dengan waktu yang cukup lama. Namun, hal itu terkadang saya tidak sadari karena beliau selalu berusaha memberikan kabar dan berkomunikasi dengan saya setiap harinya.
Setelah itu saya browsing  beberapa tempat yang bagus dan tidak lupa dilihat harganya yang kemudian saya ajukan kepada suami segala halnya. Setelah beberapa hari saya cari tempat dan kelengkapan infonya kemudian saya diskusikan kepada suami pilihan kami jatuh di Villa Garut Kamojang.
Setelah ada kesepakatan, barulah saya telp dan konfirmasi untuk booking  dan transaksi lainnya. Selanjutnya hanya menunggu kedatangan suami untuk bersiap menuju Garut.
Sesampainya suami di Bandung, beliau hanya beristirahat satu hari di rumah dan langsung dijemput oleh travel dari villa yang akan kami tuju. Sungguh luar biasa, kami menikmati setiap detiknya. Kami bersyukur kepada Allah dengan memiliki kesempatan untuk melihat ciptaan Allah yang begitu agung. Pemandangan yang indah, angin yang sejuk, pelayanan yang memuaskan bagi kami yang sedang refreshing dari segala kepenatan yang ada. Ya, Saya lihat itu semua di raut wajah suami. Beliau amat menikmatinya.
“De, sungguh hanya Allah lah yang berhak atas segala sesuatu yang ada di dunia ini. Kewajiban kita hanyalah untuk bersyukur dan beribadah terus padaNya.”mulut suami berkata panjang dengan wajah melihat pemandangan di depannya.
Saya terpaku diam di belakangnya, kepala saya menjadi dingin mendengar kata-katanya. Seringkali beliau menyampaikan hal-hal yang benar-benar saya butuhkan. Suasana menjadi sangat hangat, kembali saya hanya bisa bersyukur menjadi istrinya. Lalu saya memegang tangannya erat, memandang matanya hingga kami berada bersebelahan.
`Inilah nikmatMu yang kesekian kalinya Yaa Robb. Mata ini yang akan selalu menyejukkan pandangan hamba.` benakku bekata dengan kesejukan iman.
“Iya mas, in syaa allah.”sahut saya atas perkataannya yang begitu menenangkan.
Bukannya pada tempatnya saya jatuh hati, namun segala yang ada disana terutama lelaki yang selalu bersama saya yang membuat segalanya menjadi tambah indah. Dan ini semua adalah atas kehendakNya, Allah yang telah memberikan kesempatan kepada kami untuk bisa berlibur sejenak. Allah yang memberikan rizqiNya, Allah pula yang memudahkan segalanya. Dan hidup ini akan selalu berkesinambungan antara aku, Engkau dan dirinya.




















Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam:
Jagalah (batasan-batasan/syariat) Allah maka Dia akan menjagamu, jagalah (batasan-batasan/syariat) Allah maka kamu akan mendapati-Nya dihadapanmu”.





HIKMAH CALON IBU

Menjadi adil dalam membagi silaturahmi kepada orang tua selalu saya usahakan. Bila suami sedang bekerja di luar kota saya jadwalkan 3 hari di rumah suami dan 4 hari di rumah orang tua. Adil bukanlah sama, namun adil menempatkan sesuai dengan porsinya. Kini ibu saya ada dua, ayah pun ada dua, adik pun menjadi 5. Inilah yang patut saya syukuri, karena keluarga saya adalah motivasi saya dan suami saya.
Dalam beberapa buku pernikahan yang saya baca memberikan pengetahuan bahwasanya seorang suami yang berjauhan dengan keluarga akan merasa tenang ketika istrinya berada bersama keluarganya. Kecuali jika sang istri sudah memiliki anak dan bisa tinggal di rumah mereka sendiri. Alhamdulillah, Allah memberikan jodoh saya berada di satu kota yang sama jadi tidak ada kendala untuk bisa menengok orang tua.
Ketika saya sedang berada di rumah orang tua saya, rasa penasaran timbul ketika haid tidak kunjung datang. Di malam itu tiba-tiba saya bermimpi bahwa saya positif hamil. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa saya berada dalam penantian, dan ini bisa menjadi salah satu faktor mengapa saya bermimpi hal tersebut.
Jam menunjukkan pukul 02.00 WIB petang hari, saya langsung ke kamar mandi untuk melakukan Testpack. Alhamdulillah hasil sesuaid dengan mimpi saya, akhirnya saya pun bergegas menuju mushola untuk sujud syukur. Air mata menetes di pipi dan ingin rasanya mengabarkan suami yang sedang nan jauh disana. Saya pun hanya bisa mengangkat tangan memanjatkan segala deo`a kepada sang Maha Pencipta, janin yang ada di rahim hamba adalah kehendakNya. Pertumbuhan, perkembangan dan kesehatannya hanya Allah yang tahu. Dokter sekalipun tidak bisa mengetahui kedetailan segalanya apa yang ada di rahim hamba.
Keesokan harinya saya berikan kabar bahagia ini kepada keluarga di rumah dan bergegas untuk mengecek ke dokter kandungan. Setelah kepastian hal ini, saya beranikan memberi kabar kepada keluarga suami dan suami yang sedang ada di lokasi kerja. Kebahagiaan bisa saya rasakan dari suaranya disana, namun kekhawatiran mengiringi suaranya. Disatu sisi suami bahagia mendengar kabar ini, dan disisi lain dia merasa kurang karena tidak menemani saya disini.
“Alhamdulillah, jaga kesehatan ya de. In syaa allah mas akan pulang secepatnya. Doakan mas disini semoga lancar dan sukses ya.” Ucap suami dengan bahagianya.
“Iya mas, ade do`akan semoga berkah segalanya. Hal ini tidak usah terlalu dipikirkan, in syaa Allah akan Allah jaga jadi jangan khawatir ya mas.”tenang saya kepadanya.
Tidak lama setelah info ini saya sampaikan kepada suami, beliau pulang dan memberikan nasehat serta membantu saya dengan sangat baik. Keluarga besar kami pun merasakan kebahagiaan yang sama, karena saya dan suami merupakan anak pertama oleh karena itu keturanan kami ini dinantikan pula oleh kedua keluarga besar.
Di kehamilan 2 bulan saya dokter kandungan yang ketika itu kami percayakan kepada Dr. Ogy, beliau menyampaikan pesan untuk bersabar karena janinnya hingga usia ini belum terlihat. Dr.ogy memberikan info kepada kami berdua mengenai beberapa macam kehamilan dan diantaranta BO (Blind Ovum). Namun, beliau pun masih memberi kami semangat untuk berpikiran positif.
Kini usia kehamilan saya sudah menginjang 10 week, namun janin pun belum kunjung terlihat. Dokter hanya mengingatkan jika ada sesuatu hal yang ganjal dalam kehamilan untuk langsung menghubunginya. Keesokan harinya perut saya merasa sakit yang luar biasa hingga saya pun tidak bisa tidur, ternyata saya mulai flek. Saya langsung datang ke klinik dr. Ogy dan hasilnya kantung janin saya mengecil dan sudah divonis BO. Esok paginya saya ke kamar mandi dan langsung keluar gumpalan-gumpalan darah. Saya langsung berkonsultasi ke dokter dan diakhiri dengan keputusan kuretase.
Syukur alhamdulillah, ketika proses kuretase yang menemani saya hanyalah suami yang ketika itu baru sampai rumah dan sedang shaum.hanya suami yang menunggu dari proses pengurusan hingga masuk ruang operasi.
Operasi kuretase berjalan selama 30 menit, dan saya belum bisa sadarkan diri langsung. Ketika saya sadar, semua anggota keluarga sudah ada depan saya. Saya tidak menangis sama sekali, saya tidak berat dengan adanya kejadian ini. Karena diawal kehamilan sudah saya serahkan segalanya kepada pemiliknya. Suami selalu menguatkan saya, bahwa segala sesuatu adalah kehendak Allah dan kita hanya wajib berikhtiar untuk bisa mendapatkan ridhoNya.
Saya bisa kuat hanya karena Allah dengan wasilah suami dan keluarga saya. Saya bersyukur pernah mengalami hal ini, dan dari sini pulalah saya bisa banyak belajar.
Istri sholehah adalah perhiasan dunia bagi seorang lelaki, begitu pula sebaliknya bahwa suami sholeh adalah perhiasan dunia bagi istri dan anak shaleh shalehah adalah perhiasan dunia bagi orang tua.
















“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” 

(Qs. Al-Baqarah: 155)


KADO BAHAGIA



Jika kau ingin bahagia sebulan, maka nikahilah oranga yang kau cintai. Namun, jika kau ingin bahagia selamanya maka bahagiakanlah orang yang kau cintai. –Fahd Pahdepie-
Kata-kata diatas memang benar adanya, ketika kita membahagiakan ornag yang kita cintai maka kitapun akan turut berbahagia. Itulah yang ingin saya lakukan sebagia istri. Suami keluar rumah untuk bekerja dengan mengorbankan banyak hal pula layaknya istri yang harus menanti suaminya. Namun, tanggungjawab suami lebih besar daripadanya. Ketika suami harus fokus bekerja, dan ketika itu pula dia teringat keluarganya yang dia rindukan. Semoga Allah selalu memberi kelancaran dan keberkahan bagi suami kita dalam mencari nafkah.
Betapa bahagianya sorang istri ketika tahu suaminya akan segera datang, dan pastinya begitu pula seorang suami yang merindukan keluarganya. Dan kebahagiaan ini tidaklah boleh dirusak hanya karna emosi atau keadaan rumah atau apapun. Maka dari itulah saya selalu berusaha memberikan kado setiap suami baru pulang kerja. Kado apa?? Apapun itu dari hal yang kecil sampai yang besar menurut saya. Tapi, apapun itu tidaklah ternilai bila dibandingkan dengan kebahagiaan yang dirasakan karena kebahagiaan ini akan teringat selalu.
Saya selalu mencari apa yang suami butuhkan atau yang belum pernah dia temukan. Memang tidak secara terbuka saya tanyakan, namun semuanya mengalir dalam kegiatan harian.
“de, sabuk yang kayak gini susah dicari di indonesia. Padahal saya cari yang seperti ini, sabuk tanpa kunci.”suamipun menceritakan sabuknya yang memang sudah agak usang dan susah untukmencari penggantinya.
Hal itu bisa saya jadikan clue untuk bisa memberinya sesuatu diwaktu nanti. Walau saya pun mencari dulu dimana tempat saya mendapatkannya. Ketika kita berniat untuk memberi sesuatu kepada orang yang kita cintai, awal perumusannya saja kita akan bersemangat bagaimanapun caranya. Dan disaat kita melihat raut bahagia di wajah orang yang kita cintai, disitu pula lah bukti kita berhasil menggapai tujuan kita.
Ilmu amatlah penting, dan ilmu membahagiakan suami pun bisa kita dapatkan baik secara formal dari membaca buku, browsing atau nasehat orang lain. Dan cara menyampaikan kado pun tidak hanya dengan memberikan langsung, ada pula saatnya kita memberikan surprise.
welcome home mas” sambut saya setelah buka pintu.
Suami memandang keadaan sekitar yang merupakan surprise baginya. Senyum bahagia pun terlontar dari mulutnya, muka lelah terhiasi oleh senyumnya.
syukron, de” ucapnya lantang.
Ada kalanya saya simpan pesan rahasia yang berisikan clue  selanjutnya untuk dia cari. Dan dia menemukan clue selanjutnya hingga akhirnya kado dia dapatkan di tempat tersembunyi. Raut bahagia pun saya lihat lagi di raut wajahnya. Dan itulah rumah tangga, suami bahagia maka istripun bahagia.













Rasulullah  pernah bersabda:
تَهَادُوْا تَحَابُّوْا
“Saling menghadiahilah kalian niscaya kalian akan saling mencintai.”

