Sabtu, 27 Mei 2017

ROMANTISME PERNIKAHAN

Tidak mudah bagi kami untuk menghadiri setiap undangan pernikahan yang datang. Jikalah suami ada di rumah, alhamdulillah akan kami usahakan datang. Namun, bila suami sedang di luar kota saya selalu ajukan dulu permohonan izin kepadanya. Semua hal kita diskusikan baik dan buruknya, jika beliau berkenan maka saya usahakan datang ditemani adik kandung saya atau adik ipar.
Pernah suatu ketika kami mendapat 2 undangan pernikahan dalam satu waktu. Yang mana rata-rata resepsi pernikahan dimulai dari jam 11.00-14.00 WIB, ketika waktu ini pun kami ingin mengutamakan shalat dhuhur berjamaah di masjid. Pada akhirnya kami baru bisa berangkat setelah dhuhur dengan mendahulukan undangan di tempat yang lebih dekat menurut kami.
Tempat pertama yang akan kami hadiri bertempat di Islamic centre Bandung yang ternyata kami membutuhkan waktu agak lama dikarenakan macet yang sudah biasa terjadi di akhir pekan. Setelah kami datang disana, kami pun bergegas menyalami pengantin dan bertemu dengan rekan sebentar saja. Lalu kami memohon pamit untuk bisa menghadiri undangan pernikahan di tempat kedua yang lumayan jauh tempatnya dari sana. Kami membutuhkan waktu satu jam kurang sampai sana, apalah dikata niat suami saya sudah kuat untuk tetap hadir disana dan saya pun mendukungnya.
Kami sampai di tempat kedua dengan keadaan semua sudah dirapikan, alhamdulillah kami masih bisa bertemu dengan pengantin yang sudah berganti pakaian untuk pulang. Ini adalah pengalaman yang luar biasa bagi saya dan suami. Bukan untuk keterlambatan kami, namun untuk segala persiapan, kejadian dan percakapan kami yang menghangatkan suasana.
Bagi saya menghadiri pernikahan orang lain merupakan charger bagi saya untuk berumah tangga. Ketika kami bersiap dengan pakaian yang sudah menjadi diskusi kami. “mas, saya pakai baju ini apakah sudah pantas?? Kerudung seperti ini bagaimana??”pertanyaan yang selalu saya lontarkan kepada suami sebelum saya keluar rumah.
“iya de, baju nya sudah pas. Tapi, bagaimana jika kerudungnya seperti ini... untuk bedak dan ininya...” suami menyampaikan masukannya dan alhamdulillah saya suka dengan hal itu.
Sungguh suami adalah pakaian bagi istrinya, dan istri adalah pakaian bagi suaminya. Hal ini sangat benar adanya, bayangkan ketika suami kita dipuji penampilannya maka hal itu akan menjadi point kebahagiaan bagi kita sendiri sebagai istri.
Ketika kami diperjalanan menuju tempat, kami mengenalkan pengantin kepada pasangan kami. “mas, yang nikah ini namanya azka dan dia adalah teman saya ketika sekolah. Kita berkali-kali kumpul bareng di bandung, tapi sudah sekitar 4 tahun belum pernah ketemu lagi.”jelas saya tentang pengantin wanita yang resepsinya akan kami hadiri. Begitu juga suami saya yang akan menceritakan temannya yang merupakan pengantin.
Sesampainya kami di tempat resepsi, kami kenalkan pasangan kami pada teman yang hadir disana maka bertambahlah keluarga. Santapan di resepsi pun siap kami santap setelah berkeliling melihat macam-macam makanan yang tersedia. Dari sini bertambahlah pengetahuan saya mengenai apa yang disuka dan tidak disukai suami, begitu pula sebaliknya.
Dan yang amat saya resapi adalah nasehat dari ulama atau tokoh masyarakat ketika akad penikahan. Tidak setiap undangan pernikahan kami sempat mendapatkan kesempatan untuk mendengarkan hal ini.
“mas, bismillah kita siap mengarungi rumah tangga hingga menggapai ridhoNya ya mas.”ucap saya spontan setelah mendengar nasehat ustadz di suatu akad pernikahan.
“bismillahirrohmanirrahim de.”sahutnya disertai senyum sumpil.

























firman-Nya:
{الرِّجَالُ قَوَّامُونَ عَلَى النِّسَاءِ بِمَا فَضَّلَ اللَّهُ بَعْضَهُمْ عَلَى بَعْضٍ وَبِمَا أَنْفَقُوا مِنْ أَمْوَالِهِمْ}
Kaum laki-laki itu adalah pemimpin bagi kaum perempuan, oleh karena Allah telah melebihkan sebahagian mereka (laki-laki) atas sebahagian yang lain (perempuan), dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka

(QS an-Nisaa’: 34).


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IBU PEMBAHARU #2 : Konferensi Perempuan Indonesia 2023

Definisi Ibu Pembaharu itu sendiri adalah sosok ibu yang mampu menemukan masalahnya dan mengubahnya menjadi sebuah tantangan hidu...