Selama 6 bulan setelah proses ta`aruf
Fathir ke rumah orang tua saya. Dengan musyawarah, pendalaman infonya via
teman, sholat istikhoroh dan lainnya sehingga pilihan dari keluarga dan saya
jatuh pada Fathir. Perencanaan khitbah pun diadakan setelah adanya kesepakatan
dari keluarga besar saya.
Menikah adalah menyatukan 2 keluarga,
maka keikutsertaan anggota keluarga dalam memberi saran amat lah penting bagi
saya dalam menghadapi persiapan pernikahan. Sudah saya urungkan niat kuliah s2
dalam waktu cepat, dan akan saya tunda hingga ada waktu yang tepat nanti.
Pertemuan saya dengan fathir baru lah
2 kali sebelum kami duduk menghadap bapa penghulu. Kami belum pernah mengobrol
hadap-hadapan muka, saya pun baru pertama kali bertemu dengan ibunya disaat
khitbah. Kenapa bisa secepat ini mengambil keputusan menikah? Sudahkah yakin?
Dan banyak pertanyaan lain yang dilontarkan pada saya. Jawaban saya hanya satu,
niat saya ibadah bersamanya. Ini semua Allah yang telah menggerakkan dan
memberi kemudahan dalam setiap prosesnya, dan saya hanya bisa bersyukur dan
terus bersyukur. Sudahkan saya mengenali keluarganya?? Belum. sudahkah saya
bertemu dengan orang tua atau keluarganya?? Belum. Sudahkan saya yakin?? Ya,
saya yakin. Karena saya serahkan semuanya pada Allah dan pada keluarga.
Ketahuilah, ayah akan memiliki
chemistry pada lelaki calon menantunya. Ayah akan tahu mana lelaki yang baik
bagi anak perempuannya. Dan saya yakin pada ayah saya, bahwa beliau akan
memilih lelaki yang sholeh dunia dan akhirat. Dan tak luput juga seorang ibu,
ibu tahu bagaimana cara memilih lelaki yang baik. Ibu banyak memberi nasehat
bagaimana peran wanita dalm persiapan berumah tangga.
“Teh, inget ya kalau nanti teteh sudah
berkeluarga ikuti semua kata suami teteh. Karena lelaki memikirkan segalanya
dalam pemikiran yang panjang ke depan. Dan akan memiliki keputusan untuk yang
terbaik bagi keluarga” pesan adik lelaki saya satu hari sebelum akad pernikahan
saya.
Sungguh rumah tangga merupakan sekolah
bagi saya. Sekolah dimana tempat saya belajar kesabaran, keikhlasan, kasih
sayang, kepercayaan, kemandirian dan banyak lagi hal yang akan saya dapatkan
hanya di rumah tangga dan tidak saya dapatkan di sekolah formal.
Esok adalah akad nikah saya bersama
fathir. Saya hanya bisa berdzikir dan memohon kelancara segala rentetan
acaranya kepada Allah. Segala perasaan yang ada bercampur aduk menjadi satu.
Bahagia karena saya akan menikah dan melepas masa lajang saya sebagai wanita
karena dari menikahlah suami saya telah melengkapi iman saya. Sedih karena
harus meninggalkan kedua orang tua saya dan mengabdikan diri kepada seorang
lelaki yang bernama suami. Namun semuanya bersatu dalam kata Syukur.
Akad pun dilakukan dengan lancar dan
satu kali ucapan, setelah kami halal menurut syariat barulah pagar ayu saya
membawa saya keluar untuk bisa duduk bersampingan dengan lelaki yang kini halal
bagi saya. Kami menandatangani surat nikah dan disinilah pertama kalinya kepala
saya dicium oleh seorang lelaki yang baru saya kenal dan akan menjadi imam
saya.
Setelah akad selesai kami dibawa mobil
menuju gedung resepsi. Bisa dibilang kami berdua masihlah kaku sebagai suami
istri. Kami belum pernah bertatap muka apalagi berpegangan tangan, dan inilah
awal pertama kami menyatukan cinta untuk bersatu dalam Cinta kepada Allah.
“Gimana kabar? Kamu sehat?” inilah
sapaan pertama yang dia lontarkan pada saya di dalam mobil menuju gedung. Dan
disini pulalah awal saya memandang matanya, saya pun berdoa dan mendoakannya
dalam hati.
Allah Ta’ala berfirman:
{وَاذْكُرْ فِي
الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولا
نَبِيًّا. وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ
رَبِّهِ مَرْضِيًّا}
“Dan
ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam
al-Qur’an. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah
seorang rasul dan nabi. Dan dia (selalu) memerintahkan kepada keluarganya untuk
(menunaikan) shalat dan (membayar) zakat, dan dia adalah seorang yang di ridhoi
di sisi Allah”
(QS
Maryam: 54-55).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar