Sabtu, 27 Mei 2017

HIKMAH CALON IBU

Menjadi adil dalam membagi silaturahmi kepada orang tua selalu saya usahakan. Bila suami sedang bekerja di luar kota saya jadwalkan 3 hari di rumah suami dan 4 hari di rumah orang tua. Adil bukanlah sama, namun adil menempatkan sesuai dengan porsinya. Kini ibu saya ada dua, ayah pun ada dua, adik pun menjadi 5. Inilah yang patut saya syukuri, karena keluarga saya adalah motivasi saya dan suami saya.
Dalam beberapa buku pernikahan yang saya baca memberikan pengetahuan bahwasanya seorang suami yang berjauhan dengan keluarga akan merasa tenang ketika istrinya berada bersama keluarganya. Kecuali jika sang istri sudah memiliki anak dan bisa tinggal di rumah mereka sendiri. Alhamdulillah, Allah memberikan jodoh saya berada di satu kota yang sama jadi tidak ada kendala untuk bisa menengok orang tua.
Ketika saya sedang berada di rumah orang tua saya, rasa penasaran timbul ketika haid tidak kunjung datang. Di malam itu tiba-tiba saya bermimpi bahwa saya positif hamil. Memang tidak bisa dipungkiri bahwa saya berada dalam penantian, dan ini bisa menjadi salah satu faktor mengapa saya bermimpi hal tersebut.
Jam menunjukkan pukul 02.00 WIB petang hari, saya langsung ke kamar mandi untuk melakukan Testpack. Alhamdulillah hasil sesuaid dengan mimpi saya, akhirnya saya pun bergegas menuju mushola untuk sujud syukur. Air mata menetes di pipi dan ingin rasanya mengabarkan suami yang sedang nan jauh disana. Saya pun hanya bisa mengangkat tangan memanjatkan segala deo`a kepada sang Maha Pencipta, janin yang ada di rahim hamba adalah kehendakNya. Pertumbuhan, perkembangan dan kesehatannya hanya Allah yang tahu. Dokter sekalipun tidak bisa mengetahui kedetailan segalanya apa yang ada di rahim hamba.
Keesokan harinya saya berikan kabar bahagia ini kepada keluarga di rumah dan bergegas untuk mengecek ke dokter kandungan. Setelah kepastian hal ini, saya beranikan memberi kabar kepada keluarga suami dan suami yang sedang ada di lokasi kerja. Kebahagiaan bisa saya rasakan dari suaranya disana, namun kekhawatiran mengiringi suaranya. Disatu sisi suami bahagia mendengar kabar ini, dan disisi lain dia merasa kurang karena tidak menemani saya disini.
“Alhamdulillah, jaga kesehatan ya de. In syaa allah mas akan pulang secepatnya. Doakan mas disini semoga lancar dan sukses ya.” Ucap suami dengan bahagianya.
“Iya mas, ade do`akan semoga berkah segalanya. Hal ini tidak usah terlalu dipikirkan, in syaa Allah akan Allah jaga jadi jangan khawatir ya mas.”tenang saya kepadanya.
Tidak lama setelah info ini saya sampaikan kepada suami, beliau pulang dan memberikan nasehat serta membantu saya dengan sangat baik. Keluarga besar kami pun merasakan kebahagiaan yang sama, karena saya dan suami merupakan anak pertama oleh karena itu keturanan kami ini dinantikan pula oleh kedua keluarga besar.
Di kehamilan 2 bulan saya dokter kandungan yang ketika itu kami percayakan kepada Dr. Ogy, beliau menyampaikan pesan untuk bersabar karena janinnya hingga usia ini belum terlihat. Dr.ogy memberikan info kepada kami berdua mengenai beberapa macam kehamilan dan diantaranta BO (Blind Ovum). Namun, beliau pun masih memberi kami semangat untuk berpikiran positif.
Kini usia kehamilan saya sudah menginjang 10 week, namun janin pun belum kunjung terlihat. Dokter hanya mengingatkan jika ada sesuatu hal yang ganjal dalam kehamilan untuk langsung menghubunginya. Keesokan harinya perut saya merasa sakit yang luar biasa hingga saya pun tidak bisa tidur, ternyata saya mulai flek. Saya langsung datang ke klinik dr. Ogy dan hasilnya kantung janin saya mengecil dan sudah divonis BO. Esok paginya saya ke kamar mandi dan langsung keluar gumpalan-gumpalan darah. Saya langsung berkonsultasi ke dokter dan diakhiri dengan keputusan kuretase.
Syukur alhamdulillah, ketika proses kuretase yang menemani saya hanyalah suami yang ketika itu baru sampai rumah dan sedang shaum.hanya suami yang menunggu dari proses pengurusan hingga masuk ruang operasi.
Operasi kuretase berjalan selama 30 menit, dan saya belum bisa sadarkan diri langsung. Ketika saya sadar, semua anggota keluarga sudah ada depan saya. Saya tidak menangis sama sekali, saya tidak berat dengan adanya kejadian ini. Karena diawal kehamilan sudah saya serahkan segalanya kepada pemiliknya. Suami selalu menguatkan saya, bahwa segala sesuatu adalah kehendak Allah dan kita hanya wajib berikhtiar untuk bisa mendapatkan ridhoNya.
Saya bisa kuat hanya karena Allah dengan wasilah suami dan keluarga saya. Saya bersyukur pernah mengalami hal ini, dan dari sini pulalah saya bisa banyak belajar.
Istri sholehah adalah perhiasan dunia bagi seorang lelaki, begitu pula sebaliknya bahwa suami sholeh adalah perhiasan dunia bagi istri dan anak shaleh shalehah adalah perhiasan dunia bagi orang tua.
















“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” 

(Qs. Al-Baqarah: 155)


Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IBU PEMBAHARU #2 : Konferensi Perempuan Indonesia 2023

Definisi Ibu Pembaharu itu sendiri adalah sosok ibu yang mampu menemukan masalahnya dan mengubahnya menjadi sebuah tantangan hidu...