“Pokoknya saya pingin nikah muda
deh..”
Mendengar pernyataan ini dari teman
kuliah memang tidak membuat saya kaget. Diusia saya sekarang memang sudah
menjadi pembicaaran yang hangat bagi teman seumuran saya tentang menikah. Walau
dilihat dari raut muka, belum lah terlihat keseriusan yang mendalam, tapi
adanya pernyataan seperti itu membuktikan adanya pemikiran mengenai hal
tersebut. Ok saya putar balik pada diri saya sendiri, bagaimana dengan saya?
Ketahuilah bahwa saya adalah anak
pertama dari empat bersaudara, orang tua memiliki impian dan harapan besarnya
pada saya. Walau impian dan harapan orang tua terhadap saya tidaklah sebesar
harapan dan impiannya kepada kedua adik laki-laki saya. Laki-laki bisa dibilang
bebas dan memiliki waktu yang panjang dalam kurun untuk berkeluarga, sedangkan
wanita jika sudah menikah maka Ridhonya ada bersama suami.
Ketika ada seorang lelaki mencoba
menghubungi dan memulai komunikasi via Facebook, kami hanya bisa berkomunikasi
dengan sedikit percakapan.
“apakah benar ini Annisa SMP 198??”
tanyanya pada saya.
“benar, maaf apakah ada yang bisa saya
bantu??” jawab saya singkat, karena kami sudahlah lama tak bersua dan dia
adalah teman sekelas saya di SMP kelas. Namun, memang tidaklah mengenalinya
secara dekat.
“bisa saya minta nomor hpmu??”
tanyanya lebih lanjut.
“boleh, 081xxxxxxx namun saya hanya
bisa dihubungi di waktu tertentu saja sekitar bulan september tanggal 20” jelas
saya singkat.
Ya, hanya sesingkat itulah kiranya
kami berkomunikasi. Sama sekali tidak ada pemikiran yang lebih untuk saya
pikirkan, karena setahu saya dia adalah seorang lelaki yang berkomitmen. Dia
hanya akan berbicara untuk sesuatu hal yang penting saja pada lawan jenisnya.
Memang sudah sekitar 9 tahun kami tak bertemu, dan di tahun lalu reuni SMP saya
belum sempat ikutserta. Mungkin ada sesuatu yang berhubungan dengan angkatan
kami di SMP yang ingin dia sampaikan, itu saja yang saya fikirkan.
Hari ini September tanggal 23, telepon
genggam saya berdering dari nomor yang belum ada di daftar kontak. Saya pun
mengangkatnya.
“assalamu`alaikum” sapa saya dengan
suara yang resmi.
“wa`alaikumussalam, ini dengan
annisa??” suara dari sana pun terdengar jelas bahwa dia seorang lelaki.
“saya Fathir, bagaimana kabarmu??”
lanjut pertanyaan darinya dan bertanya lagi mengenai beberapa hal perencanaan
saya di tahun ini. Walau saya rasa kenapa pembicaraan ini mengalir begitu saja
dan adanya kehangatan seolah teman yang sudah lama bertemu. Ingat, kami belum
pernah bertemu lagi semenjak lulus SMP dan sekarang kami sama-sama lulusan
universitas kami masing-masing.
Panjang dia bercerita mengenai
teman-teman kami yang sudah menikah sesama angkatan. Hati ini hanya bisa
beristighfar tanpa henti agar hati tetap terjaga dari perasaan-perasaan yang
tidak perlu hadir. Saya mulai mengeraskan suara dengan beberapa penjelasan yang
terlontar dari mulut ini secara spontan, ketika ada pernyataannya yang mengusik
ketenangan hati saya.
“Lah, kamu kapan nikah rencananya??”
tanya saya setelah penjelasan yang panjang lebar mengenai cita-cita saya untuk
lanjut S2 yang sedang dalam proses menunggu panggilan.
“Saya menikah rencanya tahun ini.”
Jawabnya singkat dan memancing saya tuk bertanya lagi.
“wah alhamdulillah, sama siapa nih?
Semoga saya bisa datang.” Tanya saya padanya.
“sama kamu.”jawabannya yang singkat
ini tidak membuat saya bahagia, namun memancing emosi saya walau saya hanya
bisa tersenyum sinis.
“apa maksud kamu? Kita sudah 9 tahun
tidak pernah bertemu lagi kita belum saling kenal, bahkan sama sekali saya
tidak pernah memikirkan atau ingat kamu sama sekali. Pernikahan bukan hal yang
kecil, dibutuhkan kesiapan mental fisik bahkan jiwa. Rumah tangga itu untuk
selamanya, butuh ilmu dan kesepakatan antara kedua pihak. Tidaklah menjadikan
satu dua insan, namun dua keluarga. Jadi jangan..” masih panjang penjelasan
yang saya sampaikan disertai emosi yang masih bisa saya kontrol. Dan anehnya
setelah saya berbicara panjang lebar, hanya terdengar suara senyum dengan
tenangnya diujung sana.
“saya juga engga tau kenapa bisa
seperti ini, ketika saya sholat malam dan selesai berdoa teringat aja sama nama
kamu dan akhirnya saya cari di Facebook. Alhamdulillah biidznillah saya bisa
berbicara sama kamu sekarang.” Jelasnya dengan suara yang bijaksana.
“baiklah, sebelum saya menikah saya
masih milik orang tua. Maka silahkan datanglah kepada orang tua saya jika
memang kamu berniat baik. Saya belum berhak untuk menjawab apa-apa dan orang
tua saya lah yang berhak untuk menjawabnya.” Pinta saya dengan penjelasan yang
ada di otak saya.
Itulah pembicaraan singkat kami yang
harus saya sampaikan kepada orang tua atas niat baiknya. Memang sudah ada
beberapa lelaki yang datang menghadap orang tua untuk mengajukan niat baiknya,
namun waktu dan kondisi yang belum tepat.
Teringat pada nasehat ayah saya dari
semenjak lama, bahwa sebagai wanita tidaklah boleh menolak niat baik seorang
lelaki. Karena sesungguhnya dia tidaklah berhak atas hal tersebut, namun hak
itu berada di tangan kedua orang tuanya. Tak lupa juga ayah menyampaikan
beberapa hal mengenai shalat istikhoroh. Bahwa sholat istikhoroh memberikan 3
jawaban :
1.
Adanya Nasehat
alim ulama mengenai pilihan terbaik
2.
Adanya
kecondongan hati kita pada pilihan terbaik
3.
Adanya mimpi
yang memberikan tanda pada pilihan terbaik
Tak lama setelah pembicaraan kami, dia
pun memberitahukan akan kedatangannya ke rumah untuk bertemu orang tua.
Nabi Muhammad
SAW pernah bersabda:
“Pilihlah keturunanmu.” Artinya, orang tua
perlu memerhatikan kriteria moral dalam memilih calon istri atau suami untuk
anak laki-laki dan perempuannya, dengan memeriksa orang tua dari pasangan anak
mereka nanti. Jika orang tuanya alim, tentunya anaknya juga demikian, dan
demikian pula sebaliknya.
(HR. Bukhari dan Muslim)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar