Tidak mudah bagi kami untuk menghadiri
setiap undangan pernikahan yang datang. Jikalah suami ada di rumah,
alhamdulillah akan kami usahakan datang. Namun, bila suami sedang di luar kota
saya selalu ajukan dulu permohonan izin kepadanya. Semua hal kita diskusikan
baik dan buruknya, jika beliau berkenan maka saya usahakan datang ditemani adik
kandung saya atau adik ipar.
Pernah suatu ketika kami mendapat 2
undangan pernikahan dalam satu waktu. Yang mana rata-rata resepsi pernikahan
dimulai dari jam 11.00-14.00 WIB, ketika waktu ini pun kami ingin mengutamakan
shalat dhuhur berjamaah di masjid. Pada akhirnya kami baru bisa berangkat
setelah dhuhur dengan mendahulukan undangan di tempat yang lebih dekat menurut
kami.
Tempat pertama yang akan kami hadiri
bertempat di Islamic centre Bandung yang ternyata kami membutuhkan waktu agak
lama dikarenakan macet yang sudah biasa terjadi di akhir pekan. Setelah kami
datang disana, kami pun bergegas menyalami pengantin dan bertemu dengan rekan
sebentar saja. Lalu kami memohon pamit untuk bisa menghadiri undangan
pernikahan di tempat kedua yang lumayan jauh tempatnya dari sana. Kami
membutuhkan waktu satu jam kurang sampai sana, apalah dikata niat suami saya
sudah kuat untuk tetap hadir disana dan saya pun mendukungnya.
Kami sampai di tempat kedua dengan
keadaan semua sudah dirapikan, alhamdulillah kami masih bisa bertemu dengan
pengantin yang sudah berganti pakaian untuk pulang. Ini adalah pengalaman yang
luar biasa bagi saya dan suami. Bukan untuk keterlambatan kami, namun untuk
segala persiapan, kejadian dan percakapan kami yang menghangatkan suasana.
Bagi saya menghadiri pernikahan orang
lain merupakan charger bagi saya untuk berumah tangga. Ketika kami bersiap
dengan pakaian yang sudah menjadi diskusi kami. “mas, saya pakai baju ini
apakah sudah pantas?? Kerudung seperti ini bagaimana??”pertanyaan yang selalu
saya lontarkan kepada suami sebelum saya keluar rumah.
“iya de, baju nya sudah pas. Tapi,
bagaimana jika kerudungnya seperti ini... untuk bedak dan ininya...” suami menyampaikan
masukannya dan alhamdulillah saya suka dengan hal itu.
Sungguh suami adalah pakaian bagi
istrinya, dan istri adalah pakaian bagi suaminya. Hal ini sangat benar adanya,
bayangkan ketika suami kita dipuji penampilannya maka hal itu akan menjadi point
kebahagiaan bagi kita sendiri sebagai istri.
Ketika kami diperjalanan menuju
tempat, kami mengenalkan pengantin kepada pasangan kami. “mas, yang nikah ini
namanya azka dan dia adalah teman saya ketika sekolah. Kita berkali-kali kumpul
bareng di bandung, tapi sudah sekitar 4 tahun belum pernah ketemu lagi.”jelas
saya tentang pengantin wanita yang resepsinya akan kami hadiri. Begitu juga
suami saya yang akan menceritakan temannya yang merupakan pengantin.
Sesampainya kami di tempat resepsi,
kami kenalkan pasangan kami pada teman yang hadir disana maka bertambahlah
keluarga. Santapan di resepsi pun siap kami santap setelah berkeliling melihat
macam-macam makanan yang tersedia. Dari sini bertambahlah pengetahuan saya
mengenai apa yang disuka dan tidak disukai suami, begitu pula sebaliknya.
Dan yang amat saya resapi adalah
nasehat dari ulama atau tokoh masyarakat ketika akad penikahan. Tidak setiap
undangan pernikahan kami sempat mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan hal
ini.
“mas, bismillah kita siap mengarungi
rumah tangga hingga menggapai ridhoNya ya mas.”ucap saya spontan setelah
mendengar nasehat ustadz di suatu akad pernikahan.
“bismillahirrohmanirrahim de.”sahutnya
disertai senyum sumpil.
firman-Nya:
{الرِّجَالُ قَوَّامُونَ
عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا
أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ}
“Kaum laki-laki itu adalah pemimpin
bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka
(laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka
(laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka”
(QS
an-Nisaa’: 34).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar