Dengan izin Allah acara resepsi
pernikahan lancar dan in syaa allah berkah. Setelah dari gedung saya pulang ke
rumah dan Fathir pun pulang ke rumahnya untuk bersiap menjemput saya kembali
sore nanti dan menuju rumah kami berdua. `Maka nikmat Allah yang manakah yang
kamu dustakan` hal ini selalu mencambuk saya agar tetap bersyukur atas
karuniaNya. Saya sibuk bersiap dengan pakaian dan segala hal yang harus saya
bawa ke rumah baru, disamping itupun tamu terus berdatangan. Ketika sore
datang, hati ini berdegup semakin kencang karena ini pertama kalinya akan ada
lelaki yang menjemput saya untuk pergi dan tinggal bersamanya. Namun saya lihat
jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB dan beliau tidak kunjung datang. Suara
mobil depan rumah mengagetkan saya yang sedang rebahan di kasur. Mama mertua
saya pun masuk mendahului suami yang ada dibelakangnya.
Panjang lebar mama menjelaskan, bahwa
diperjalanan fathir sudah tidak sabar ingin menjemput saya. Namun apa boleh
buat perjalanan mengantarkan keluarga besar ke stasiun bukanlah perjalanan yang
pendek, dan hal itulah yang menjadi kendalanya untuk menjemput saya disore
hari.
“maaf ya nisa, sebenarnya fathir sudah
tidak sabar ingin segera menjemput kesini..” jelas mama panjang lebar.
“iya ma, tidak apa-apa alhamdulillah
sudah selamat sampai sini sekarang.” Saya berbicara sambil menutupi kegrogian
saya depan mertua.
Kami pun langsung menuju rumah kami
berdua dan beberapa malam kami disana. 4 hari saya dan suami bersama merupakan
kesyukuran yang luar biasa, karena saya sudah mendapat penjelasan dan
pengertian sebelumnya bahwa dia jarang pulang karena pekerjaan yang
menuntutnya. Sebelum menikah saya hanya berfikir, ditinggal suami layaknya
ditinggal otang tua bekerja.
Dan kenyataannya amat berbeda jauh
dengan apa yang saya bayangkan diawal. Setelah hari ke 4 kami bersama di hari
ke 5 suami harus pergi ke luar kota untuk lanjut bekerja. Awalnya saya merasa
tegar dan melepas suami dengan senyuman, namun kenyataannya hati saya merasa
sepi dan tidak bisa dipungkiri pikiran hanya terfokus pada suami. Dan apa boleh
buat saya hanya bisa berkirim pesan kepadanya walau air mata mengalir dengan
sendirinya.
Subhanallah walhamdulillah, inilah
bukti janji Allah dalam firmanNya bahwasanya batin seorang wanita dan pria akan
terikat kuat setelah adanya ucapan akad yang menjadi mistaaqon ghalidzaa. Saya
pun menyadari betapa Agungnya Allah SWT dengan janjiNya atas syurga yang akan
diberikan bagi istri sholehah yang sabar menanti suami, mendoakannya dan
menjaga kehormatannya.
Beberapa bulan sebelum pernikahan,
saya persiapkan mental dan ilmu dengan membaca beberapa buku persiapan
pernikahan yang merupakan kado dari guru saya. Begitu luar biasanya Allah dalam
menciptakan makhluqNya, pria dan wanita tidak bisa dipersamakan dalam perlakuan
dan hal ini pula yang harus banyak diketahui para calon pengantin. Bahwa suami
istri haruslah saling memahami dan mengingatkan.
“istriku, maaf ya saya selalu
meninggalkan kamu hanya untuk kerja.” Ucapan suami saya ini membuat perasaan
saya luluh dan bangga.
“mas, kata maaf tidak perlu ada untuk
hal ini. Ini semua sudah kewajibanmu, saya pun sudah ridho untuk menerimamu
dengan apa yang ada padamu sekarang. Pekerjaan ini merupakan tabungan amal dan
harta untuk keluarga kita di masa depan, bekerjalah dengan semangat dan
keluarkan kemampuan terbaikmu. Jangan lupa niat kita hanyalah untuk Allah,
semoga semuanya barokah ya mas.” Entah dari mana kata-kata ini keluar dengan
mengalir dari mulut saya, yang sebenarnya hati ini mencoba untuk tegar karena
satu bulan harus berpisah dengan lelaki halal yang baru saja beberapa hari.
Kecupan di kening saya pun menjadi
tanda bahwa suami akan selalu mendoakan saya agar kuat untuk segalanya,
begitupun saya mencium punggung tangan suami dengan doa agar segala yang
dihasilkan menjadi harta yang halal barokah untuk keluarga kecil kami.
Setiap hari tidak terlewatkan bagi
saya untuk melihat layar hp hanya sekedar menunggu pesan darimu. Jujur saya
rasakan bahagia teramat sangat ketika suami menelepon atau bahkan hanya memberi
pesan. Seolah kontak di telepon genggam saya tidak ada sepenting suami dan
orang tua saja.
Oh Allah, besar sekali nikmat yang
Engkau berikan kepada kami. Ketika suami pulang, kebahagiaan saya sebagai istri
pun tidak bisa diungkapkan. Dan satu yang ingin saya ucapkan “Syukurku padaMu
Yaa Robb, karena Engkau telah menjadikan hamba istri dari Fathir hambaMu yang
sholeh maka bimbing hamba agar bisa menjadi istri sholehah baginya.”
عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص:
اَكْمَلُ اْلمُؤْمِنِيْنَ اِيْمَانًا اَحْسَنُهُمْ خُلُقًا. وَ خِيَارُكُمْ
خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ. احمد و الترمذى و صححه
Dari
Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda
:
“Sesempurna-sempurna iman orang mukmin adalah yang
palingbaik akhlaqnya diantara mereka dan orang paling baik diantarakalian ialah orang yang
paling baik terhadap istrinya”.
[HR. Ahmad dan Tirmidzi]

Tidak ada komentar:
Posting Komentar