Sabtu, 27 Mei 2017

LDM (Long Distance Marriage)


 Dengan izin Allah acara resepsi pernikahan lancar dan in syaa allah berkah. Setelah dari gedung saya pulang ke rumah dan Fathir pun pulang ke rumahnya untuk bersiap menjemput saya kembali sore nanti dan menuju rumah kami berdua. `Maka nikmat Allah yang manakah yang kamu dustakan` hal ini selalu mencambuk saya agar tetap bersyukur atas karuniaNya. Saya sibuk bersiap dengan pakaian dan segala hal yang harus saya bawa ke rumah baru, disamping itupun tamu terus berdatangan. Ketika sore datang, hati ini berdegup semakin kencang karena ini pertama kalinya akan ada lelaki yang menjemput saya untuk pergi dan tinggal bersamanya. Namun saya lihat jam sudah menunjukkan pukul 21.00 WIB dan beliau tidak kunjung datang. Suara mobil depan rumah mengagetkan saya yang sedang rebahan di kasur. Mama mertua saya pun masuk mendahului suami yang ada dibelakangnya.
Panjang lebar mama menjelaskan, bahwa diperjalanan fathir sudah tidak sabar ingin menjemput saya. Namun apa boleh buat perjalanan mengantarkan keluarga besar ke stasiun bukanlah perjalanan yang pendek, dan hal itulah yang menjadi kendalanya untuk menjemput saya disore hari.
“maaf ya nisa, sebenarnya fathir sudah tidak sabar ingin segera menjemput kesini..” jelas mama panjang lebar.
“iya ma, tidak apa-apa alhamdulillah sudah selamat sampai sini sekarang.” Saya berbicara sambil menutupi kegrogian saya depan mertua.
Kami pun langsung menuju rumah kami berdua dan beberapa malam kami disana. 4 hari saya dan suami bersama merupakan kesyukuran yang luar biasa, karena saya sudah mendapat penjelasan dan pengertian sebelumnya bahwa dia jarang pulang karena pekerjaan yang menuntutnya. Sebelum menikah saya hanya berfikir, ditinggal suami layaknya ditinggal otang tua bekerja.
Dan kenyataannya amat berbeda jauh dengan apa yang saya bayangkan diawal. Setelah hari ke 4 kami bersama di hari ke 5 suami harus pergi ke luar kota untuk lanjut bekerja. Awalnya saya merasa tegar dan melepas suami dengan senyuman, namun kenyataannya hati saya merasa sepi dan tidak bisa dipungkiri pikiran hanya terfokus pada suami. Dan apa boleh buat saya hanya bisa berkirim pesan kepadanya walau air mata mengalir dengan sendirinya.
Subhanallah walhamdulillah, inilah bukti janji Allah dalam firmanNya bahwasanya batin seorang wanita dan pria akan terikat kuat setelah adanya ucapan akad yang menjadi mistaaqon ghalidzaa. Saya pun menyadari betapa Agungnya Allah SWT dengan janjiNya atas syurga yang akan diberikan bagi istri sholehah yang sabar menanti suami, mendoakannya dan menjaga kehormatannya.
Beberapa bulan sebelum pernikahan, saya persiapkan mental dan ilmu dengan membaca beberapa buku persiapan pernikahan yang merupakan kado dari guru saya. Begitu luar biasanya Allah dalam menciptakan makhluqNya, pria dan wanita tidak bisa dipersamakan dalam perlakuan dan hal ini pula yang harus banyak diketahui para calon pengantin. Bahwa suami istri haruslah saling memahami dan mengingatkan.
“istriku, maaf ya saya selalu meninggalkan kamu hanya untuk kerja.” Ucapan suami saya ini membuat perasaan saya luluh dan bangga.
“mas, kata maaf tidak perlu ada untuk hal ini. Ini semua sudah kewajibanmu, saya pun sudah ridho untuk menerimamu dengan apa yang ada padamu sekarang. Pekerjaan ini merupakan tabungan amal dan harta untuk keluarga kita di masa depan, bekerjalah dengan semangat dan keluarkan kemampuan terbaikmu. Jangan lupa niat kita hanyalah untuk Allah, semoga semuanya barokah ya mas.” Entah dari mana kata-kata ini keluar dengan mengalir dari mulut saya, yang sebenarnya hati ini mencoba untuk tegar karena satu bulan harus berpisah dengan lelaki halal yang baru saja beberapa hari.
Kecupan di kening saya pun menjadi tanda bahwa suami akan selalu mendoakan saya agar kuat untuk segalanya, begitupun saya mencium punggung tangan suami dengan doa agar segala yang dihasilkan menjadi harta yang halal barokah untuk keluarga kecil kami.
Setiap hari tidak terlewatkan bagi saya untuk melihat layar hp hanya sekedar menunggu pesan darimu. Jujur saya rasakan bahagia teramat sangat ketika suami menelepon atau bahkan hanya memberi pesan. Seolah kontak di telepon genggam saya tidak ada sepenting suami dan orang tua saja.
Oh Allah, besar sekali nikmat yang Engkau berikan kepada kami. Ketika suami pulang, kebahagiaan saya sebagai istri pun tidak bisa diungkapkan. Dan satu yang ingin saya ucapkan “Syukurku padaMu Yaa Robb, karena Engkau telah menjadikan hamba istri dari Fathir hambaMu yang sholeh maka bimbing hamba agar bisa menjadi istri sholehah baginya.”














عَنْ اَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ: قَالَ رَسُوْلُ اللهِ ص:
اَكْمَلُ اْلمُؤْمِنِيْنَ اِيْمَانًا اَحْسَنُهُمْ خُلُقًا. وَ خِيَارُكُمْ خِيَارُكُمْ لِنِسَائِهِمْ. احمد و الترمذى و صححه
Dari Abu Hurairah RA, ia berkata : Rasulullah SAW bersabda :
“Sesempurna-sempurna iman orang mukmin adalah yang palingbaik akhlaqnya diantara mereka dan orang paling baik diantarakalian ialah orang yang paling baik terhadap istrinya”.
[HR. Ahmad dan Tirmidzi]





Tidak ada komentar:

Posting Komentar

IBU PEMBAHARU #2 : Konferensi Perempuan Indonesia 2023

Definisi Ibu Pembaharu itu sendiri adalah sosok ibu yang mampu menemukan masalahnya dan mengubahnya menjadi sebuah tantangan hidu...