(HR. Al-Bukhari dalam Al-Adabul Mufrad no. 594, dihasankan Al-Imam Al-Albani t dalam Irwa`ul Ghalil no. 1601)



LDM (Long Distance Marriage)


 Dengan izin Allah acara resepsi pernikahan lancar dan in syaa allah berkah. Setelah dari gedung saya pulang ke rumah dan Fathir pun pulang ke rumahnya untuk bersiap menjemput saya kembali sore nanti dan menuju rumah kami berdua. `Maka nikmat Allah yang manakah yang kamu dustakan` hal ini selalu mencambuk saya agar tetap bersyukur atas karuniaNya. Saya sibuk bersiap dengan pakaian dan segala hal yang harus saya bawa ke rumah baru, disamping itupun tamu terus berdatangan. Ketika sore datang, hati ini berdegup semakin kencang karena ini pertama kalinya akan ada lelaki yang menjemput saya untuk pergi dan tinggal bersamanya. Namun saya lihat jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB dan beliau tidak kunjung datang. Suara mobil depan rumah mengagetkan saya yang sedang rebahan di kasur. Mama mertua saya pun masuk mendahului suami yang ada dibelakangnya.
Panjang lebar mama menjelaskan, bahwa diperjalanan fathir sudah tidak sabar ingin menjemput saya. Namun apa boleh buat perjalanan mengantarkan keluarga besar ke stasiun bukanlah perjalanan yang pendek, dan hal itulah yang menjadi kendalanya untuk menjemput saya disore hari.
“maaf ya nisa, sebenarnya fathir sudah tidak sabar ingin segera menjemput kesini..” jelas mama panjang lebar.
“iya ma, tidak apa-apa alhamdulillah sudah selamat sampai sini sekarang.” Saya berbicara sambil menutupi kegrogian saya depan mertua.
Kami pun langsung menuju rumah kami berdua dan beberapa malam kami disana. 4 hari saya dan suami bersama merupakan kesyukuran yang luar biasa, karena saya sudah mendapat penjelasan dan pengertian sebelumnya bahwa dia jarang pulang karena pekerjaan yang menuntutnya. Sebelum menikah saya hanya berfikir, ditinggal suami layaknya ditinggal otang tua bekerja.
Dan kenyataannya amat berbeda jauh dengan apa yang saya bayangkan diawal. Setelah hari ke 4 kami bersama di hari ke 5 suami harus pergi ke luar kota untuk lanjut bekerja. Awalnya saya merasa tegar dan melepas suami dengan senyuman, namun kenyataannya hati saya merasa sepi dan tidak bisa dipungkiri pikiran hanya terfokus pada suami. Dan apa boleh buat saya hanya bisa berkirim pesan kepadanya walau air mata mengalir dengan sendirinya.
Subhanallah walhamdulillah, inilah bukti janji Allah dalam firmanNya bahwasanya batin seorang wanita dan pria akan terikat kuat setelah adanya ucapan akad yang menjadi mistaaqon ghalidzaa. Saya pun menyadari betapa Agungnya Allah SWT dengan janjiNya atas syurga yang akan diberikan bagi istri sholehah yang sabar menanti suami, mendoakannya dan menjaga kehormatannya.
Beberapa bulan sebelum pernikahan, saya persiapkan mental dan ilmu dengan membaca beberapa buku persiapan pernikahan yang merupakan kado dari guru saya. Begitu luar biasanya Allah dalam menciptakan makhluqNya, pria dan wanita tidak bisa dipersamakan dalam perlakuan dan hal ini pula yang harus banyak diketahui para calon pengantin. Bahwa suami istri haruslah saling memahami dan mengingatkan.
“istriku, maaf ya saya selalu meninggalkan kamu hanya untuk kerja.” Ucapan suami saya ini membuat perasaan saya luluh dan bangga.
“mas, kata maaf tidak perlu ada untuk hal ini. Ini semua sudah kewajibanmu, saya pun sudah ridho untuk menerimamu dengan apa yang ada padamu sekarang. Pekerjaan ini merupakan tabungan amal dan harta untuk keluarga kita di masa depan, bekerjalah dengan semangat dan keluarkan kemampuan terbaikmu. Jangan lupa niat kita hanyalah untuk Allah, semoga semuanya barokah ya mas.” Entah dari mana kata-kata ini keluar dengan mengalir dari mulut saya, yang sebenarnya hati ini mencoba untuk tegar karena satu bulan harus berpisah dengan lelaki halal yang baru saja beberapa hari.
Kecupan di kening saya pun menjadi tanda bahwa suami akan selalu mendoakan saya agar kuat untuk segalanya, begitupun saya mencium punggung tangan suami dengan doa agar segala yang dihasilkan menjadi harta yang halal barokah untuk keluarga kecil kami.
Setiap hari tidak terlewatkan bagi saya untuk melihat layar hp hanya sekedar menunggu pesan darimu. Jujur saya rasakan bahagia teramat sangat ketika suami menelepon atau bahkan hanya memberi pesan. Seolah kontak di telepon genggam saya tidak ada sepenting suami dan orang tua saja.
Oh Allah, besar sekali nikmat yang Engkau berikan kepada kami. Ketika suami pulang, kebahagiaan saya sebagai istri pun tidak bisa diungkapkan. Dan satu yang ingin saya ucapkan “Syukurku padaMu Yaa Robb, karena Engkau telah menjadikan hamba istri dari Fathir hambaMu yang sholeh maka bimbing hamba agar bisa menjadi istri sholehah baginya.”














عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص:
اَكْمَلُ اْلمُؤْمِنِيْنَ اِيْمَانًا اَحْسَنُهُمْ خُلُقًا. وَ خِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ. احمد و الترمذى و صححه
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Sesempurna-sempurna iman orang mukmin adalah yang palingbaik akhlaqnya diantara mereka dan orang paling baik diantarakalian ialah orang yang paling baik terhadap istrinya”.
[HR. Ahmad dan Tirmidzi]





Kamu sehat??

Selama 6 bulan setelah proses ta`aruf Fathir ke rumah orang tua saya. Dengan musyawarah, pendalaman infonya via teman, sholat istikhoroh dan lainnya sehingga pilihan dari keluarga dan saya jatuh pada Fathir. Perencanaan khitbah pun diadakan setelah adanya kesepakatan dari keluarga besar saya.
Menikah adalah menyatukan 2 keluarga, maka keikutsertaan anggota keluarga dalam memberi saran amat lah penting bagi saya dalam menghadapi persiapan pernikahan. Sudah saya urungkan niat kuliah s2 dalam waktu cepat, dan akan saya tunda hingga ada waktu yang tepat nanti.
Pertemuan saya dengan fathir baru lah 2 kali sebelum kami duduk menghadap bapa penghulu. Kami belum pernah mengobrol hadap-hadapan muka, saya pun baru pertama kali bertemu dengan ibunya disaat khitbah. Kenapa bisa secepat ini mengambil keputusan menikah? Sudahkah yakin? Dan banyak pertanyaan lain yang dilontarkan pada saya. Jawaban saya hanya satu, niat saya ibadah bersamanya. Ini semua Allah yang telah menggerakkan dan memberi kemudahan dalam setiap prosesnya, dan saya hanya bisa bersyukur dan terus bersyukur. Sudahkan saya mengenali keluarganya?? Belum. sudahkah saya bertemu dengan orang tua atau keluarganya?? Belum. Sudahkan saya yakin?? Ya, saya yakin. Karena saya serahkan semuanya pada Allah dan pada keluarga.
Ketahuilah, ayah akan memiliki chemistry pada lelaki calon menantunya. Ayah akan tahu mana lelaki yang baik bagi anak perempuannya. Dan saya yakin pada ayah saya, bahwa beliau akan memilih lelaki yang sholeh dunia dan akhirat. Dan tak luput juga seorang ibu, ibu tahu bagaimana cara memilih lelaki yang baik. Ibu banyak memberi nasehat bagaimana peran wanita dalm persiapan berumah tangga.
“Teh, inget ya kalau nanti teteh sudah berkeluarga ikuti semua kata suami teteh. Karena lelaki memikirkan segalanya dalam pemikiran yang panjang ke depan. Dan akan memiliki keputusan untuk yang terbaik bagi keluarga” pesan adik lelaki saya satu hari sebelum akad pernikahan saya.
Sungguh rumah tangga merupakan sekolah bagi saya. Sekolah dimana tempat saya belajar kesabaran, keikhlasan, kasih sayang, kepercayaan, kemandirian dan banyak lagi hal yang akan saya dapatkan hanya di rumah tangga dan tidak saya dapatkan di sekolah formal.
Esok adalah akad nikah saya bersama fathir. Saya hanya bisa berdzikir dan memohon kelancara segala rentetan acaranya kepada Allah. Segala perasaan yang ada bercampur aduk menjadi satu. Bahagia karena saya akan menikah dan melepas masa lajang saya sebagai wanita karena dari menikahlah suami saya telah melengkapi iman saya. Sedih karena harus meninggalkan kedua orang tua saya dan mengabdikan diri kepada seorang lelaki yang bernama suami. Namun semuanya bersatu dalam kata Syukur.
Akad pun dilakukan dengan lancar dan satu kali ucapan, setelah kami halal menurut syariat barulah pagar ayu saya membawa saya keluar untuk bisa duduk bersampingan dengan lelaki yang kini halal bagi saya. Kami menandatangani surat nikah dan disinilah pertama kalinya kepala saya dicium oleh seorang lelaki yang baru saya kenal dan akan menjadi imam saya.
Setelah akad selesai kami dibawa mobil menuju gedung resepsi. Bisa dibilang kami berdua masihlah kaku sebagai suami istri. Kami belum pernah bertatap muka apalagi berpegangan tangan, dan inilah awal pertama kami menyatukan cinta untuk bersatu dalam Cinta kepada Allah.
“Gimana kabar? Kamu sehat?” inilah sapaan pertama yang dia lontarkan pada saya di dalam mobil menuju gedung. Dan disini pulalah awal saya memandang matanya, saya pun berdoa dan mendoakannya dalam hati.







Allah Ta’ala berfirman:
{وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولا نَبِيًّا. وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا}
Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam al-Qur’an. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan dia (selalu) memerintahkan kepada keluarganya untuk (menunaikan) shalat dan (membayar) zakat, dan dia adalah seorang yang di ridhoi di sisi Allah
(QS Maryam: 54-55).




Orang tualah yang berhak

“Pokoknya saya pingin nikah muda deh..”
Mendengar pernyataan ini dari teman kuliah memang tidak membuat saya kaget. Diusia saya sekarang memang sudah menjadi pembicaaran yang hangat bagi teman seumuran saya tentang menikah. Walau dilihat dari raut muka, belum lah terlihat keseriusan yang mendalam, tapi adanya pernyataan seperti itu membuktikan adanya pemikiran mengenai hal tersebut. Ok saya putar balik pada diri saya sendiri, bagaimana dengan saya?
Ketahuilah bahwa saya adalah anak pertama dari empat bersaudara, orang tua memiliki impian dan harapan besarnya pada saya. Walau impian dan harapan orang tua terhadap saya tidaklah sebesar harapan dan impiannya kepada kedua adik laki-laki saya. Laki-laki bisa dibilang bebas dan memiliki waktu yang panjang dalam kurun untuk berkeluarga, sedangkan wanita jika sudah menikah maka Ridhonya ada bersama suami.
Ketika ada seorang lelaki mencoba menghubungi dan memulai komunikasi via Facebook, kami hanya bisa berkomunikasi dengan sedikit percakapan.
“apakah benar ini Annisa SMP 198??” tanyanya pada saya.
“benar, maaf apakah ada yang bisa saya bantu??” jawab saya singkat, karena kami sudahlah lama tak bersua dan dia adalah teman sekelas saya di SMP kelas. Namun, memang tidaklah mengenalinya secara dekat.
“bisa saya minta nomor hpmu??” tanyanya lebih lanjut.
“boleh, 081xxxxxxx namun saya hanya bisa dihubungi di waktu tertentu saja sekitar bulan september tanggal 20” jelas saya singkat.
Ya, hanya sesingkat itulah kiranya kami berkomunikasi. Sama sekali tidak ada pemikiran yang lebih untuk saya pikirkan, karena setahu saya dia adalah seorang lelaki yang berkomitmen. Dia hanya akan berbicara untuk sesuatu hal yang penting saja pada lawan jenisnya. Memang sudah sekitar 9 tahun kami tak bertemu, dan di tahun lalu reuni SMP saya belum sempat ikutserta. Mungkin ada sesuatu yang berhubungan dengan angkatan kami di SMP yang ingin dia sampaikan, itu saja yang saya fikirkan.
Hari ini September tanggal 23, telepon genggam saya berdering dari nomor yang belum ada di daftar kontak. Saya pun mengangkatnya.
“assalamu`alaikum” sapa saya dengan suara yang resmi.
“wa`alaikumussalam, ini dengan annisa??” suara dari sana pun terdengar jelas bahwa dia seorang lelaki.
“saya Fathir, bagaimana kabarmu??” lanjut pertanyaan darinya dan bertanya lagi mengenai beberapa hal perencanaan saya di tahun ini. Walau saya rasa kenapa pembicaraan ini mengalir begitu saja dan adanya kehangatan seolah teman yang sudah lama bertemu. Ingat, kami belum pernah bertemu lagi semenjak lulus SMP dan sekarang kami sama-sama lulusan universitas kami masing-masing.
Panjang dia bercerita mengenai teman-teman kami yang sudah menikah sesama angkatan. Hati ini hanya bisa beristighfar tanpa henti agar hati tetap terjaga dari perasaan-perasaan yang tidak perlu hadir. Saya mulai mengeraskan suara dengan beberapa penjelasan yang terlontar dari mulut ini secara spontan, ketika ada pernyataannya yang mengusik ketenangan hati saya.
“Lah, kamu kapan nikah rencananya??” tanya saya setelah penjelasan yang panjang lebar mengenai cita-cita saya untuk lanjut S2 yang sedang dalam proses menunggu panggilan.
“Saya menikah rencanya tahun ini.” Jawabnya singkat dan memancing saya tuk bertanya lagi.
“wah alhamdulillah, sama siapa nih? Semoga saya bisa datang.” Tanya saya padanya.
“sama kamu.”jawabannya yang singkat ini tidak membuat saya bahagia, namun memancing emosi saya walau saya hanya bisa tersenyum sinis.
“apa maksud kamu? Kita sudah 9 tahun tidak pernah bertemu lagi kita belum saling kenal, bahkan sama sekali saya tidak pernah memikirkan atau ingat kamu sama sekali. Pernikahan bukan hal yang kecil, dibutuhkan kesiapan mental fisik bahkan jiwa. Rumah tangga itu untuk selamanya, butuh ilmu dan kesepakatan antara kedua pihak. Tidaklah menjadikan satu dua insan, namun dua keluarga. Jadi jangan..” masih panjang penjelasan yang saya sampaikan disertai emosi yang masih bisa saya kontrol. Dan anehnya setelah saya berbicara panjang lebar, hanya terdengar suara senyum dengan tenangnya diujung sana.
“saya juga engga tau kenapa bisa seperti ini, ketika saya sholat malam dan selesai berdoa teringat aja sama nama kamu dan akhirnya saya cari di Facebook. Alhamdulillah biidznillah saya bisa berbicara sama kamu sekarang.” Jelasnya dengan suara yang bijaksana.
“baiklah, sebelum saya menikah saya masih milik orang tua. Maka silahkan datanglah kepada orang tua saya jika memang kamu berniat baik. Saya belum berhak untuk menjawab apa-apa dan orang tua saya lah yang berhak untuk menjawabnya.” Pinta saya dengan penjelasan yang ada di otak saya.
Itulah pembicaraan singkat kami yang harus saya sampaikan kepada orang tua atas niat baiknya. Memang sudah ada beberapa lelaki yang datang menghadap orang tua untuk mengajukan niat baiknya, namun waktu dan kondisi yang belum tepat.
Teringat pada nasehat ayah saya dari semenjak lama, bahwa sebagai wanita tidaklah boleh menolak niat baik seorang lelaki. Karena sesungguhnya dia tidaklah berhak atas hal tersebut, namun hak itu berada di tangan kedua orang tuanya. Tak lupa juga ayah menyampaikan beberapa hal mengenai shalat istikhoroh. Bahwa sholat istikhoroh memberikan 3 jawaban :
1.      Adanya Nasehat alim ulama mengenai pilihan terbaik
2.      Adanya kecondongan hati kita pada pilihan terbaik
3.      Adanya mimpi yang memberikan tanda pada pilihan terbaik
Tak lama setelah pembicaraan kami, dia pun memberitahukan akan kedatangannya ke rumah untuk bertemu orang tua.






 Nabi Muhammad SAW pernah bersabda:
 “Pilihlah keturunanmu.” Artinya, orang tua perlu memerhatikan kriteria moral dalam memilih calon istri atau suami untuk anak laki-laki dan perempuannya, dengan memeriksa orang tua dari pasangan anak mereka nanti. Jika orang tuanya alim, tentunya anaknya juga demikian, dan demikian pula sebaliknya.
(HR. Bukhari dan Muslim)



Jumat, 26 Mei 2017

Jadi blogger??


Entah karna apa ya dulu tetiba buat blog??? bingung sendiri tadi pagi ikutan buka tutorial buat blog di WAG Bunda Sayang yang baru akan mulai minggu depan. Blog jadi salah satu tuntutan bagi kita peserta kuliah bunda sayang.

Pas buka link, terhubung sama blog pribadi yang ini. Padahal entah apa alasannya dulu buka blog, syukur alhamdulillah masih ada yang ini dan siap diaktifkan lagi. Oke aplikasi Blogger pun udah ter-instal, jadi akan lebih sering nulis via blog kayaknya.

Saya terbiasa curhat sama mamah dan apa ketika duduk di bangku TK, karna beliau berdua yang aktif menanyai saya kegiatan, masalah bahkan sampai materi yang disampaikan guru setiap saya pulang sekolah. dan hal ini biasa saya dapat hingga duduk di bangku SMP. So, ga aneh ya kalau saya ekspresif?!?! karna orang tua adalah salah satu media saya bisa responsif atas segala keadaan. Dan hal ini perlu dicontoh banget bagi para orang tua (menurut saya) hehe..

Hingga pada akhirnya pas saya masuk asrama di masa SMA, saya yang responsif akan keadaan dan lingkungan mengeksplor semuanya ke buku harian. Kegiatan saya menulis di buku harian adalah malam hari, ketika semua orang tertidur.

Teringat beberapa hari yang lalu, pas banget pa suami sedang off dan ada di rumah. Saya yang sudah siap menyambut beliau di kamar pun sambil merapikan buku-buku. Tak disangka buku harian saya masa `galau` dahulu kala ada depan mata, sergap pun saya langsung baca perlembar. Entah kenapa air mata tetiba mengalir sambil mata mengikuti susunan kata perkatanya. Pintu kamar pun terbuka, dan sesosok yang ditunggu pun datang dan bersiap istirahat tuk menyambut esok pagi. Beliau yang terlihat bingung ngeliat istrinya bercucuran air mata sambil pegang buku harian, cuma bisa ikut mendekat dan berbisik `ada apa??`.

Spontan saya tersenyum, ini buku yang menemani saya tuk memilih calon pendamping hidup kala itu. Beberapa laki-laki yang Allah kirimkan kepada saya untuk banyak saya pertimbangkan, bingung, bahagia, sedih dan perasaan lainnya yang terkadang menganggu pikiran disaat saya fokus kepanitian.

Aaah inget kejadian itu, saya jadi berfikir bahwasanya masa lalu hanya bisa kita kenang dengan segala kebahagiaan, kesediahan, kesabaran dan segala yang menghiasinya. Dan hari ini kita adalah penulis sejarah diri kita sendiri yang bakalan kita kenang di masa depan. So, siap mendokumentasikan sejarah via tulisan disini.. iya disini.. stay tune ya, karna saya berharap adanya masukan dari anda, anda dan anda semua.. hehe..

Yuk ah jadi Blogger.. ^_^

Eh jadi penulis maksudnya..


REFRESH

Assalamualaikum, udah hampir 3 tahun ga buka blog lagi..

Sabtu 27-05-017 tanggal hari ini mengantarkan saya untuk terus bersyukur, beberapa bulan yang lalu tanggal ini yang selalu dipersiapkan sebaik-baiknya dalam rangka persiapan Shaum Ramadhan. Alhamdulillah wa syukru `ala ni`matillah tadi malam, sudah ada hasil dari sidang isbat bahwasanya hari ini sudah masuk 1 Ramadhan.

Menjadi mahasiswi di Ibu Profesional bukanlah hal biasa, karna saya sendiri jadi bisa refresh tuk terus menuntut ilmu. Beranjak ke kelas Buinda Sayang adalah menjadi tantangan sendiri bagi saya. Materinya lah yang membuat saya membuka blog ini lagi. Akan banyak yang saya share disini, stay tune ya..


IBU PEMBAHARU #2 : Konferensi Perempuan Indonesia 2023

Definisi Ibu Pembaharu itu sendiri adalah sosok ibu yang mampu menemukan masalahnya dan mengubahnya menjadi sebuah tantangan hidu...