Rabu, 20 September 2017

Bunsay Komunikasi Produktif

📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚

*KOMUNIKASI PRODUKTIF*

Institut Ibu Profesional

_Resume Materi Kelas Bunda Sayang sesi #1_
29 Mei 2017
*Fasilitator : Mbak Any*


Selisih paham sering kali muncul bukan karena isi percakapan melainkan dari cara penyampaiannya. Maka di tahap awal ini penting bagi kita untuk belajar cara berkomunikasi yang produktif,  agar tidak mengganggu hal penting yang ingin kita sampaikan,  baik kepada diri sendiri,  kepada pasangan hidup kita dan anak-anak kita.


KOMUNIKASI DENGAN DIRI SENDIRI
Tantangan terbesar dalam komunikasi adalah mengubah pola komunikasi diri kita sendiri. Karena mungkin selama ini kita tidak menyadarinya bahwa komunikasi diri kita termasuk ranah komunikasi yang tidak produktif.

Kita mulai dari pemilihan kata yang kita gunakan sehari-hari.

Kosakata kita adalah output dari struktur berpikir  dan cara kita berpikir

Ketika kita selalu berpikir positif maka kata-kata yang keluar dari mulut kita juga kata-kata positif, demikian juga sebaliknya.

Kata-kata anda itu membawa energi, maka pilihlah kata-kata anda

Kata  masalah gantilah dengan tantangan

Kata Susah gantilah dengan Menarik

Kata Aku tidak tahu gantilah Ayo kita cari tahu

Ketika kita berbicara “masalah” kedua ujung bibir kita turun, bahu tertunduk, maka kita akan merasa semakin berat dan tidak bisa melihat solusi.

Tapi jika kita mengubahnya dengan “TANTANGAN”, kedua ujung bibir kita tertarik, bahu tegap, maka nalar kita akan bekerja mencari solusi.

Pemilihan diksi (Kosa kata) adalah pencerminan diri kita yang sesungguhnya

Pemilihan kata akan memberikan efek yang berbeda terhadap kinerja otak. Maka kita perlu berhati-hati dalam memilih kata supaya hidup lebih berenergi dan lebih bermakna.

Jika diri kita masih sering berpikiran negatif, maka kemungkinan diksi (pilihan kata) kita juga kata-kata negatif, demikian juga sebaliknya.


KOMUNIKASI DENGAN PASANGAN
Ketika berkomunikasi dengan orang dewasa lain, maka awali dengan kesadaran bahwa “aku dan kamu” adalah 2 individu yang berbeda dan terima hal itu.

Pasangan kita dilahirkaan oleh ayah ibu yang berbeda dengan kita, tumbuh dan berkembang pada lingkungan yang berbeda, belajar pada kelas yang berbeda, mengalami hal-hal yang berbeda dan banyak lagi hal lainnya.

Maka sangat boleh jadi pasangan kita memiliki Frame of Reference (FoR) dan Frame of Experience (FoE) yang berbeda dengan kita.

FoR adalah cara pandang, keyakinan, konsep dan tatanilai yang dianut seseorang. Bisa berasal dari pendidikan ortu, bukubacaan, pergaulan, indoktrinasi dll.

FoE adalah serangkaian kejadian yang dialami seseorang, yang dapat membangun emosi dan sikap mental seseorang.

FoE dan FoR mempengaruhi persepsi seseorang terhadap suatu pesan/informasi yang datang kepadanya.

Jadi jika pasangan memiliki pendapat dan pandangan yang berbeda atas sesuatu, ya tidak apa-apa, karena FoE dan FoR nya memang berbeda.

Komunikasi dilakukan untuk MEMBAGIKAN yang kutahu kepadamu, sudut pandangku agar kau mengerti, dan demikian pula SEBALIKnya.

Komunikasi yang baik akan membentuk FoE/FoR ku dan FoE/FoR mu ==> FoE/FoR KITA

Sehingga ketika datang informasi akan dipahami secara sama antara kita dan pasangan kita, ketika kita menyampaikan sesuatu,  pasangan akan menerima pesan kita itu seperti yang kita inginkan.

Komunikasi menjadi bermasalah ketika menjadi MEMAKSAKAN pendapatku kepadamu, harus kau pakai sudut pandangku dan singkirkan sudut pandangmu.

Pada diri seseorang ada komponen NALAR dan EMOSI; bila Nalar panjang - Emosi kecil; bila Nalar pendek - Emosi tinggi

Komunikasi antara 2 orang dewasa berpijak pada Nalar.

Komunikasi yang sarat dengan aspek emosi terjadi pada anak-anak atau orang yang sudah tua.

Maka bila Anda dan pasangan masih masuk kategori Dewasa --sudah bukan anak-anak dan belum tua sekali-- maka selayaknya mengedepankan Nalar daripada emosi, dasarkan pada fakta/data dan untuk problem solving.

Bila Emosi anda dan pasangan sedang tinggi, jeda sejenak, redakan dulu ==> agar Nalar anda dan pasangan bisa berfungsi kembali dengan baik.

Ketika Emosi berada di puncak amarah (artinya Nalar berada di titik terendahnya) sesungguhnya TIDAK ADA komunikasi disana, tidak ada sesuatu yang dibagikan; yang ada hanya suara yang bersahut-sahutan, saling tindih berebut benar.

Ada beberapa kaidah yang dapat membantu meningkatkan efektivitas dan produktivitas komunikasi Anda dan pasangan:

1. Kaidah 2C: Clear and Clarify
Susunlah pesan yang ingin Anda sampaikan dengan kalimat yang jelas (clear) sehingga mudah dipahami pasangan. Gunakan bahasa yang baik dan nyaman bagi kedua belah pihak.
Berikan kesempatan kepada pasangan untuk bertanya, mengklarifikasi (clarify) bila ada hal-hal yang tidak dipahaminya.

2. Choose the Right Time
Pilihlah waktu dan suasana yang nyaman untuk menyampaikan pesan. Anda yang paling tahu tentang hal ini. Meski demikian tidak ada salahnya bertanya kepada pasangan waktu yang nyaman baginya berkomunikasi dengan anda, suasana yang diinginkannya, dll.

3. Kaidah 7-38-55
Albert Mehrabian menyampaikan bahwa pada komunikasi yang terkait dengan perasaan dan sikap (feeling and attitude) aspek verbal (kata-kata) itu hanya 7% memberikan dampak pada hasil komunikasi.
Komponen yang lebih besar mempengaruhi hasil komunikasi adalah intonasi suara (38%) dan bahasa tubuh (55%).
Anda tentu sudah paham mengenai hal ini. Bila pasangan anda mengatakan "Aku jujur. Sumpah berani mati!" namun matanya kesana-kemari tak berani menatap Anda, nada bicaranya mengambang maka pesan apa yang Anda tangkap? Kata-kata atau bahasa tubuh dan intonasi yang lebih Anda percayai?
Nah, demikian pula pasangan dalam menilai pesan yang Anda sampaikan, mereka akan menilai kesesuaian kata-kata, intonasi dan bahasa tubuh Anda.




4. Intensity of Eye Contact
Pepatah mengatakan mata adalah jendela hati.
Pada saat berkomunikasi tataplah mata pasangan dengan lembut, itu akan memberikan kesan bahwa Anda terbuka, jujur, tak ada yang ditutupi. Disisi lain, dengan menatap matanya Anda juga dapat mengetahui apakah pasangan jujur, mengatakan apa adanya dan tak menutupi sesuatu apapun.

5. Kaidah: I'm responsible for my communication results
Hasil dari komunikasi adalah tanggung jawab komunikator, si pemberi pesan.
Jika si penerima pesan tidak paham atau salah memahami, jangan salahkan ia, cari cara yang lain dan gunakan bahasa yang dipahaminya.

Perhatikan senantiasa responnya dari waktu ke waktu agar Anda dapat segera mengubah strategi dan cara komunikasi bilamana diperlukan. Keterlambatan memahami respon dapat berakibat timbulnya rasa jengkel pada salah satu pihak atau bahkan keduanya.


KOMUNIKASI DENGAN ANAK
Anak –anak itu memiliki gaya komunikasi yang unik.

Mungkin mereka tidak memahami perkataan kita, tetapi mereka tidak pernah salah meng copy

Sehingga gaya komunikasi anak-anak kita itu bisa menjadi cerminan gaya komunikasi orangtuanya.

Maka kitalah yang harus belajar gaya komunikasi yang produktif dan efektif. Bukan kita yang memaksa anak-anak untuk memahami gaya komunikasi orangtuanya.

Kita pernah menjadi anak-anak, tetapi anak-anak belum pernah menjadi orangtua, sehingga sudah sangat wajar kalau kita yang harus memahami mereka.
Bagaimana Caranya ?

a. Keep Information Short & Simple (KISS)
Gunakan kalimat tunggal, bukan kalimat majemuk
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, tolong setelah mandi handuknya langsung dijemur kemudian taruh baju kotor di mesin cuci ya, sisirlah rambutmu, dan jangan lupa rapikan tempat tidurmu.
✅Kalimat Produktif :
“Nak, setelah mandi handuknya langsung dijemur ya”  ( biarkan aktivitas ini selesai dilakukan anak, baru anda berikan informasi yang lain)

b. Kendalikan intonasi suara dan gunakan suara ramah
Masih ingat dengan rumus 7-38-55 ? selama ini kita sering menggunakan suara saja ketika berbicara ke anak, yang ternyata hanya 7% mempengaruhi keberhasilan komunikasi kita ke anak. 38% dipengaruhi intonasi suara dan 55% dipengaruhi bahasa tubuh
⛔Kalimat tidak produktif:
“Ambilkan buku itu !” ( tanpa senyum, tanpa menatap wajahnya)
✅Kalimat Produktif :
“Nak, tolong ambilkan buku itu ya” (suara lembut , tersenyum, menatap wajahnya)
Hasil perintah pada poin 1 dengan 2 akan berbeda. Pada poin 1, anak akan mengambilkan buku dengan cemberut. Sedangkan poin 2, anak akan mengambilkan buku senang hati.

c.  Katakan apa yang kita inginkan, bukan yang tidak kita inginkan
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nak, Ibu tidak ingin kamu ngegame terus sampai lupa sholat, lupa belajar !”
✅Kalimat produktif :
“Nak, Ibu ingin kamu sholat tepat waktu dan rajin belajar”

d.  Fokus ke depan, bukan masa lalu
⛔Kalimat tidak produktif :
“Nilai matematikamu jelek sekali,Cuma dapat 6! Itu kan gara-gara kamu ngegame terus,sampai lupa waktu,lupa belajar, lupa PR. Ibu juga bilang apa. Makanya nurut sama Ibu biar nilai tidak jeblok. Kamu sih nggak mau belajar sungguh-sungguh, Ibu jengkel!”
✅Kalimat produktif :
“Ibu lihat nilai rapotmu, hasilnya tidak sesuai dengan yang diharapkan, ada yang bisa ibu bantu? Sehingga kamu bisa mengubah strategi belajar menjadi lebih baik lagi”

e. Ganti kata ‘TIDAK BISA” menjadi “BISA”
Otak kita akan bekerja sesuai kosa kata. Jika kita mengatakan “tidak bisa” maka otak akan bekerja mengumpulkan data-data pendukung faktor ketidakbisaan tersebut. Setelah semua data faktor penyebab ketidakbisaan kita terkumpul , maka kita malas mengerjakan hal tersebut yang pada akhirnya menyebabkan ketidakbisaan sesungguhnya. Begitu pula dengan kata “BISA” akan membukakan jalan otak untuk mencari faktor-faktor penyebab bisa tersebut, pada akhirnya kita BISA menjalankannya.

f. Fokus pada solusi bukan pada masalah
⛔Kalimat tidak produktif :
“Kamu itu memang tidak pernah hati-hati, sudah berulangkali ibu ingatkan, kembalikan mainan pada tempatnya, tidak juga dikembalikan, sekarang hilang lagi kan, rasain sendiri!”
✅Kalimat produktif:
“ Ibu sudah ingatkan cara mengembalikan mainan pada tempatnya, sekarang kita belajar memasukkan setiap kategori mainan dalam satu tempat. Kamu boleh ambil mainan di kotak lain, dengan syarat masukkan mainan sebelumnya pada kotaknya terlebih dahulu”.



g. Jelas dalam memberikan pujian dan kritikan
Berikanlah pujian dan kritikan dengan menyebutkan perbuatan/sikap apa saja yang perlu dipuji dan yang perlu dikritik. Bukan hanya sekedar memberikan kata pujian dan asal kritik saja. Sehingga kita mengkritik sikap/perbuatannya bukan mengkritik pribadi anak tersebut.
⛔Pujian/Kritikan tidak produktif:
“Waah anak hebat, keren banget sih”
“Aduuh, nyebelin banget sih kamu”
✅Pujian/Kritikan produktif:
“Mas, caramu menyambut tamu Bapak/Ibu tadi pagi keren banget, sangat beradab, terima kasih ya nak”
“Kak, bahasa tubuhmu saat kita berbincang-bincang dengan tamu Bapak/Ibu tadi sungguh sangat mengganggu, bisakah kamu perbaiki lagi?”

h. Gantilah nasihat menjadi refleksi pengalaman
⛔Kalimat Tidak Produktif:
“Makanya jadi anak jangan malas, malam saat mau tidur, siapkan apa yang harus kamu bawa, sehingga pagi tinggal berangkat”
✅Kalimat Produktif:
“Ibu dulu pernah merasakan tertinggal barang yang sangat penting seperti kamu saat ini, rasanya sedih dan kecewa banget, makanya ibu selalu mempersiapkan segala sesuatunya di malam hari menjelang tidur.

I. Gantilah kalimat interogasi dengan pernyataan observasi
⛔Kalimat tidak produktif :
“Belajar apa hari ini di sekolah? Main apa saja tadi di sekolah?
✅Kalimat produktif :
“ Ibu lihat matamu berbinar sekali hari ini,sepertinya  bahagia sekali di sekolah,  boleh berbagi kebahagiaan dengan ibu?”

j. Ganti kalimat yang Menolak/Mengalihkan perasaan dengan kalimat yang menunjukkan empati
⛔Kalimat tidak produktif :
"Masa sih cuma jalan segitu aja capek?"
✅kalimat produktif :
kakak capek ya? Apa yang paling membuatmu lelah dari perjalanan kita hari ini?

k. Ganti perintah dengan pilihan
⛔kalimat tidak produktif :
“ Mandi sekarang ya kak!”
✅Kalimat produktif :
“Kak 30 menit  lagi kita akan berangkat, mau melanjutkan main 5 menit lagi,  baru mandi, atau mandi sekarang, kemudian bisa melanjutkan main sampai kita semua siap berangkat?”


Salam Ibu Profesional,

/Tim Bunda Sayang IIP/

Sumber bacaan:
Albert Mehrabian, Silent Message : Implicit Communication of Emotions and attitudes, e book, paperback,2000
Dodik mariyanto, Padepokan Margosari : Komunikasi Pasangan, artikel, 2015
Institut Ibu Profesional, Bunda Sayang : Komunikasi Produktif, Gaza Media, 2014
Hasil wawancara dengan Septi Peni Wulandani tentang pola komunikasi di Padepokan Margosari

📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚📚

Link youtube : https://youtu.be/qr9j0Xz9oUU

*Sesi Tanya Jawab :*

🙋🏻1⃣ Teh Yola
Pertanyaan:
1.bagaimana caranya menjalin komunikasi produktif dengan pasangan agar tidak berkesan menggurui  
2.bagaimana cara merubah pola komunikasi kita pribadi yang sudah melekat puluhan tahun? Saya sadari intonasi suara yg tegas malah terkesan memaksakan bagi yg mendengar
3. Bagaimana menjalin komunikasi dengan anak yg beranjak abg? Baru sepenggal bicara sudah dipotong😂
Jawaban:
a.  Pertama kita harus belajar memahami FoR dan Foe pasangan kita dulu dan samakan agar menjadi FoR dan FoE kita, kemudian mulai gunakan dan latih kaidah 2C, choose the right time, 7-38-55,dll
Insya Allah pola komunikasi kita akan mulai terasah 
b.  Memang tidak mudah mb mengubah apa yang sudah menjadi kebiasaan kita, namun pelan2 akan bisa kalau kita mulai melatih dengan kaidah2 diatas setahap demi setahap, dan sebelum kita bisa berkomunikasi yg baik dengan pasangan dan anak bukankah kita harus bisa berkomunikasi dengan diri sendiri  dulu. 
Saya ingat Bu Septi pernah bilang seperti ini.."sudah fitrahnya kalau perempuan akan mengalami PMS dan biasanya hormon2 akan berubah termasuk emosi, tapi sebelum saya masuk masa Pms biasanya saya bicara dan perintahkan ke hormon2 saya "hai hormon berubahlah secara baik, sehingga tidak mengganggu fisik dan emosi saya"   
Dan hormonpun patuh
dan alhasil beliau bilang tidak pernah merasakan perubahan emosi saat sedang Pms sejak kuliah..."
Intonasi suara kita yg memiliki prosentase 38% keberhasilan komunikasi ada yg salah. Kemudian lihat apakah bahasa tubuh kita juga menunjukkan pemahaman yg sama?
Misal intonasi tinggi, bahasa tubuh mb memberikan makna penolakan, maka lengkaplah sudah dg warna suara yg tinggi.
Untuk itu lihat kembali bahasa tubuh. Kl oke masuk ke intonasi suara, kalau terlalu tinggi, maka perlu kita kasih jeda untuk setiap kalimat bahkan setiap kata, jangan nyerocos.
Setelah itu lihat warna suara kita, kalau termasuk yg tinggi, maka ketika berbicara dekatkan dagu kita ke leher.
c. Anak yang beranjak Abg memang harus extra semuanya mb.. karena diusia ini dia mulai bisa memberontak dan mulai lebih suka main dengan temannya ketimbang keluarganya. 
Yang pertama kita harus punya lebih banyak waktu untuk dia, jadilah teman dan sahabatnya. 
Anak remaja itu sangat senang punya teman dan sahabat.
Maka gaya komunikasi kita dg anak-anak ya gaya remaja. 
Pahami istilah-istilah mereka, dan pakai bahasa mereka.
Saat mereka bete, kita ajak hang out berduaan saja yuk dll. 
Lama-lama mereka terbuka karena kita jadi teman. 
Untuk selalu memotong pembicaraan, tegaskan bahwa "sebentar ibu belum selesai, atau dengarkan dia terlebih dahulu.. terus kalau sudah selesai, bilang sekarang waktunya Ibu yg bicara jadi tolong dengarkan sampai Ibu benar2 selesai" ✅

🙋🏻2⃣ Teh Tenny
Pertanyaan :
Anak usia 3th, awal2 berhasil toilet training, usia 3 kurang 2bln, dia udah ga ngompol kalo malem, klo malem mau pipis pun suka bangun minta ke kamar mandi, nah skg udah 3th pas, dia malah ngompol trus pas malem, kdang siang pun dia suka tiba2 pipis di celana dan suka nahan2 pipis..padahal udah diajak ke kamar mandi, pas ditanya knp pipis di celana, katanya ngikutin temennya. Mulai dari situ dia selalu ngompol klo malem. Apakah boleh saya kasih hukuman klo dia ngompol trus? Trus klo keinginan dia lg ga diikutin, dia suka ngancem pgn pipis atau pgn pup..padahal ngga, dan ancaman itu dimulai sejak dia suka ngompol. Mohon pencerahan dan sarannya 🙏🏻
Jawaban :
Kita sebagai ibu memang sangat diuji kesabarannya, dan harus benar2 sabar dalam mengikuti perkembangannya. 
Disini tantangan kita untuk bisa melatihnya berfikir mb.. dan tentu saja kita harus pelan2 dengan komunikasi yg sudah dicontohkan dalam kaidah2 diatas
Contoh "Nak, dulu kamu kalau pipis itu ke kamar mandi, Ibu bangga sekali sama kamu.. 
nah sekarang kalau kamu ikut2an pipis dicelana seperti temanmu bagus tidak..? terus keren tidak, enak tidak..?" na disitu biasanya anak mulai berfikir atas kesalahan yang sudah dilakukan.. mulai dengan menyentuhnya, memeluknya.. 
"Ibu ingin kamu kalau mau pipis/pup di kamar mandi ya.., karena Ibu tahu adik itu bisa dan adik itu keren"
Kita bisa menasehatinya dengan membandingkan dengan dia yang dulu, yang salah adalah dengan membandingkan dengan anak lain. ✅

🙋🏻3⃣ Teh Witri
Pertanyaan :
- Bagaimana kita mengendalikan emosi saat akan berbicara? terkadang saya merasa sudah tenang dan siap untuk berbicara, tapi pada waktunya belum juga akan memulai kata, air mata terkadang mendahului,  jadinya nangis duluan dan pesan yang akan disampaikan kurang tersampaikan sepenuhnya.
- Mengenai kalimat produktif yg paling akhir, setiap mandi saya persis melakukan kata2nya seperti itu, dan anak saya  (30m) pun menyetujuinya, tapi kenapa ya ketika waktu yang disepakati telah selesai, anak saya masih tetap ingin mandi. Kalimat produktif yg bagaimana untuk langkah selanjutnya jika kesepakatan tidak dipatuhi?
Haturnuhun
Jawaban :
a.  Ambil nafas panjang dulu mb sebelum bicara, atau kalau sebagai muslim saat kita sedang emosi ambillah air wudhu stelah itu baru kita mulai bicara dan InsyaAllah lebih terkendali emosinya.Kalau tidak bisa menahan airmata kita dan kita dan akhirnya tidak tuntas, minta waktu untuk menangis dulu...kalau sudah reda dan tenang baru mulai bicara lagi. 
b. 
Untuk kesepakatan yang tidak dipatuhi berarti erat kaitannya dengan mental ya mb bukan dg komunikasi. Berarti kita perlu melatih komitmennya
misal.. 
"Nak, kita bulan ini akan belajar menjalankan satu hal saja ya...apa yang kita bicarakan dan kita sepakati pasti akan kita jalankan... oke..? "
misal " kita belajar mandi cepat, 10 menit selesai ya... " 
latih terus, sampai dia benar2 menjalankannya dengan sukarela✅

🙋🏻4⃣ Teh Ziyana
Pertanyaan :
1. Kesadaran dr komunikasi produktif harus diawali dr apa?? (Perlukah belajar susunan kata sesuai kaidah, atau melihat situasi kondisi atau lainnya)
2. Untuk berkomunikasi dengan pasangan bisa diperjelaskan maksud dr 'nalar'? Adakah batasan 'nalar'??
Jawaban :
Teh Zie.. 
1. Kesadaran bisa  diawali dengan mengubah struktur berfikir kita mb, seperti yang ada di materi 
*Kosakata kita adalah output dari struktur berfikir dan cara kita berfikir*
jadi mulailah belajar untuk berfikir positif, karena jika kita berfikir positif maka kata2 yang akan keluar juga positif
2. Nalar kalau dari arti katanya adalah berfikir sehat, matang dan penuh pertimbangan
Jadi maksud dari "nalar"  itu  jika kita mengedepankan nalar berarti kita berfikir panjang dan dipertimbangkan baik buruknya terlebih dahulu, dan otomatis kalau kita seperti itu maka kita sudah meminimalisir emosi
untuk batasannya saya kira tidak ada mb ✅

*Teh Rifa*  :mau memperjelas mba any, mksudnya mempertimbangkan baik buruk perkataannya kah?

*Mbak Any* :iya mb.. maksudnya apa yg  akan kita bicarakan itu akan berdampak baik atau burukkah..? kurlebnya seperti itu😊

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IBU PEMBAHARU #2 : Konferensi Perempuan Indonesia 2023

Definisi Ibu Pembaharu itu sendiri adalah sosok ibu yang mampu menemukan masalahnya dan mengubahnya menjadi sebuah tantangan hidu...