Minggu, 17 September 2017

Gaya Belajar Bunda Sayang level 4 hari#11

Dapet hikmah lagi, bahwasanya belajar tidaklah harus selalu dalam keadaan formal.

Kemarin mamah dibantu nyetrika oleh bu kokom (yang sudah biasa bantu nyetrika baju2 di rumah). Bu kokom bukanlah seseorang yang berpendidikan tinggi, bahkan dari segi ekonomi bisa dibilang perlu dibantu. Beliau punya anak 5, dua sudah menikah dan yang lain masih sekolah. Penghasilan beliau dan suami serabutan, wallahu 'alam mencukupi atau bahkan kurang.

Dua hari yang lalu mamah sedang beres2 lemari dan merapikan baju2 yang terpakai, mamisahkan yang sudah tidak terpakai dan siap disumbangkan. Termasuk semua barang yang ada di rumah, salah satunya adalah beras sebanyak 7-8kg terkena kutu beras.

Sikap bu kokom yang lemah lembut, sopan, cara bicara yang membuat kita senang ngobrol bersamanya jadi salah satu aset beliau dalam bersosialisasi. Pada akhirnya mamah pun menyumbangkan semua baju yang tidak terpakai dikeluarga ke padanya, termasuk beras (sudah dijemur, jd sudah bersih walau belum maksimal).

Saya melihat raut bahagia bahkan sangat bahagia di wajah bu kokom, jadilah ini yang membuat hidup saya tambah bermakna.

Ketika kita bersosialisasi kepada orang lain dengan akhlaqul karimah, mereka pun akan memberikan timbal balik yang lebih baik. Dan ketika kita ingin bershodaqoh hal2 yang menurut kita sudah tidak berguna, berbeda dengan anggapan orang lain (orang yang tepat menerimanya).

Belajar dari lingkungan via gaya visual, audio dan kinestetik..

Semangat..

#kelasbunsayiip
#hari11
#gayabelajar

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IBU PEMBAHARU #2 : Konferensi Perempuan Indonesia 2023

Definisi Ibu Pembaharu itu sendiri adalah sosok ibu yang mampu menemukan masalahnya dan mengubahnya menjadi sebuah tantangan hidu...