Rabu, 20 September 2017

Mba tami 'menjadi ibu'

MENJADI IBU
❤Jayaning Hartami

Menjadi seorang ibu mungkin adalah komitmen jangka panjang paling epik yang pernah dibuat seorang perempuan dalam hidupnya.

Bayangin aja,

Waktu 24 jam yang tadinya bebaaaas mau kita atur sedemikian rupa untuk bisa ngelakuin banyak hal, setelah jadi Ibu? Sok aja coba kalo bisa 😅

Karena setelah jadi ibu, anak menjelma jadi pusat gravitasi dalam hidup kita.

Mulai dari bangun pagi, sampai tidur lagi. Semua adalah soal mengurus keperluan bocah bocah aktif ini.

Bocah yang gak paham ibuknya pengen selonjoran barang 5 menit. Bocah yang ga mau tau, kalo ibuknya kepingin sebentaaaaar aja bisa liat perabotan rumah rapih ala ala scandinavian biar bisa ikutan pamer di instagram pake hestek #myhomedecor. Mwahahaha..

Belum lagi soal bahwa mengasuh anak bukan sekedar ngasih makan, beliin baju, dan ngawasin main di taman.

Tapi soal mendidik. Soal menanamkan value dan segala perilaku baik lainnya. Tentang memberikan yang terbaik dari apa yang kita punya.

Maka dimulailah segala istilah baru itu hadir ke hidup kita. Mulai dari ASIX, ASIP, MPASI, homeschooling, unschooling, weaning, toilet training, dan -ing -ing lainnya yang kalo disebut berasa keren banget dah di lidah 😂

Seriously, pernah gak merasa takjub bahwa kita orang, -para mamah muda ini- mampu melakukan banyak hal yang gak terbayang sebelumnya?

Mungkin kita dulunya adalah aktivis kampus. Paling cepet turun pas ada jarkom soal aksi mahasiswa. Berani jadi border, dan ikut neriakin mars perjuangan kampus. Biasa terlihat tegas, galak, dan "sangar"

Tapi setelah jadi Ibu?

Siapa yang sangka bahwa ternyata kita berubah menjadi makhluk ga tegaan? Yang bisa bernada lembut saat menemani anak mengeja a-ba-ta. Yang pas malem diem diem nangis ketika melepas si dua tahunnya disapih. Lah ini mah curhat namanya, Tam 😂

Mungkin kita dulunya adalah si cerdas prestatif kebanggaan semua orang. Jangankan jadi ibu, bakal kawin cepet aja orang orang gak nyangka. Terbayang dulunya perempuan semodel ini, pastilah akan sibuk menuntut ilmu dan kompetisi disana sini. Lanjut sekolah sampai ke luar negeri. Membelakangkan persoalan menemukan jodoh dan membangun rumah tangga..

Tapi disinilah kita. Berada diantara bocah yang energinya melonjak lonjak senantiasa. Duduk membacakan buku sembari menjawab celetukan pertanyaan yang serba ingin tahu. Dimanakah perempuan yang dahulu prestatif itu? Ia masih ada disini. Meski kompetitifnya gak lagi tentang menjuarai lomba, tetapi tentang mendidik dan mengantar anak anaknya menuju syurga..

Mungkin kita dulu adalah wanita karir yang punya banyaaaak sekali waktu luang selepas jam kerja usai. Untuk sekedar surfing internet, nonton film terbaru, bebas pergi ikut kajian ini itu, atau menghabiskan akhir pekan dengan kongkow bersama kawan.

Setelah jadi ibu?

Pulang tenggo adalah hal yang sangaaat kita tunggu tunggu. Berdesakkan di kereta, di bus kota.., tapi hati begitu berbunga mengingat beberapa puluh menit lagi akan bertemu bocah yang bau asemnya ngangenin jiwa. Gak ada lagi rasa perlu nyobain cafe ini itu. Karena selain bikin nyampe rumah jadi lebih lama, mending juga duitnya buat beli buku buku yang lagi diskon di Emaknya Qila. Eh kan aah, keceplosan ngiklan lagi sayaaa.. 😅

Mungkin suatu hari kau merasa lelah sekali melakukan semua rutinitasmu sebagai ibu dan istri, lalu tiba tiba saja merindukan masa masa single dahulu.

Rindu untuk bisa aktif disana sini, tanpa harus repot digelayuti bocah sepanjang hari..

Rindu bisa duduk manis menyimak kajian sampai akhir materi, tanpa diinterupsi rengekan anak yang merasa bosan dan minta pulang..

Rindu tampil di depan. Mempresentasikan laporan kerja tahunan. Dengan blazer rapih, apresiasi, dan tepukan tangan. Sementara di hadapan bocah 2 tahun, jangankan tepuk tangan, udah sungguh sungguh nyiapin masakan aja nih ya, ehhh dilepeh gak karuan 😂

Rindu menghabiskan waktu luang dengan melakukan hobi yang dimiliki. Karna sekarang.., HAH? Apa itu waktu luang?? Huahahaha.. orang orang sih ngeliat kita seharian di rumah. Dia kagak tau aja kesibukan kita ngalah-ngalahin Nia Ramadhani yang liburan ke luar negeri tiap 3 bulan sekali. Kkkkkk...

Terkadang rindu kita sederhana.

Rindu bisa makan tanpa rengekan. Rindu bisa duduk sebentar, tanpa mendengar anak bertengkar. Rindu menjadi "egois" dan cukup memikirkan kepentingan sendiri..

Tapi setiap kali melihat wajah mungil di rumah kita. Mendengar suara tawa dan tangisnya. Melihatnya tumbuh dari bayi yang gak bisa apa apa, menjadi anak yang bisa diajak bicara, bercanda, dan sibuk mempertanyakan banyak hal pada ibunya.

Kita pun sadar bahwa bahagia kita sudah berubah maknanya.

Liat anak tertatih jalan tanpa pegangan, hati kita bisa bahagia luar biasa. Mendengar anak tetiba nyeletuk, "Ma-Ma!", bangganya gak kira kira. Mengantar anak masuk sekolah untuk pertama kalinya? Ah, Mak.. coba ngaku hayo, situ nganternya sambil diem diem ngapus air mata kan? Sama. Saya juga. Huahahaha..

Lihat, Bu.

Bahagia gak lagi kita letakkan pada diri sendiri. Tapi pada mereka, anak anak tercinta.

Lalu diantara rengekan bocah, berantakannya rumah, kubangan susu tumpah, dan kelelahan parah.. kau sadari bahwa label duniawi tak lagi menarik hati.

Bahagiamu sudah ada di sini. Di rumahmu sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IBU PEMBAHARU #2 : Konferensi Perempuan Indonesia 2023

Definisi Ibu Pembaharu itu sendiri adalah sosok ibu yang mampu menemukan masalahnya dan mengubahnya menjadi sebuah tantangan hidu...