Kamis, 01 Juni 2017

Komunikasi Produktif Bunda sayang level 1 hari #1

Bismillah, kelas yang ditunggu-tunggu pasca kelas matrikulasi akhirnya datang juga. Komunikasi Produktif jadi fokus kami diawal pembelajaran, dan ini hikmah hari ini:

Saya adalah seorang istri yang menjadi objek sekaligus subjek LDR, karna terpisah jarak dan waktu dengan suami yang sedang bekerja maka objek dalam komunikasi saya di hari pertama game ini adalah anak2 didik saya di les privat yang saya adakan.

Awal januari saya memulai les, dan kini alhamdulillah saya sedang mendidik dan belajar bersama dengan 2 orang anak kelas 8 sebut saja nama mereka iki dan kakak, 2 orang kelas 6 mereka adalah adik dan sakhi, serta 1 orang kelas 5 namanya naufal.

Ujian Nasional telah terlewati dengan fokus saya mengajar anak kelas 6 kala itu. Dan kini fokus saya kepada materi anak2 yg akan UKK. Saya memiliki pengalaman mengajar 5 tahun, saya pun bs sedikit lebih mengenal cara belajar serta karakter anak didik.

Yang saya lihat, iki adalah salah seorang anak didik yg hanya bs belajar jika suasana hening. Berbeda dengan sakhi dan adik yg gaya belajarnya dengan dibarengi keramaian berupa bersuara atau nyanyi. Dengan hal ini, saya berusaha untuk memisah kelas diantara mereka agar masing-masing belajar dengan nyaman dan bisa fokus.

Namun yg terjadi hari ini diluar perkiraan saya. Sakhi dan afik yang bersemangat ingin ujian (padahal UN sudah seminggu yg lalu dan sebenarnya tidak ada traget materi sekarang, tapi semangat mereka belajar matematika tidak bisa saya stop).

Akhirnya saya berusaha menenangkan dan belajar bersama iki dengan kelas yg terpisah. Saya soundingkan hal2 positif bahwa dia bisa belajar dengan keadaan seperti sekarang (karna harus bersampingan dengan anak yg belajar dengan keramaian).

"Teteh akan datang kesini nanti, teteh mau fokus sama iki yg akan UKK besok. Semoga kalian paham ya, kan teteh juga sudah fojus sama kalian seminggu yg lalu untuk UN." ujar saya berusaha memahamkan adik dan sakhi yg terlalu responsif dengan keadaan.

"Iya sih teh, tapi kan masa kita ga ditengokin?" Sakhi pun mengutarakan keinginannya.

Wal hasil, 10 menit sekali saya singgahi kelas mereka hanya sekedar mengabsen diri bahwa saya sudah melihat mereka.

Karna sungguh seorang anak berhak untuk selalu diberi respon positif dan perhatian, walau saya bukanlah orang tua yg melahirkan mereka. Tapi mereka tetaplah anak2 yg selaku menggugu dan meniru.

Semangat belajar dan terus gelajar.

Ziyana

#level1
#day1
#tantangan10hari
#komunikasiproduktif
#kuliahbunsayiip

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IBU PEMBAHARU #2 : Konferensi Perempuan Indonesia 2023

Definisi Ibu Pembaharu itu sendiri adalah sosok ibu yang mampu menemukan masalahnya dan mengubahnya menjadi sebuah tantangan hidu...