Menjadi adil dalam membagi silaturahmi
kepada orang tua selalu saya usahakan. Bila suami sedang bekerja di luar kota
saya jadwalkan 3 hari di rumah suami dan 4 hari di rumah orang tua. Adil
bukanlah sama, namun adil menempatkan sesuai dengan porsinya. Kini ibu saya ada
dua, ayah pun ada dua, adik pun menjadi 5. Inilah yang patut saya syukuri,
karena keluarga saya adalah motivasi saya dan suami saya.
Dalam beberapa buku pernikahan yang
saya baca memberikan pengetahuan bahwasanya seorang suami yang berjauhan dengan
keluarga akan merasa tenang ketika istrinya berada bersama keluarganya. Kecuali
jika sang istri sudah memiliki anak dan bisa tinggal di rumah mereka sendiri.
Alhamdulillah, Allah memberikan jodoh saya berada di satu kota yang sama jadi
tidak ada kendala untuk bisa menengok orang tua.
Ketika saya sedang berada di rumah
orang tua saya, rasa penasaran timbul ketika haid tidak kunjung datang. Di
malam itu tiba-tiba saya bermimpi bahwa saya positif hamil. Memang tidak bisa
dipungkiri bahwa saya berada dalam penantian, dan ini bisa menjadi salah satu
faktor mengapa saya bermimpi hal tersebut.
Jam menunjukkan pukul 02.00 WIB petang
hari, saya langsung ke kamar mandi untuk melakukan Testpack. Alhamdulillah
hasil sesuaid dengan mimpi saya, akhirnya saya pun bergegas menuju mushola untuk
sujud syukur. Air mata menetes di pipi dan ingin rasanya mengabarkan suami yang
sedang nan jauh disana. Saya pun hanya bisa mengangkat tangan memanjatkan
segala deo`a kepada sang Maha Pencipta, janin yang ada di rahim hamba adalah
kehendakNya. Pertumbuhan, perkembangan dan kesehatannya hanya Allah yang tahu.
Dokter sekalipun tidak bisa mengetahui kedetailan segalanya apa yang ada di
rahim hamba.
Keesokan harinya saya berikan kabar
bahagia ini kepada keluarga di rumah dan bergegas untuk mengecek ke dokter kandungan.
Setelah kepastian hal ini, saya beranikan memberi kabar kepada keluarga suami
dan suami yang sedang ada di lokasi kerja. Kebahagiaan bisa saya rasakan dari
suaranya disana, namun kekhawatiran mengiringi suaranya. Disatu sisi suami
bahagia mendengar kabar ini, dan disisi lain dia merasa kurang karena tidak
menemani saya disini.
“Alhamdulillah, jaga kesehatan ya de.
In syaa allah mas akan pulang secepatnya. Doakan mas disini semoga lancar dan
sukses ya.” Ucap suami dengan bahagianya.
“Iya mas, ade do`akan semoga berkah
segalanya. Hal ini tidak usah terlalu dipikirkan, in syaa Allah akan Allah jaga
jadi jangan khawatir ya mas.”tenang saya kepadanya.
Tidak lama setelah info ini saya
sampaikan kepada suami, beliau pulang dan memberikan nasehat serta membantu
saya dengan sangat baik. Keluarga besar kami pun merasakan kebahagiaan yang
sama, karena saya dan suami merupakan anak pertama oleh karena itu keturanan
kami ini dinantikan pula oleh kedua keluarga besar.
Di kehamilan 2 bulan saya dokter
kandungan yang ketika itu kami percayakan kepada Dr. Ogy, beliau menyampaikan
pesan untuk bersabar karena janinnya hingga usia ini belum terlihat. Dr.ogy
memberikan info kepada kami berdua mengenai beberapa macam kehamilan dan
diantaranta BO (Blind Ovum). Namun, beliau pun masih memberi kami semangat
untuk berpikiran positif.
Kini usia kehamilan saya sudah
menginjang 10 week, namun janin pun belum kunjung terlihat. Dokter hanya
mengingatkan jika ada sesuatu hal yang ganjal dalam kehamilan untuk langsung
menghubunginya. Keesokan harinya perut saya merasa sakit yang luar biasa hingga
saya pun tidak bisa tidur, ternyata saya mulai flek. Saya langsung datang ke
klinik dr. Ogy dan hasilnya kantung janin saya mengecil dan sudah divonis BO.
Esok paginya saya ke kamar mandi dan langsung keluar gumpalan-gumpalan darah.
Saya langsung berkonsultasi ke dokter dan diakhiri dengan keputusan kuretase.
Syukur alhamdulillah, ketika proses
kuretase yang menemani saya hanyalah suami yang ketika itu baru sampai rumah
dan sedang shaum.hanya suami yang menunggu dari proses pengurusan hingga masuk
ruang operasi.
Operasi kuretase berjalan selama 30
menit, dan saya belum bisa sadarkan diri langsung. Ketika saya sadar, semua
anggota keluarga sudah ada depan saya. Saya tidak menangis sama sekali, saya
tidak berat dengan adanya kejadian ini. Karena diawal kehamilan sudah saya
serahkan segalanya kepada pemiliknya. Suami selalu menguatkan saya, bahwa
segala sesuatu adalah kehendak Allah dan kita hanya wajib berikhtiar untuk bisa
mendapatkan ridhoNya.
Saya bisa kuat hanya karena Allah
dengan wasilah suami dan keluarga saya. Saya bersyukur pernah mengalami hal
ini, dan dari sini pulalah saya bisa banyak belajar.
Istri sholehah adalah perhiasan dunia
bagi seorang lelaki, begitu pula sebaliknya bahwa suami sholeh adalah perhiasan
dunia bagi istri dan anak shaleh shalehah adalah perhiasan dunia bagi orang
tua.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan
kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan
buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.”
(Qs. Al-Baqarah: 155)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar