Sabtu, 27 Mei 2017

Kamu sehat??

Selama 6 bulan setelah proses ta`aruf Fathir ke rumah orang tua saya. Dengan musyawarah, pendalaman infonya via teman, sholat istikhoroh dan lainnya sehingga pilihan dari keluarga dan saya jatuh pada Fathir. Perencanaan khitbah pun diadakan setelah adanya kesepakatan dari keluarga besar saya.
Menikah adalah menyatukan 2 keluarga, maka keikutsertaan anggota keluarga dalam memberi saran amat lah penting bagi saya dalam menghadapi persiapan pernikahan. Sudah saya urungkan niat kuliah s2 dalam waktu cepat, dan akan saya tunda hingga ada waktu yang tepat nanti.
Pertemuan saya dengan fathir baru lah 2 kali sebelum kami duduk menghadap bapa penghulu. Kami belum pernah mengobrol hadap-hadapan muka, saya pun baru pertama kali bertemu dengan ibunya disaat khitbah. Kenapa bisa secepat ini mengambil keputusan menikah? Sudahkah yakin? Dan banyak pertanyaan lain yang dilontarkan pada saya. Jawaban saya hanya satu, niat saya ibadah bersamanya. Ini semua Allah yang telah menggerakkan dan memberi kemudahan dalam setiap prosesnya, dan saya hanya bisa bersyukur dan terus bersyukur. Sudahkan saya mengenali keluarganya?? Belum. sudahkah saya bertemu dengan orang tua atau keluarganya?? Belum. Sudahkan saya yakin?? Ya, saya yakin. Karena saya serahkan semuanya pada Allah dan pada keluarga.
Ketahuilah, ayah akan memiliki chemistry pada lelaki calon menantunya. Ayah akan tahu mana lelaki yang baik bagi anak perempuannya. Dan saya yakin pada ayah saya, bahwa beliau akan memilih lelaki yang sholeh dunia dan akhirat. Dan tak luput juga seorang ibu, ibu tahu bagaimana cara memilih lelaki yang baik. Ibu banyak memberi nasehat bagaimana peran wanita dalm persiapan berumah tangga.
“Teh, inget ya kalau nanti teteh sudah berkeluarga ikuti semua kata suami teteh. Karena lelaki memikirkan segalanya dalam pemikiran yang panjang ke depan. Dan akan memiliki keputusan untuk yang terbaik bagi keluarga” pesan adik lelaki saya satu hari sebelum akad pernikahan saya.
Sungguh rumah tangga merupakan sekolah bagi saya. Sekolah dimana tempat saya belajar kesabaran, keikhlasan, kasih sayang, kepercayaan, kemandirian dan banyak lagi hal yang akan saya dapatkan hanya di rumah tangga dan tidak saya dapatkan di sekolah formal.
Esok adalah akad nikah saya bersama fathir. Saya hanya bisa berdzikir dan memohon kelancara segala rentetan acaranya kepada Allah. Segala perasaan yang ada bercampur aduk menjadi satu. Bahagia karena saya akan menikah dan melepas masa lajang saya sebagai wanita karena dari menikahlah suami saya telah melengkapi iman saya. Sedih karena harus meninggalkan kedua orang tua saya dan mengabdikan diri kepada seorang lelaki yang bernama suami. Namun semuanya bersatu dalam kata Syukur.
Akad pun dilakukan dengan lancar dan satu kali ucapan, setelah kami halal menurut syariat barulah pagar ayu saya membawa saya keluar untuk bisa duduk bersampingan dengan lelaki yang kini halal bagi saya. Kami menandatangani surat nikah dan disinilah pertama kalinya kepala saya dicium oleh seorang lelaki yang baru saya kenal dan akan menjadi imam saya.
Setelah akad selesai kami dibawa mobil menuju gedung resepsi. Bisa dibilang kami berdua masihlah kaku sebagai suami istri. Kami belum pernah bertatap muka apalagi berpegangan tangan, dan inilah awal pertama kami menyatukan cinta untuk bersatu dalam Cinta kepada Allah.
“Gimana kabar? Kamu sehat?” inilah sapaan pertama yang dia lontarkan pada saya di dalam mobil menuju gedung. Dan disini pulalah awal saya memandang matanya, saya pun berdoa dan mendoakannya dalam hati.







Allah Ta’ala berfirman:
{وَاذْكُرْ فِي الْكِتَابِ إِسْمَاعِيلَ إِنَّهُ كَانَ صَادِقَ الْوَعْدِ وَكَانَ رَسُولا نَبِيًّا. وَكَانَ يَأْمُرُ أَهْلَهُ بِالصَّلاةِ وَالزَّكَاةِ وَكَانَ عِنْدَ رَبِّهِ مَرْضِيًّا}
Dan ceritakanlah (hai Muhammad kepada mereka) kisah Ismail (yang tersebut) di dalam al-Qur’an. Sesungguhnya dia adalah seorang yang benar janjinya, dan dia adalah seorang rasul dan nabi. Dan dia (selalu) memerintahkan kepada keluarganya untuk (menunaikan) shalat dan (membayar) zakat, dan dia adalah seorang yang di ridhoi di sisi Allah
(QS Maryam: 54-55).




Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IBU PEMBAHARU #2 : Konferensi Perempuan Indonesia 2023

Definisi Ibu Pembaharu itu sendiri adalah sosok ibu yang mampu menemukan masalahnya dan mengubahnya menjadi sebuah tantangan hidu...